Sedih

Minggu ini saya mengalami rasa kesal, resah, dan gelisah. Bukan sedang menunggu di sudut sekolah, melainkan karena kabar-kabar dan masalah yang saya hadapi minggu ini. Masalah pertama sebenarnya sederhana namun cukup mengesalkan, internet di kosan mengalami gangguan. Semakin mendekati akhir bulan, internet semakin tidak reliable. Kemungkinan karena FUP yang semakin mendekati batasnya. Posisi wfh saya sudah semakin dekat dengan router (benar-benar di depannya) tapi tentu saja tidak membuat kecepatan internet lebih baik karena akar masalahnya bukan jarak dengan routernya. Tidak jarang internet putus ditengah-tengah meeting, bahkan saat saya sedang berbicara. Masalah cukup teratasi dengan tethering dari ponsel, namun karena sinyal ponsel di kamar saya kurang bagus saya jadi keluar kamar juga dan bertemu dengan teman kosan yang bernasib sama. Ada hikmahnya juga sih, jadi ada teman kerja walaupun masing-masing sibuk sendiri. Kalau sedang longgar, kami bercerita mengenai pekerjaan masing-masing. Karena sama-sama bekerja di tempat yang bergerak di bidang IT, kami jadi banyak bertanya satu sama lain. Dan kami juga sama-sama suka jajan es krim di cuaca yang sedang tidak terlalu panas ini.

Saya juga mendapatkan kabar duka minggu ini. Bapak pemilik bengkel sepeda yang biasanya saya kunjungi meninggal dunia. Bapak yang sudah sering saya ceritakan di blog ini. Walaupun kami tidak terlalu dekat, namun di hari saya mendapat kabar tersebut saya merasa sangat sedih. Saya sudah merencanakan untuk membawa sepeda saya langsung sekembalinya saya ke Jakarta. Saya tidak tahu apakah bengkel Bapak (mister fixers) masih akan buka atau tidak, namun tentu saja akan sangat berbeda tanpa Bapak Kastono. Almarhum memberikan saya banyak tips bersepeda dan membantu saya saat kesulitan. Saya beberapa kali ke sana untuk meminjam pompa saat tidak ada pompa di kosan. Tidak dipungut biaya kalau saya memompa sendiri. Saat stang sepeda saya bengkok setelah jatuh di pagi hari sebelum bengkel buka, Almarhum mau membetulkannya sehingga saya bisa melanjutkan bersepeda. Oh iya, dari Almarhum juga saya tahu tinggi sadel yang enak buat gowes walau dengan cara yang masih tradisional yaitu dengan memberikan jarak antara sadel dengan pedal sepanjang lengan. Setelah saya mengubah posisi sadel sesuai dengan petunjuk Bapak, saya tidak mengalami lagi sakit lutut ataupun tulang ekor. Saya juga jadi mengerti alasan pesepeda banyak yang menepi di trotoar saat lampu merah, tidak seperti saya yang sebelumnya ikut-ikutan motor di tengah karena posisi sadel yang belum tinggi. Terimakasih Pak, ilmu dari Bapak Insya Allah tidak akan terlupa dan saya tidak akan ngebut-ngebut lagi seperti pesan Bapak.

Hal lain yang membuat saya resah adalah kasus positif di perumahan tempat tinggal orang tua saya yang semakin bertambah dan mendekat. 3 rumah berderet di jalan sebelah sudah terkena, mungkin karena berinteraksi saat belum diketahui salah satunya positif COVID. Saya khawatir dengan orang tua saya yang umurnya sudah tidak muda lagi. Terlebih lagi ayah saya, yang merupakan mantan perokok berat saat saya masih kecil. Saya takut jika sudah tertular akan mengakibatkan komplikasi di paru walaupun belum tentu juga. Secara statistik saya yang lebih parah kalau sudah batuk dibanding ayah saya. Ayah saya sebenarnya termasuk orang yang tidak tahan untuk berdiam di rumah saja. Dulu sebelum Covid pasti setiap hari ke Jakarta untuk belajar dan mengajar Bahasa Arab. Untungnya teknologi sudah canggih sehingga ayah saya masih bisa melakukan kegiatan sehari-harinya tersebut secara daring. Rumah sudah disulap agar ada pojokan untuk papan tulis jadi ayah saya bisa menulis di sana. Ayah saya pun sekarang sedang mengambil S1 di jurusan Bahasa Arab sambil mengajar sehingga di rumah pun sudah sibuk. Ayah saya dulu lulusan STM jurusan teknik bangunan yang sempat berkuliah beberapa semester namun tidak sampai lulus karena terkendala biaya. Mungkin dulu informasi beasiswa belum terlalu marak seperti sekarang. Ayah saya akhirnya menemukan passionnya untuk mempelajari Bahasa Arab dan selama ini belajar otodidak. Saya sebenarnya terkejut saat ayah saya mengabarkan kalau sedang ambil S1, mau jadi professor katanya. Saya jadi tersindir, saya merasa cita-cita saya menjadi professor saat masa kecil dulu sudah tidak mungkin dicapai, padahal umur saya tergolong masih muda, dibandingkan dengan ayah saya yang sudah 62 tahun.

Ada beberapa kabar yang sedih juga berseliweran di media sosial dan media komunikasi. Satu persatu teman saya mengabarkan kabar duka. Masjid di dekat rumah pun sudah dua kali memberitakan kabar duka melalui toa masjid. Ingin sekali pandemi ini segera berakhir. Semoga pembaca, teman-teman, dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan sehingga kita semua bisa bisa melewati pandemi ini dengan kuat. Semoga kita semua bisa bertemu dan berkumpul kembali tanpa rasa takut dan khawatir. Aamiin

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s