Terlambat

Terlambat. Seperti pos ini yang harusnya selesai minggu lalu supaya rutinitas blogging tiap minggu terlaksana. Terlambat hampir seminggu karena saya tak sempat menulis akibat banyak bermain. Kantor memberikan tiket masuk On Off Festival secara cuma-cuma jadi saya manfaatkan saja. Setelah mengikuti acara tersebut saya menjadi sadar kalau saya sudah tidak mengikuti musik zaman sekarang, hihi.

Saat saya sedang bersepeda pagi-pagi untuk ke pasar, tiba-tiba saya terpikirkan sesuatu. Saya ingat bahwa saya pada tahun lalu tidak percaya bahwa saya bisa olahraga pagi-pagi. Saya sering tertidur lagi setelah Subuh. Saya pikir jam 5 terlalu gelap dan pagi untuk berolahraga. Apalagi kalau lari atau jalan kaki sendirian. Saya takut ada penjahat atau apalah itu yang bisa membahayakan saya jika olahraga jam segitu. Saya pikir solusinya adalah mengajak teman yang kebetulan satu kosan. Ternyata energi aktivasi yang dibutuhkan dia lebih besar dibanding saya, wkwk. Sebenarnya waktunya bisa digunakan untuk ngoprek atau baca buku sih, tapi godaan untuk tidur karena dekat kasur itu sangatlah besar.

Akhirnya saya terpikir untuk membeli sepeda. Saya pikir akan lebih aman karena saya bisa kabur dengan cepat kalau ada yang mencurigakan, wkwk *terlalu waspada*. Teman dan keluarga awalnya tidak yakin kalau sepeda adalah solusi. Palingan juga hanya di awal-awal dan selanjutnya tidak akan dipakai lagi. Saat mendengar keraguan itu, saya jadi semakin semangat untuk membuktikan saya akan rajin olahraga, hihihi. Pada awalnya memang berat, dan bermodalkan keraguan orang-orang saja, tapi lama-lama biasa juga. Ternyata jam 5-6 tidak ada orang yang mencurigakan. Kendaraan masih sedikit. Saya jadi mengenal tempat-tempat sekitar kosan. Pasar Mencos yang saya kira jauh ternyata dekat, padahal saya sudah lihat di peta lokasinya, hohoho.

Saya setahun lalu juga tidak pernah terpikirkan untuk memasak, bahkan masak mie, karena dapur ada di lantai 4. Yang saya bayangkan adalah betapa malasnya saya harus bolak balik turun naik dari kamar saya yang berada di lantai satu untuk memasak. Saya juga membayangkan saya malas untuk beli bahan-bahan ke pasar yang saya kira jauh, hoho. Bisa sih beli di supermarket, tapi harganya tidak semurah pasar. Intinya, saya sudah malas duluan sebelum mencobanya.

Kenyataannya tidak sesulit itu. Mungkin karena sudah terbiasa bangun pagi untuk sepedaan, jadi ke pasar bisa sekalian naik sepeda. Jam 5 – 6an pasar sudah ramai. Saya senang ke Pasar Mencos karena semuanya lengkap ada di sana. Tempatnya pun bersih dan teratur, tidak sulit untuk menemukan barang yang sudah dibeli karena sudah terkelompokkan, dimana tempat beli ayam, daging, sayuran, bumbu-bumbu, dll. Di sekitar pasar juga banyak jajanan XD. Masak di lantai 4 pun ternyata tidak selelah yang saya pikirkan. Kalau dulu saya selalu terengah-engah ketika sampai atas, sekarang sudah tidak lagi. Siapa takut bolah balik 4 lantai? wkwk

Saya merasa terlambat baru menyadari dan mencobanya akhir-akhir ini setelah sudah hampir setahun di kosan. Pelajaran yang bisa diambil adalah jangan terlalu banyak berpikir negatif dahulu sebelum mencoba. Kalau tujuannya untuk hal yang positif seharusnya berusaha dulu dalam mencoba. Mungkin awalnya berat, tapi lama-lama terbiasa.

Sama seperti saat belajar pemrogramanSaya seringkali berpikir terlalu lama dan akhirnya malah merasa sulit terus jadi tidak dimulai-mulai.  Padahal setelah dicoba, baru akan terpikir solusinya. Kurang lebih seperti gambar yang saya temukan di twitter ini:

EERLgDfUcAAFciC

Happy International Programmer’s Day! (13 September 2019)

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

2 thoughts on “Terlambat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s