Cita-cita dan Realita

Kembali lagi bersama saya, Aisyah Dzulqaidah. Rencana menulis tiap hari ternyata sulit, walaupun pada hari Kamis kosong, tapi banyak prioritas lain yang tetap juga belum selesai dikerjakan. Jadi hari Kamis, tepatnya 2 hari lalu, saya tidak masuk ke kantor. Padahal sehari sebelumnya sudah bertekad untuk masuk ke kantor dengan semangat karena ada story yang menarik, yaitu spike untuk mencari tahu bagaimana membuat tampilan yang adaptif di iPhone dan di iPad. Oh iya, story itu adalah satuan pekerjaan yang berisi spesifikasi dan tujuan dari pekerjaan yang harus dikerjakan, dan ada di aplikasi manajemen proyek, kalau di kantorku, pakai Pivotal Tracker, ada juga contoh lain yaitu Asana. Kalau di tugas kuliah dulu, mungkin bisa diibaratkan seperti pembagian tugas terkecil yang bisa kamu kerjakan. Jadi pekerjaan dibagi-bagi sama Project Manager dan ada level prioritas dan tingkat kompleksitasnya masing-masing.
Kalau spike, itu semacam tugas untuk mencari tahu teknik atau kompleksitas teknis dari fitur yang mau kita buat. Jadi seru sih saat spike itu kita bisa banyak membaca dan mencoba coba sebelum mengerjakan fitur.

Namun mungkin karena terlalu bersemangat sehingga kurang tidur dan akhirnya suhu badan naik. Akhirnya memutuskan untuk bolos izin sakit. Namun, aku lupa satu rule yang berlaku semenjak kecil hingga sekarang, kalau sakit terus di rumah malah makin sakit. Mungkin karena jadi dirasa-rasain wkwkwk. Jadilah di rumah tidak banyak hal yang dikerjakan.

Memang kadang realita tak sesuai ekspektasi. Cita-cita dan realita pun lebih sering berbeda. Dahulu, aku masih ingat kalau ditanya sama teman-teman atau guru mau jadi apa, pasti bilangnya mau jadi profesor. Tidak tahu sih kenapanya, mungkin karena profesor itu pintar dan aku waktu itu terobsesi menjadi orang pintar haha. Soalnya ibuku pernah bilang, kalau harta tidak ada, cantik pun tidak, apalagi yang bisa dibanggakan? Memang ibuku kalau bicara selalu jujur wkkwkw.

Sekarang sih sudah tidak terlalu berminat untuk menjadi profesor walau peluang masih selalu ada, karena selain sulit, aku sudah ada minat kepada hal lain, yaitu menyelami rekaayasa perangkat lunak namun bukan di bidang akademik, lebih ke praktisi. Apa yang sekarang dikerjakan sebenarnya sudah menjadi apa yang diinginkan. Dulu waktu SMP atau SMA suka mainin ponsel orang dan lihat aplikasi dan permainan di ponsel itu menarik dan tertarik untuk mengembangkannya suatu saat nanti (Mobile Developer), namun keinginan itu pun sebenarnya terlupa saat lulus SMA, karena saat itu lagi sukanya Matematika *mungkin karena nilai yang paling bagus itu XD*. Alhamdulillah diberikan jalan oleh Allah SWT untuk menempuh pendidikan di Teknik Informatika pada akhirnya.

Tapi tidak langsung setelah lulus bisa menjadi mobile developer. Saat kuliah, minatku untuk menjadi developer ada di persimpangan, karena merasa tidak ahli dan tidak mampu. Padahal siapa juga yang ahli pada awalnya. Aku pun memilih karir sebagai Quality Assurance Engineer / Test Engineer selama 3 tahun dan aku pun sangat menikmati itu. Aku sudah memikirkan bagaimana dan apa yang mau aku pelajari selama beberapa tahun ke depan. Namun takdir berkata lain, karena ada perubahan proyek dan iOS developer sedang dibutuhkan, atasanku pun meminta aku untuk pindah ke iOS Developer walau aku belum pernah belajar Swift *bahasa yang digunakan* sama sekali. Dia bilang kalau selalu ada super junior di setiap tim, catatlah dan belajar. Kata-kata itu membuatku semangat. Aku jadi ingat cita-citaku yang dahulu itu. Alhamdulillah diberikan jalan oleh Allah SWT.

Aku jadi ingat, kata guru mengajiku saat kecil kalau tidak semua doa langsung dikabulkan, ada yang ditunda hingga saat yang tepat, ada juga yang tidak dikabulkan tapi diganti dengan yang lebih baik. Mungkin aku masih bisa menjadi profesor. Siapa yang lebih tahu selain Allah SWT? Yang aku tahu sekarang yaitu menerima realita dan mensyukurinya. Jadi tidak apa-apa kalau yang kita dapatkan sekarang tidak sesuai apa yang diinginkan. Insya Allah itu yang terbaik. Belum tentu itu hasil akhirnya, tetap berjuang dan jangan putus asa. Salam Olahraga

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

2 thoughts on “Cita-cita dan Realita”

  1. Salah satu keinginan saya adalah ngeblog ala suka-suka—yang biar disiplin ‘sepait-paitnya’ satu artikel tiap bulan. Tapi, yah, ‘masih cita-cita’ 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s