Balas Dendam

Dari judulnya, terlihat sangat negatif ya. Mau cerita saja, kan tidak boleh dipendam sendirian. Jadi, bagi yang hanya mengenal saya sekilas, di kantor, di kampus, atau di sekolah saya terlihat sabar. Ya, dalam arti kalau ada teman yang mengesalkan, biasanya saya simpan saja dalam hati, dan tidak membalas langsung, intinya saya bisa mengelola emosi dengan baik kalau dalam mode publik. Beda lagi, kalau sudah di rumah atau di kosan, keluarga atau teman-teman saya sudah paham kalau saya sensitif dan cenderung mengeluarkan semua emosi saya.

Jadi, kalau dipikir-pikir sebenarnya saya tidak sepenuhnya bisa menghilangkan emosi emosi negatif, dan cenderung tidak bisa menerima dengan legowo apa yang mengganggu ketentraman hidup saya. Saya sering mencoba membalas apa yang orang lakukan kepada saya dan mencoba mengubah dan memperbaiki orang yang salah tersebut. Dari bebereapa pengalaman percobaan saya tersebut, saya menjadi sadar kalau hal itu adalah hal sia-sia. Setelah membalas, biasanya saya menyesal karena saya merasa saya jahat dan malah saya jadi merasa bersalah. Mencoba membuat orang lain menyadari kesalahannya pun sebenarnya hanya menghabiskan waktu dan energi saja. Jadi intinya menjadi reaktif itu menurut saya tidak baik, namun saya masih mencoba mencari tahu bagaimana mentransfer energi negatif yang ditimbulkan saat kesal atau kecewa karena dirugikan orang lain baik sengaja atau tidak sengaja. Intinya bagaimana agar tidak balas dendam dan melakukan hal yang lebih bermanfaat.

Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik  -Ali bin Abi Thalib

Awalnya saat membaca kutipan itu saya tidak mengerti maksudnya, mengapa bisa itu bisa disebut balas dendam. Saya berpikir lagi dan mencoba menyambungkan dengan pengalaman – pengalaman sebelumnya, balas dendam dengan mengeluarkan energi negatif ke orang itu sia-sia dan bahkan walau berhasil pun tidak membuat saya menjadi lebih lega, malah lebih banyak menyesalnya. Jadi, saat dikuasai oleh energi negatif, mari mentransfernya menjadi energi positif untuk memperbaiki diri kita. Sulit sih, easier said than done, tapi bukan berarti tidak mungkin.

Saya menulis ini bukan berarti saya sudah bisa menerapkannya secara penuh, tapi biar bisa jadi pengingat saya juga. Ada beberapa hal yang tidak bisa kita kontrol, tapi seharusnya kita bisa mengontrol diri sendiri, dan mengubah diri jadi lebih baik, aamiin.

 

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s