Peran Kegagalan Pada Kesehatan Mental

Terlihat seperti judul tugas akhir bukan? wkwk. Mari kita mulai bahas dari latar belakang. Seminggu kemarin saya merasakan ada yang salah dari diri saya. Saya merasa saya tidak bisa melakukan apa-apa dengan baik. Saya merasa ingin menyerah saja. Saya memandang rendah diri saya sendiri, berpikir tidak akan bisa melewati semua masalah yang sedang dihadapi. Saya merasa gagal di semua aspek. Padahal kalau direnungkan lagi sebenarnya dipicu dari hal yang sepele, tapi mungkin belum sepenuhnya healing dari masalah-masalah sebelumnya, jadi menumpuk dan meledak.

Saya menjadi super sensitif padahal tidak sedang masa PMS. Saya sempat sengaja pulang kantor lebih cepat dari teman-teman kosan saya karena sedang ingin pulang sendiri (terlihat wajar bagi sebagian orang, tapi saya lebih suka pulang bersama-sama). Saya ingin menangis di jalan dan langsung tidur sampai di kosan. Akhirnya saya tahan juga sih, saya masih merasa malu nangis di MRT wkwk. Sesampai di kosan, saya tidur hingga keesokan harinya. Tidur itu memang seperti tombol reset bagi saya. Emosi saya bisa benar-benar teredam setelah tidur. Saya bisa lupa dengan perasaan marah saya dan mood yang jelek. Saya pikir saya akan baik-baik saja setelahnya. Namun perasaan negatif saya kembali datang lagi. Saya tidak bersemangat, pesimis dan puncaknya saat hari Sabtu kemarin. Saya dan teman saya kembali mencoba donor darah. Saya sedikit yakin karena saya sudah minum sangobion berturut-turut dari beberapa hari sebelumnya, wkwk. Saya juga sudah merasa masak dan makan makanan yang bergizi, seperti ikan dan daging yang belum pernah ada di menu masakan sebelumnya wkwkk. Saat cek Hb, saya kembali ditolak dengan jumlah Hb yang menurun dibanding minggu sebelumnya.

Perjalanan pulang dari PMI terasa sangat menyedihkan. Saya kecewa, tapi saya juga tidak tahu mau kecewa sama siapa, karena saya merasa sudah berusaha. Saya menjadi menangis dan merenungi nasib hanya karena gagal donor darah. Saya mencoba tidur terlebih dahulu untuk menenangkan diri. Selepas tidur perasaan saya tidak terlalu membaik. Saya mencoba membuka sosial media. Melihat beberapa postingan teman, saya malah tambah sedih. Akhirnya saya deaktivasi beberapa sosial media saya yang bisa dideaktivasi seperti fb, twitter, dan instagram yang hanya bertahan sehari.

Saya akhirnya menghabiskan banyak waktu dengan tidur. Saya mencoba mempercepat waktu. Saya pikir saya perlu ke psikolog di kantor, namun jadwalnya masih minggu depan. Saat melihat daftar e-book di hp saya, saya teringat bahwa saya memiliki satu buku yang relevan dengan permasalahan saya sekarang. Judul bukunya adalah Emotional First Aid: Practical Strategies for Treating Failure, Rejection, Guilt, and Other Psychological Injuries. Buku ini ditulis oleh Guy Winch, psikolog berlisensi di New York.

Guy WInch.jpeg

Isinya mengenai penjelasan efek samping dari beberapa masalah yang kita temui sehari-hari yang dapat memberikan efek psikologis kepada manusia. Tidak hanya menjelaskan mengenai efek sampingnya, tapi juga strategi treatment yang dapat dijadikan pertolongan pertama untuk mengurangi dampak psikologis yang ditimbulkan. Sama seperti dengan luka fisik, luka mental juga diperlukan pertolongan pertama agar tidak memberikan efek psikologi lebih dalam jika tidak ditangani dengan cepat. Saya sempat menonton video TED yang dia berikan (kalau mau nonton bisa lihat di link ini). Setelah menonton itu, saya jadi paham kalau kesehatan mental itu perlu di-treat yang sama dengan kesehatan fisik. Orang banyak yang tidak menyadari bahwa physical injuries seperti failure (kegagalan), loneliness (kesendirian) atau rejection (penolakandapat memberikan pengaruh signifikan kepada kehidupan.

Screen Shot 2020-02-17 at 20.40.39.png

Ada beberapa psychological wounds yang dibahas yaitu: rejection (penolakan), loneliness (kesendirian), loss (kehilangan) & trauma, guilt (perasaan. bersalah), rumination (perenungan), failure (kegagalan), dan low self-esteem. Saya belum membaca semuanya. Saya baru membaca sebagian dari yang saya butuhkan yaitu bagian bab failure dan rumination. Rumination itu maksudnya terlalu banyak memikirkan atau merenungi hal-hal negatif. Saya memang senang sekali memikirkan kejadian yang telah lalu dan mengharapkan saya bisa memperbaikinya. Tidak hanya itu, saya selalu merasa itu adalah kesalahan saya yang tidak berusaha dengan baik.

Saya sebenarnya ingin membahas efek samping dan treatment untuk rumination dan failure ini berdasarkan buku tersebut. Namun karena saya rasa pos ini sudah panjang. Nantikan saja di pos selanjutnya hehe (siapa juga XD). Sejauh ini (baru dua hari sih), buku ini membuat pikiran saya lebih terbuka dan berhenti untuk melukai mental diri sendiri. Ambil pelajaran dari kegagalan dan berhenti memikirkan hal-hal yang bisa membuat hati semakin sakit atau semakin sedih. Belum sepenuhnya dipraktekkan, tapi sudah sedikit lebih baik. Semangaaaat!

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s