Memasang Kawat Gigi

Waah liburan sebentar lagi berakhir. Mungkin intensitas menulis akan berkurang, padahal baru saja dimulai, wkwk. Kali ini mau cerita alasan dan bagaimana memasang kawat gigi alias behel. Tentu saja ini bukan tutorial cara pemasangan secara teknis bagaimana menempelkan bracket dan kawatnya ke gigi, karena yang memasangnya dokter gigi, tapi lebih ke kronologi dan tahap apa saja yang perlu dipersiapkan sampai dipasang oleh dokter.

Semuanya berawal dari…

.. tadi. Sebenarnya sudah lama sudah direkomendasikan untuk pasang kawat gigi dari teman atau keluarga disebabkan posisi gigi atas yang tidak rata, sebagian kanan posisinya benar sebagian kiri lebih mundur. Saya tidak hiraukan langsung karena biayanya yang tidak murah. Selain mengeluarkan uang untuk pemasangannya, kita juga perlu mengeluarkan biaya untuk kontrol giginya. Saya pun berpikir nanti sajalah kalau sudah punya uang hasil kerja sendiri.

Saat sudah kerja pun tidak langsung memasang behel karena saya pikir hanya kepentingan estetika saja dan sepertinya menyiksa diri kalau dengar kabar-kabar yang berseliweran.

Sampai suatu hari…

.. gigi saya sakit sekali. Biasanya saya diamkan saja dan minum obat sakit gigi (e.g Ponstan), karena malas (atau takut? XD) ke dokter gigi. Lebih ke malas sih, karena malas mengurus-urus reimburse dan kalau bayar sendiri pun sayang juga. Setelah asuransi outpatient kantor menjadi cashless alias pakai kartu saja, jadi lebih rajin ke dokter, wkwk. Saat gigi sakit itu langsung periksa ke klinik dokter gigi yang tidak terdekat dari kosan atau kantor, tapi terkenal bagus. Akhirnya di sana ada beberapa gigi yang perlu ditambal dan ada dua gigi yang belum tahu bisa ditambal atau tidak dan perlu dirontgen. Karena klinik dokter gigi tersebut tidak ada alatnya, saya pun diberi surat rujukan untuk ke rumah sakit yang ada alat rontgen gigi atau ke tempat pusat diagnosa (e.g Parahita, Pramita). Karena sakit giginya sudah berkurang dan saya belum menyempatkan diri untuk rontgen, akhirnya berbulan-bulan terlupa hingga sakit gigi datang lagi *dasar manusia*.

Agar lebih mudah ke kantor akhirnya ke dokter gigi di rumah sakit yang dekat dengan kantor. Di rumah sakit itu, saya ke dokter gigi terlebih dahulu untuk mengecek kondisi gigi. Saat bertemu dokter gigi itulah saya diberi nasihat untuk menggunakan behel supaya lebih rapi. Tetapi karena alasannya lebih karena alasan estetika, saya tidak terlalu tergugah saat itu walau tetap terpikirkan. Dari dokter gigi tersebut, saya diberitahu untuk rontgen di rumah sakit yang sama dan diberi rujukan untuk cabut gigi ke dokter bedah mulut.

Saat di dokter bedah mulut, saat melihat hasil rontgen, saya diberi nasihat lagi untuk memakai behel. Dokter itu kurang lebih bilang seperti ini:

Posisi gigi kamu ini bisa memengaruhi syaraf. Mungkin tidak terasa sekarang, tetapi nanti akan terasa, seperti sakit kepala atau pusing karena pergerakan rahang yang tidak tepat. Pakai behel bukan cuma karena estetika saja, cantik itu hanya efek samping.

Dokter itu seperti memahami isi hati saya, wkwk. Setelah itu, saya mulai menyusun rencana untuk memasang kawat gigi.

Pemilihan Tempat

Akhirnya saya cari tempat pasang kawat gigi yang terjangkau tapi bagus dan terdekat. Definis dekat ini sebenarnya perlu dipertanyakan seharusnya. Waktu itu saya hanya terpikirkan untuk mencari yang terdekat di rumah, padahal lebih sering di kosan dibanding di rumah. Setelah melihat-lihat di media sosial dan review-review di blog, pilihan saya jatuh di FDC. Lokasinya ada banyak, saya mencoba mengunjungi dua tempat, di Bogor dan di Depok. Setelah melihat-lihat lokasi di Bogor ternyata cukup jauh dari stasiun, perlu naik angkot satu kali dan melewati pusat macet alias kebun raya. Akhirnya memutuskan untuk memasang kawat gigi di FDC Depok yang hanya perlu jalan kaki dari stasiun Depok. Mengapa perbandingannya dari stasiun? Karena rumah saya di Bojonggede yang kalau mau kemana-mana lebih praktis kalau menggunakan kereta rel listrik (KRL)

Perbandingan kedua tempat dari stasiun terdekat.

Proses Persiapan Pemasangan

Setelah memantapkan pilihan tempat pemasangan. Saya datang ke sana dan berkonsultasi terlebih dahulu. Ternyata banyak jenis behel yang bisa dipilih berdasarkan jenis bahan penyusunnya. Ada metal, ceramic, sapphire, dan damon, untuk lebih lengkapnya bisa baca di sini. Saya sebenarnya bingung memilihnya. Setelah konsultasi dengan dokter giginya, behel yang paling cocok dengan masalah gigi saya adalah mini diamond braces, salah satu jenis behel metal yang bentuknya lebih kecil dan lenih kuat dibanding behel metal lainnya. Harganya tak semahal behel crsytal atau damon yang bisa sampai belasan juta. Untuk behel mini diamond braces ini saya perlu membayar biaya Rp4.650.000,00 (sudah diskon 500ribu, harga aslinya Rp5.150.000,00). Tidak perlu membayar penuh di awal, tapi kita diharuskan membayar uang muka minimal 500ribu (berlaku 3 bulan) dan dibayar lunas saat pemasangan. Saya tidak dapat memasang kawat gigi saat hari itu juga karena diperlukan rontgen Cephalometric dan Panoramic. Hari itu saya hanya membayar uang muka dan cetak gigi. Cetak gigi dilakukan menggunakan bahan semacam gips, saya hanya membuka mulut dan dokter memasukkan bahan tersebut dan kemudian dikeluarkan. Tidak sakit, hanya saja kalau orang yang mudah mual akan sedikit mual, tapi jangan khawatir, prosesnya hanya sebentar.

Sebenarnya saya sudah pernah melakukan rontgen gigi sebelumnya, tapi hanya panoramic dan itu pun hasilnya ada di rumah sakit, tidak saya ambil, sehingga perlu melakukan rontgen lagi. Saya pun melakukan rontgen di diagnostic center terdekat dengan kos. Harga untuk kedua rontgen tersebut sebesar Rp560.000,00. Kalau dijumlahkan, total pemasangan menjadi Rp5.210.000, 00 di luar ongkos tentunya.

Pemasangan

Saat pemasangan, saya baru sadar ternyata dokter yang saya pilih tidak ada jadwal di sabtu atau minggu atau senin, yang berarti saya perlu izin masuk telat kantor. Selain itu, saya pun berangkat dari kosan, sehingga saya perlu bolak balik jakarta-depok untuk kontrol behel. Sebuah kesalahan yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Tetapi, saya tetap senang karena lokasinya tidak jauh dari stasiun, jadi hanya perlu naik kereta *sejauh apapun itu* dan jalan kaki.

Saat datang ke klinik untuk pemasangan, saya diminta untuk memilih warna karet. Setelah itu, gigi dibersihkan (scaling) dan kemudian dokter menempelkan satu persatu bracket ke gigi saya sambil melihat model cetakan gigi saya dan kemudian memasangkan kawat dan karet lalu dikencangkan. Proses pemasangannya tidak terlalu lama, kurang lebih 30 menit. Saat dipasangkan, dokter memutar lagu supaya tidak bosan, dan ajaibnya selera lagunya mirip denganku jadi cukup menyenangkan. Saya mencoba menyanyi dalam hati supaya saya tidak tidur XD *karena rebahan*. Selain behel, saya juga dipasang semacam tambalan di gigi belakang untuk mencegah gigi atas dan gigi bawah bersatu agar gigi yang mundur bisa maju dan tidak terhalang gigi bawah. Kalau kata teman pairing saya istilahnya giginya itu lagi dipingit, wkwkwk.

Setelah dipasang, saya langsung melihat kaca. Tidak banyak berubah, karena behel mini diamond ini kecil, jadi tidak membuat saya terlihat seperti menyimpan sesuatu di dalam mulut. Walau begitu, tetap terasa ada benda asing di dalam mulut. Saat sampai di kantor pun tidak banyak yang menyadari, wkwk.

Setelah Pemasangan dan Kontrol

Saat hari-hari pertama memakai behel, saya hanya bisa memakan yang lunak, bahkan hanya bubur karena belum bisa mengigit dan mengunyah dengan baik. Mulut pun banyak yang sariawan, tapi karena saya sudah terbiasa jadi tidak terlalu menyiksa. Setelah satu minggu, saya mulai makan normal. Saya banyak mendengar dan membaca kalau orang yang pakai behel di awal-awal akan turun berat badan drastis. Tetapi memang saya ini outlier, saya tidak mengalami itu karena saya paksa makan walaupun sakit, sampai-sampai ganjalan giginya lepas dan satu bracket melayang *literally melayang karena tidak menempel di gigi tapi menempel di kawat*, wkwkwk.

Setelah satu bulan berlalu, saya kembali ke klinik untuk kontrol. Saya diminta untuk memilih warna karet lagi. Saya mengganti warna karet dari navy menjadi maroon. Selain mengganti karet, bracket yang kemarin lepas ditempelkan kembali dan dikencangkan. Saya masih diberikan ganjalan gigi karena gigi atas yang mundur belum maju sepenuhnya. Setelah dikencangkan, kalau orang bilang makan akan susah lagi dan nyeri, tapi saya tidak merasakannya, mungkin karena sudah terbiasa menahan sakit gigi XD. Untuk kontrol, saya seharusnya membayar Rp250.000,00 namun karena saya sudah mendaftar menjadi member, saya mendapatkan diskon 20% sehingga hanya perlu membayar Rp200.000,00.

Apakah ada perubahan selama 2 bulan ini?

Ada. Gigi bawah saya mulai terbentuk *kalau kata dokternya*. Gigi atas yang mundur sudah mulai menyatu dan terlihat walau belum maju sepenuhnya. Nyeri dan pusing pun berkurang kecuali saat stuck coding wkwk. Saya niatnya mau menampilkan foto perubahannya, tapi takut disgusting wkwk. Next time saja kalau sudah banyak perubahannya.

Terimakasih sudah membaca XD

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

2 thoughts on “Memasang Kawat Gigi”

    1. kalau saya sih waktu itu warna putih,
      karena tambalannya cukup tinggi waktu itu susah sih, jadi makannya masih yang mudah untuk dikunyah.

      Awalnya memang penuh penderitaan, tapi setelahnya biasa aja hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s