Cahaya

Tahun lalu, 2021, adalah tahun yang roller coaster bagi saya. Saya sempat merasa down dengan begitu cepat namun Alhamdulillah juga bisa merasakan up . Tahun 2021 diawali dengan semangat hidup yang tinggi. Saya sudah mulai recover dari rasa sedih di tahun sebelumnya. Olahraga yang saya tekuni tiap hari tidak hanya membuat raga menjadi sehat, tapi jiwa pun menjadi kuat. Men sana in corpore sano. Tubuh saya sedang berada di posisi paling optimal, dengan BMI yang sudah normal. Saya juga merasa sangat optimis di tahun tersebut, apalagi dengan kurva pandemi yang mulai melandai. Saya berpikir saya bisa berkehidupan normal kembali. Bisa bebas bertemu dengan teman, dan juga bisa bebas berkumpul dengan keluarga.

Hingga tengah tahun, perasaan terus menanjak naik. Saya memiliki banyak teman baru di kosan, bertemu dengan teman-teman lama bahkan dengan teman yang dari pulau seberang, bisa mengunjungi kampus yang sedang tertutup untuk umum, bahkan Mama pun datang ke Bandung. Saya senang sekali bisa berjalan-jalan dengan Mama dan adik saya saat itu, mengunjungi tempat tempat nostalgia Mama dan tentu saja kulineran. Tidak hanya itu, saya juga dipertemukan dengan seseorang yang kelak menjadi cahaya yang menerangi hidup saya.

Oh iya, saya dan teman-teman kuliah saya saat itu sudah merencanakan untuk WFH bersama di Bali, tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi. Saya bersama teman dari kota-kota lainnya. Teman saya yang sedang pulang dari luar negeri pun bisa ikut. Saya sangat excited menunggu tengah tahun, bulan yang dijadwalkan untuk berangkat ke pulau Dewata tersebut.

Qadarullah, bulan Juni Indonesia mengalami peningkatan kasus Covid-19 yang tajam. Varian Delta ini cukup ganas, membuat tingkat keterisian kasur rumah sakit melesat, hampir di mana-mana rumah sakit penuh. Tabung oksigen pun susah dicari. Gelombang kedua ini pun menghantam keluarga besar saya. Kedua om saya di Bandung dan keluarganya tidak terhindarkan dari virus ini. Tidak hanya itu, Mama juga mengabarkan kalau hasil antigennya positif. Saya sangat khawatir, apalagi di Bogor saat itu kasusnya juga tinggi. Pasien yang tidak bergejala berat disarankan untuk isolasi di rumah. Saat itu Mama tidak menunjukkan gejala berat sehingga puskesmas terdekat menyarankan untuk isolasi di rumah. Mama merasakan gejala pada umumnya yaitu batuk dan demam. Mama sempat mengalami sesak nafas sehingga membutuhkan tabung oksigen. Alhamdulillah saat itu Mama bisa mendapatkan tabung oksigen. Saat itu, Abah mengabari kalau mama sudah membaik namun nafsu makannya belum kembali.

Hari Senin di bulan Juni itu menjadi hari yang sangat kelabu. Dini hari saya ditelepon oleh keluarga saya di Bandung bahwa om saya meninggal dunia. Almarhum mengalami kesulitan nafas dan kesulitan mencari tabung oksigen. Sempat dibawa ke rumah sakit namun kesulitan menemukan rumah sakit karena hampir semua rumah sakit rujukan Covid penuh. Saat sampai di rumah sakit (yang ketiga, karena dua sebelumnya penuh), masih perlu mengantri untuk masuk IGD. Sebelum tertangani, almarhum sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kabar duka ini tidak diteruskan ke Mama agar tidak sedih yang takutnya mempengaruhi kesehatan. HP Mama disembunyikan terlebih dahulu agar fokus istirahat. Senin sore itu Mama dikabarkan lemas sehingga Abah meminta dokter dari klinik terdekat agar bisa memberi infus kepada Mama. Malamnya, saya dichat oleh adik saya, kalau Mama sudah tidak ada. Tidak lama, Abah menelepon saya mengabarkan kabar duka dan meminta agar saya tegar karena hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah SWT. Malam itu kehidupan saya rasanya gelap sekali. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan saya ke depannya tanpa Mama. Tempat saya bertanya ketika saya indecisive dan juga penghibur hati saya.

Awal bulan Juli yang seharusnya saya berangkat ke Malang (saya berencana ke Malang dulu baru ke Bali) akhirnya saya tunda menjadi pertengahan Juli. Sebenarnya kurang bijaksana untuk bepergian di masa pandemi ini, namun kepergian ibu saya meninggalkan kesedihan yang cukup dalam. Saya merasa harus hijrah dulu dari tempat biasanya, dan menghibur diri dengan WFH di tempat baru bersama teman-teman. Saya tidak ingin sedih di depan adik-adik, di sisi lain saya juga tidak ingin sedih sendirian di kosan.

Di Malang, Qadarullah saya berdua dengan teman saya terkena Covid. Saya dan teman saya yang sedang WFH bersama sempat kesulitan mencari tempat isolasi mandiri yang disediakan pemerintah atau berbayar di rumah sakit karena kasus masih tinggi. Kami akhirnya menyewa rumah berdua dengan kamar terpisah. Perasaan saya sebenarnya kalut dan takut saat itu, karena saya terkena virus yang sama dengan Mama dan saya pernah bronkhitis saat masih kecil. Ditambah saya merasa bersalah karena ini akibat saya yang bepergian di masa pandemi ke kota yang baru saya datangi dan tidak ada sanak saudara di sana. Tapi perasaan bersalah tidak akan membuat semuanya lebih baik. Insya Allah semuanya sudah diatur oleh Allah SWT. Alhamdulillah saya bisa sembuh dari COVID-19.

Tapi saya akhirnya tidak jadi ke Bali. Saat itu saya masih di masa penyembuhan dari efek pasca Covid. Saya takut di Bali akan sulit mencari rumah sakit jika terjadi sesuatu. Pikiran saya memang masih negatif sekali saat itu. Saya memang sebenarnya sangat ingin ke Bali, terlebih lagi Mama sudah mengetahui rencana saya itu sejak awal tahun dan sangat mendukung rencana saya tersebut. Kata Mama, mumpung masih single harus banyak jalan-jalan. Tapi saya pikir saat keadaan lebih baik, saya akan lebih tenang saat mengunjungi Bali.

Di hari-hari gelap setelah kepergian Mama, Alhamdulillah Allah memberikan sosok yang membantu saya melalui kegelapan. Dia menjadi teman bercerita, penghibur, dan juga membantu saya dalam berbagai kesulitan. Dia menjadi salah satu alasan saya untuk tetap semangat menjalani kehidupan. Dia menerima kekurangan saya dan akhirnya kami berjanji untuk mengarungi hidup bersama. Di akhir tahun, kehidupan saya menanjak naik kembali bersamanya. Alhamdulillah.

Cahaya tapi bukan Nur hehe

P.S: Cerita lebih detail tentang si Cahaya ini di pos mendatang ya, Insya Allah

Published by

aisyahdz

iOS Engineer

2 thoughts on “Cahaya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s