Coba Lagi dan Coba Lagi

Ini bukan mau menceritakan pengalaman saya menggosok undian berkali-kali dan mendapat tulisan coba lagi terus ya wkwkwk. Itu sih dahulu waktu sering minum minuman kemasan rasa buah-buahan yang bentuknya gelas. Kalau tidak salah namanya Frutang atau Ale-ale, saya lupa yang mana. Saya sering beli karena memang saya suka rasanya, apalagi kalau sudah jadi batu es. Segar sekali deh apalagi diminum saat jalan kaki dengan cuaca Bojonggede yang panas saat pulang sekolah. Ibu warung minuman sudah hafal dengan saya yang kehausan. Di atas minuman tersebut ada semacam kotak abu-abu yang bisa digosok dan jika beruntung ada hadiah uang total ratusan juta. Saya sih lebih sering dapat tulisan “Coba Lagi”. Eh malah jadi beneran diceritain wkwk

Jadi, minggu kemarin saya pergi ke Bandung *lagi* untuk menghadiri pernikahan teman seangkatan kuliah dan sedivisi Pengembangan Sumber Daya A̶l̶a̶m̶ Anggota. Selain itu, saya berniat untuk menerjemahkan transkrip dan ijazah sarjana saya sehingga saya perlu mengambil cuti satu hari di hari Jumat. Saya juga berniat untuk “balas dendam”, saat ke Bandung liburan tahun baru kemarin beberapa rencana saya tidak berjalan karena sakit, sehingga saya ingin lanjutkan di cuti kali ini.

Perjalanan cuti saya dimulai dengan niat menyelesaikan salah satu buku. Buku yang sempat saya baca sedikit awalnya namun saya berhentikan karena saya ada tugas membaca buku lain yang lebih relevan dengan pekerjaan, wkwk. Judul bukunya Educated dari Tara Westover. Saya berharap dengan membaca buku itu saya mendapatkan semangat kembali untuk belajar, wkwk. Dari buku itu, saya belajar banyak kosa kata Bahasa Inggris yang belum pernah saya dengar sebelumnya, yang kalau saya tidak buka kamus, saya tidak mengerti maksud satu kalimatnya sama sekali.

Oh iya, buku ini menceritakan perjalanan penulisnya untuk mendapatkan pendidikan. Dia berasal dari keluarga dengan kepercayaan yang membuatnya tidak dapat bersekolah dan tidak ingin berurusan pemerintah. Tidak punya akta lahir dan tidak pernah ke dokter, walau pernah kecelakaan parah dan sakit yang bikin saya geregetan: “Kenapa ga ke dokter aja sih”.

Hampir setengah buku lebih dia menceritakan masa-masa sebelum dia akhirnya bersekolah secara resmi di universitas. Bagaimana akhirnya dia mengejar ketertinggalan pelajaran, membiayai sekolahnya sendiri, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang jauh berbeda, dan akhirnya mau menerima bantuan uang dari pemerintah. Dari yang tidak pernah bersekolah, hingga meraih gelar Doktor di Cambridge. Dari apa yang dia ceritakan, keadaan keluarga dan lingkungan masa kecilnya, saya jadi mengerti apa maksudnya fungsi pendidikan: memanusiakan manusia. Saya juga menyadari saya selama ini banyak mendapatkan priviledge untuk mendapatkan pendidikan namun saya malah tidak memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh. Saya harus belajar lebih banyak dan lebih cepat lagi.

Wah saya jadi menceritakan buku ya, wkwk. Saat berangkat ke kampus untuk mengurus terjemahan ijazah dan legalisir, saya mampir dulu ke tempat fotokopi, karena salah satu persyaratannya adalah salinan yang akan diterjemahkan dan dilegalisir. Saat membuka map ijazah, saya kaget. Ijazah dan transkrip saya sudah ada terjemahannya! Ketahuan sekali ya saya tidak pernah membukanya XD. Saya memang belum pernah menggunakan ijazah saya, karena kebetulan tempat kerja saya tidak memintanya, karena saya bekerja dari sebelum saya wisuda. Saya hanya mendengar dari teman-teman saya, kalau mereka membutuhkan terjemahan untuk transkrip dan ijazah. Saya lupa kalau saya lulusnya lebih terlambat dari teman-teman seangkatan saya. Saat tahun saya lulus, transkrip dan ijazah sudah ada dalam dua versi bahasa. Akhirnya saya mengurus legalisir saja. Alhamdulillah.

Saat sampai kampus, saya kaget lagi. Ternyata loket tata usaha sudah tidak digunakan lagi dan berpindah ke front office fakultas yang ternyata ada di belakangnya. Saya awalnya kebingungan, di mana letak kantor depan tersebut karena gedung fakultas ada dua, Labtek 5 dan Labtek 8. Akhirnya saya menemukan petunjuk arah ke sana, dan ruangannya ternyata bagus sekali.

camphoto_1144747756
Front Office STEI tampak depan.
camphoto_1254324197
Ruang tunggu antrian
camphoto_1932422408
Mesin cetak tiket antrian

camphoto_684387517

camphoto_1804928587

 

Saya awalnya langsung menyelonong duduk saja di depan Mba Fuji (petugas front office yang ada di foto), lalu saya diminta mengambil nomor antrian terlebih dahulu. Karena tidak ada lagi nomor antrian sebelum saya, saya langsung dilayani. Prosesnya sangat cepat. Semuanya sudah didigitalisasi. Tidak perlu mengisi formulir seperti dahulu. Saya penasaran apakah masih mengumpulkan tugas akhir melalui tata usaha, dan ternyata masih. Mahasiswa masih mengumpulkan tugas akhir ke front office dan mengambil antrian untuk mengumpulkannya, wkwkwk. Saya hanya menghabiskan sekitar 10 menit untuk mengurus legalisasi ijazah, dan baru bisa diambil 3 hari kerja kemudian. Kalau penasaran alur dan biayanya bisa dilihat di link ini.

Selain mengurus ijazah, saya juga mencoba donor darah di PMI Bandung. Ternyata PMI Bandung lebih canggih dibanding PMI pusat Jakarta. Formulir sudah didigitalisasi dan lebih cepat dan mudah. Saya juga bisa melihat foto saya di monitor antrian wkwk.  Kalau mengikuti pos saya sebelumnya, pasti tahu kalau ini minggu ketiga saya mencoba donor darah wkwkwk. Setelah sebelumnya saya ditolak terus karena Hb rendah (10 di minggu pertama dan 11,4 di minggu kedua), di kali ketiga ini saya juga ditolak wkwkwk. Alasannya karena kadar hemoglobin saya masih belum memenuhi, yaitu 12,3 dari persyaratan 12,5. Sedikit lagiiiiii, padahal saya sudah yakin saya bisa memenuhi karena saya sudah mengatur makanan saya lebih cukup dan lebih sehat dibanding sebelumnya. ya sudahlah mari coba lagi minggu depannya di Jakarta.

Akhirnya saya mencobanya lagi. Jumat kemarin saya dan teman saya ke PMI pusat di Senen. Dan hasilnyaaaaa: Gagal lagi saudara saudara, wkwkwk. Kadar hemoglobin saya turun lagi ke 11,5. Teman saya lebih rendah lagi. Padahal kami sudah masak makanan sehat sendiri, wkwk. Sepertinya kami perlu menghadirkan menu daging dalam menu masakan kami, wkwk. Karena kami sudah sedikit putus asa, kami akhirnya memutuskan untuk meminum vitamin zat besi, Sangobion. Semoga minggu depan kami bisa lolos ya! aamiin

 

P.S :

Saya sebelumnya penasaran mengapa kalau di form selalu ada tulisan penghargaan donor yang pernah didapatkan yang ditandai dengan jumlah berapa kali donor. Memang kalau sudah 100 kali dapat apa gitu. Saya baru sadar kalau di pojokan PMI pusat ada pohon yang daunnya bertuliskan nama pendonor yang sudah mendonorkan darahnya 100x. Seperti ini :

IMG_5891 2

Kalau saya hitung-hitung, interval setiap pendonoran kurang lebih 3 bulan (belum dihitung kalau ditolak terus seperti saya ini, wkwk) yang berarti dalam setahun maksimal  4 kali. Untuk mencapai 100 kali donor berarti perlu kurang lebih 25 tahun. Waah lama sekali ya, perlu konsistensi dan persistensi dalam menjaga kesehatan.

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

One thought on “Coba Lagi dan Coba Lagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s