Menerima Feedback

Tidak semua orang bisa menerima feedback (umpan balik) dengan baik. Begitu juga dengan saya. Pada awalnya, saya merasa sulit untuk menerapkan masukan dari orang lain. Seperti ada ego saya yang tersinggung. Jangankan untuk menerapkan feedback yang diberikan, saat mendengarkan saya lebih sering mencari alasan untuk menentang masukan tersebut dibanding mencernanya terlebih dahulu. Saya yang dahulu memang masih kurang banyak bergaul, tidak bisa mengontrol emosi, merasa paling benar dan yang lebih parah adalah saya lebih sering berpikir negatif atas maksud orang lain.

Saya mencoba mencari penyebab saya seperti itu. Saya mulai menganalisis masa kecil saya. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Saat masih kecil, saya sering bertengkar dengan adik saya yang pertama yang selisih umurnya hanya dua tahun. Saya selalu dimarahi karena membuat adik saya menangis. Saya tidak ingat apakah itu murni kesalahan saya atau bukan. Yang selalu saya ingat, yang lebih besar harus mengalah dan lebih banyak disalahkan. Selain itu, setiap saya tidak setuju akan sesuatu, orang tua saya lebih sering bilang untuk percaya saja dengan kata orang tua karena sudah berpengalaman dibanding menjelaskan dengan alasan yang benar-benar membuat saya mengerti dan menerima. Mungkin karena itu, saya menjadi skeptis dengan apa yang dikatakan oleh orang lain. Saya jadi lebih sering defensif. Saya sulit mengakui kesalahan saya sendiri.

Saya sering keluar untuk main dan dipercaya untuk menjadi ketua kelompok saat tugas sekolah. Bukan karena saya paling bijaksana atau mengayomi, tapi sepertinya karena saya saja yang mau. Saat masih sekolah, saya juga jarang aktif berorganisasi. Saya daftar banyak organisasi, tapi tidak ada yang saya benar-benar berkomitmen. Saya jadi kurang bagus dalam menghadapi masalah, mental pun saya lemah, karena saya lebih sering menghindari masalah. Saya sebenarnya iri dengan teman-teman saya yang jago berorganisasi, jago komunikasi. Iri saja, tapi tetap malas, wkwk. Salah satu alasan kenapa saya malas, karena saya lebih senang pulang ke rumah lebih cepat, mungkin karena efek rumah jauh dan ortu saya tidak terlalu suka saya untuk pulang lebih lama.

Hingga saat kuliah semua berubah. Saya jauh dari orang tua dan saya merasa sendirian kalau kupu kupu (kuliah pulang kuliah pulang). Saya pada awalnya tinggal di rumah nenek yang cukup jauh dari kampus. Saya ingin lebih banyak berorganisasi dan belajar menghadapi banyak orang. Saya memutuskan untuk masuk asrama pada semester dua, dan kemudian mengontrak dan kos dengan teman-teman kuliah.

Saat pertama kali tinggal bersama orang lain yang bukan keluarga sendiri, banyak adaptasi yang perlu dilakukan. Super Chaos. Saya yang jika di rumah kecewa akan sesuatu saya bisa hanya diam saja dan keluarga akan paham, di asrama/kontrakan saya tidak bisa begitu. Saya perlu mengkomunikasikan apa yang saya rasa dan saya pikirkan. Saya tidak bisa menunggu orang lain untuk memahami saya terlebih dahulu, dan saya baru sadar itu satu atau dua tahun kemudian setelah saya mencoba untuk memperbaiki diri dengan mempertimbangkan semua umpan balik yang diberikan oleh orang lain. Saya banyak belajar bagaimana mengelola emosi dan berpikiran positif dari teman teman sekitar saya. Alhamdulillah mereka tidak menjauh dari saya saat saya masih menjadi orang yang super sensitif. Sekarang masih sensitif sih, tapi sekarang lebih bisa dikendalikan. Alhamdulillah saya dipertemukan oleh mereka di asrama.

Saat masa masa tugas akhir, saya kembali mengalami masa krisis. Saya menghindar dari masalah tugas akhir saya dan menunda-nunda dalam pengerjaan. Saya menceritakan habit saya tersebut kepada dosen pembimbing saya dan dia memberikan masukan yang masih saya ingat sampai sekarang:

Kalau kamu mau memperbaiki kesalahan kamu, kamu harus menyadari kesalahanmu itu

Yang saya tangkap dari kata kata tersebut adalah saya perlu mengakui kesalahan tersebut. Saya tidak boleh nge-les atau mencari pembenaran atas kesalahan saya. Saat menceritakan masukan tersebut dengan teman saya, teman saya sangat setuju karena dia memerhatikan saya selalu mencari pembenaran saat diberitahu kesalahan saya. Saya lebih banyak nge-les dibanding memperbaiki diri. Intinya: tidak benar-benar mendengarkan feedback.

Setelah menyadari hal tersebut, saya mencoba untuk mendengarkan dengan baik segala masukan dari orang lain. Walau belum tentu semua masukan adalah benar, tapi seharusny saya cerna terlebih dahulu dibandingkan mencari alasan pembenaran. Sekarang, saya lebih senang jika orang langsung bilang apa kesalahan saya dibanding saya dibiarkan menyimpan kesalahan tersebut. Saya juga menyadari kalau saya juga perlu memberikan feedback kepada orang lain, karena mungkin saja dia tidak sengaja melakukan kesalahan tersebut atau ada alasan lain yang bisa kita bantu agar menjadi lebih baik. Intinya: saling menasihati dan tolong menolong dalam kebaikan.

Saya merasa beruntung di perusahaan sekarang feedback mudah didapat melalui proses pair feedback dan 1on1 dengan team lead. Saya bisa menceritakan keluh kesah dan masalah saya dengan cepat dan saya pun mendapatkan banyak masukan dari teman pairing dan team lead. Dari saya yang kurang inisiatif, saya yang kurang bagus dalam menjelaskan, saya yang mudah terdistraksi, kurang belajar, semoga saya bisa menjadi engineer atau bahkan manusia yang lebih baik lagi, aamiin!

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

2 thoughts on “Menerima Feedback”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s