Death

Tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya kematian akan datang, bahkan untuk yang mencoba untuk memaksakannya untuk datang. Tidak pasti orang yang lebih tua yang akan mengalaminya terlebih dahulu atau orang yang sedang sakit keras belum tentu akan mendapatkan kematiannya duluan. Anak-anak muda yang terlihat sehat bisa saja sudah tiada. Caranya bisa dengan berbagai macam, bisa dengan kecelakaan, bencana, serangan jantung atau salah meminum obat.

Saat umur sekolah, saya sangat takut akan kematian yang datang tiba-tiba karena ada keluarga dan beberapa teman yang dipanggil terlebih dahulu secara mendadak. Semuanya masih muda dan umurnya tidak terlalu jauh dari saya saat itu. Saya dulu memiliki tetangga yang mengidap kanker mata. Umurnya lebih muda dari saya saat itu, sekitar 4-5 tahun mungkin, saya tidak tahu tepatnya. Saya kaget saat rumah saya diketuk di malam hari, tetangga saya yang lain mengabarkan kabar duka bahwa tetangga saya itu meninggal dunia. Dan ternyata, bukan karena sakit kankernya itu yang menyebabkan kematiannya melainkan karena tersedak saat minum obat.

Saya juga memiliki tetangga yang umurnya lebih tua dari saya dua tahun. Teman saya main bareng saat masih kecil. Almarhumah baik sekali dan tidak sombong walau kaya raya, dia selalu mengajak saya main ke rumahnya dan memainkan mainannya yang bagus. Saya menganggapnya sebagai kakak saya, karena saya tidak punya kakak. Tibalah suatu saat, masa-masa saya harus mendaftar sekolah ke SMP. Saya masih ingat dia menelepon pada sore hari memberikan saya saran untuk mendaftar sekolah ke SMP yang sama dengan dia. Dia masih terdengar sehar, saya tidak menyangka malam harinya tetangga saya mengetuk rumah lagi mengabarkan kabar duka. Teman saya itu meninggal dunia karena kejang yang diakibatkan salah minum obat: beliau minum panadol dan obat batuk sekaligus.

Selain tetangga saya yang saya sudah anggap kakak tersebut, saya juga memiliki teman lain yang dekat sejak saya masih kecil. Dia seumuran dengan saya, lebih tua beberapa bulan saja. Rumahnya di belakang rumah saya, satu RT dengan saya. Teman bersepeda kapanpun, yang pernah saya ceritakan di tulisan lama kalau saya berjualan juga dengannya. Saya dengannya memiliki beberapa kesamaan. Ayah saya dan ayahnya sama sama berasal dari pulau Sumatera. Rumah neneknya dekat dengan rumah nenek saya di Bandung. Kami pernah berencana untuk bersekolah atau berkuliah di Bandung. Sayangnya saat awal SMA, saya mendapatkan kabar duka lainnya. Saya masih ingat guru mengaji kami berdua berlari menuju rumah saya dan berteriak memanggil saya di pagar. Dia meninggal dunia karena penyakit maagnya, terlalu terlambat untuk dibawa ke rumah sakit. Selain teman saya tersebut, beberapa bulan sebelumnya ada tetangga yang meninggal dunia karena maag kronis juga.

Kematian lainnya yang mendadak yang pernah saya lihat adalah saat SMA, saya sedang menunggu kereta di peron di stasiun. Saya sedang menunggu kereta dan tiba-tiba kereta datang. Saya melihat ke arah rel dan tiba-tiba ada ibu hamil bersama lelaki yang sedang menyebrang. Lelaki tersebut beruntung bisa selamat karena dia bisa berjalan dengan mudah. Sayangnya, ibu hamil tersebut terserempet dan terlempar ke dinding stasiun, meninggal dunia saat itu juga. Saya saat itu terdiam. Saya melihat kematian mendadak di depan saya.

Dari kejadian-kejadian tersebut, saya merasakan kematian bisa datang kapanpun, di manapun, dan pada siapapun. Tidak membuat saya lebih berani, tapi lebih menghargai kehidupan. Saya berpikir bahwa saya masih diizinkan hidup hingga hari ini pasti ada alasannya. Setiap saya merasa down dan sangat sedih, saya tidak ingin mengakhiri kehidupan saya oleh saya sendiri. Bukan hanya karena hal tersebut dibenci oleh Allah SWT, saya juga merasa bahwa saya sangat beruntung masih diberi kesempatan hidup untuk meraih cita-cita saya dan kesempatan untuk mencari pahala lebih banyak. Sesuatu yang diinginkan oleh teman-teman saya yang telah pergi tersebut, dan juga oleh keluarga yang ditinggalkannya. Setiap saya bertemu dengan keluarga mereka (terutama ibunya), saya selalu mengingatkan dia kepada anaknya. Mungkin kalau masih hidup, dia akan sebesar ini juga, melakukan hal ini, dll. Tidak terbayang betapa kecewanya mereka (apalagi keluarga saya tentunya) kalau saya malah tidak ingin hidup. Saat saya merasa tidak memiliki tujuan untuk tetap hidup, saya selalu mengingat hal ini. Stay Alive.

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s