Masih Banyak Orang Baik di Jakarta

Hari ini, Selasa 14 Mei 2019,  diawali dengan bangun untuk siap-siap sahur sekaligus menghangatkan makanan. Makanan yang dibeli tadi malam. Alhamdulillah masih enak. Mba Widya, selaku teman kantor dan juga teman satu kosan bertandang ke kamar. Karena sambil mengobrol dan menonton, jadi tidak berasa tiba-tiba sudah mau Subuh. Setelah melakukan kewajiban, dilema pun melanda, mau tidur lagi atau melakukan hal lain karena perlu berangkat pagi untuk kontrol kawat gigi di Depok. Alasan menggunakan kawat gigi dan harus di Depok akan saya tulis di sesi khusus kalau rajin dan sempat.

Janji kontrol dengan dokter pukul 08.00. Berangkat dari kosan sekitar pukul 06.30. Karena takut telat, jadi naik transportasi motor online dari kosan menuju Sudirman. Sesampainya di Sudirman, tak sampai 10 menit kereta pun datang. Alhamdulillah akhirnya sampai klinik di Depok pukul 07.45. Kemudian bertemu dengan dokter sampai 08.30an dan berangkat ke kantor setelah itu.

Sesampainya kereta dari Depok ke Stasiun Karet, saya langsung memesan transportasi motor online agar bisa ke kantor lebih cepat dibanding naik transportasi lain. Saat keluar dari stasiun Karet, nama saya tiba-tiba dipanggil oleh salah satu pengemudi ojek online. “Kak Aisyah! Kak Aisyah!”. Spontan saya langsung menemui sang pemanggil. Saat menemui, saya merasakan ada yang aneh. Abang ojek itu mengenakan jaket perusahaan dari penyedia layanan ojek online yang berbeda dari yang saya pesan. Saya pun menanyakan apakah tujuan alamatnya sama dengan tujuan saya. Ternyata benar salah. Alhamdulillah belum sampai naik dan berangkat. Setelah beberapa lama, saya pun menyadari kesalahan saya. Saya kan tidak menuliskan nama asli di aplikasi ojek online itu. Saya menggunakan nama panggilan komersil, Adzul, sehingga lebih sering dipanggil Bapak saat di-chat oleh ojek online. Harusnya saat dipanggil Aisyah ya pasti bukan saya, hoho.

5 menit kemudian, datang juga ojek online yang saya pesan. Dia memanggil, “Kak Adzul!”. Siapa lagi kalau bukan saya, *sombong*. Motornya tinggi, jadi kepala saya berasa di awang-awang wkwk. Saya menikmati perjalanan walau macet. Nah, kalau menikmati perjalanan seperti ini kadang ada-ada saja hal yang terjadi. Pernah dulu saat naik angkot saat saya terlampau senang menikmati jalan, tiba-tiba bertemu seorang ibu-ibu yang sepertinya sedang kurang sadar, sehingga memukul saya di wajah. Nah sekarang beda lagi. Saya tiba-tiba dipanggil ibu-ibu di jalan. “Kak, HPnya jatuh!”. Motor saya pun berhenti. Saya kaget karena saya tidak sadar HP saya terjatuh. Saya pun kemudian ingat kalau saya menaruhnya di kantung jaket jeans. Ternyata HP saya jatuh cukup jauh dari tempat saya berhenti. Sebelum ibu itu memberikan informasi lainnya, saya sudah pasrah karena kemungkinan HP saya mungkin sudah terlindas atau sudah diambil orang. Kemudian ibu itu berkata kalau HP saya diambil oleh Mas-mas berjaket merah dan membawa paket. Kata beliau, dia sedang menuju ke sini.

Bersama abang ojek online, saya menunggu mas-mas tersebut sambil melihat-lihat beberapa kendaraan lalu-lalang. Akhirnya mas-mas itu pun datang, dengan ciri-ciri yang persis: jaket merah, membawa paket. Dia pun menyerahkan HP tersebut dan pergi. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Saya pun tidak sempat memberikan balasan ataupun meng-capture agar suatu saat nanti bisa membalas jasanya. Semoga rezeki Mas-masnya lancar terus. Saya pun melanjutkan perjalanan. “Wah orang-orangnya baik banget ya, HP-nya masih dikembalikan”, ujar ojek online tersebut. Dilanjutkan lagi, “Makanya Neng jangan ditaruh di situ lagi”. Iya benar, saya memang ceroboh sekali hari itu. Padahal biasanya saya paling takut kalau menaruh HP di kantung. Mungkin karena hari itu saya mengantuk. Alhamdulillah HP tersebut masih rezeki saya. Dan tentunya, Faith in Humanity restored. Alhamdulillah masih ada orang-orang baik di Jakarta.

Tidak hanya orang-orang yang membuat HP saya kembali yang merupakan orang baik di Jakarta. Teman-teman pairing kerja saya juga termasuk orang-orang baik di Jakarta. Buat yang belum tahu, kantor saya menggunakan Pair Programming sehingga pekerjaan dikerjakan berpasangan. Hari ini seharusnya teman pairing saya tersebut bisa kesal. Saya izin datang telat karena dari dokter gigi. Pulangnya pun izin cepat karena mau buka bersama dengan mantan tim saya terdahulu (masih satu kantor). Saat kerja pun saya super tidak konsentrasi karena mengantuk berat. Karena saya baru di pekerjaan ini, iOS Programming, saya pun banyak bertanya dan tidak langsung mengerti. Saat mengerjakan pun jadi agak lama memroses karena super mengantuk. Saya pun kesal dan malu mengingat kelakuan saya tersebut, haha. Namun teman pair saya itu memang sangat baik dan memaklumi hal tersebut. Masih sabar memberi tahu dan memberi petunjuk untuk bisa mengerjakan story, bahkan masih bisa sambil senyum.

Begitu cerita hari ini. Pelajaran yang bisa diambil yaitu cukup tidur itu penting dan lebih berhati-hati dalam menaruh barang. Satu lagi, masih banyak orang baik di Jakarta :D.

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

One thought on “Masih Banyak Orang Baik di Jakarta”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s