Percobaan Badan

Sebenarnya saya mau cerita ini minggu lalu saat sedang banyak dibahas di sosial media. Saat saya mencoba menulis entah mengapa idenya tidak mengalir sama sekali sehingga draftnya tidak mengalami banyak perubahan. Jadi minggu lalu itu sedang heboh membahas mengenai diet seorang artis yang cukup ekstrem, kalau dihitung-hitung bisa hanya mengkonsumsi 300an kalori dalam sehari. Jumlah kalori tersebut tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh yang bisa mengakibatkan gangguan bagi tubuh kita (penjelasan mudahnya di gambar di bawah ini ya). Nah, di pos ini saya tidak mau membahas mengenai diet sangat rendah kalori itu ya. Saya hanya ingin menceritakan pengalaman saya saat mencoba menurunkan berat badan dan efeknya ke badan saya.

Saya itu awalnya tidak sadar kalau saya kelebihan berat badan, walau sebenarnya tetangga sudah sering ngomongin kalau badan saya sekarang besar. Orang tua saya juga sering menasihati saya untuk tidak banyak ngemil. Saya dulu memang cuek sekali dengan kondisi fisik karena saya pikir tidak apa-apa selama sehat. Selain itu, saya juga belum paham mengenai BMI (body mass index) sehingga saya pikir memang badan saya saja besar sehingga normal saja untuk memiliki berat seperti itu. Setelah saya mengetahui BMI, saya kaget karena saya termasuk kategori yang overweight. Berat badan saya sempat di kisaran 75 kg yang berarti sudah berbeda belasan kilo semenjak kuliah wkwkkw. Baju-baju pun sudah tidak muat dan saya tidak pernah bisa membeli baju all size di online shop. All size itu adalah pembohongan publik, wakaka. Saya akhirnya memutuskan untuk mencoba mengurangi berat badan agar setidaknya saya bisa masuk dalam kategori BMI yang normal. Masalah ukuran baju sih bonus saja.

Saya memulai percobaan menurunkan berat badan pada Agustus 2019. Saya tidak melakukan diet ekstrem. Saya hanya mulai memasak makanan saya sendiri, tidak memakan banyak cemilan, dan bergerak lebih banyak. Saya beruntung memiliki teman seperjuangan saat itu yaitu teman kosan yang juga ingin hidup lebih sehat. Kami masak bersama sebelum bekerja. Saya bergerak lebih banyak dengan bersepeda setiap pagi sebelum memasak. Terkadang ke pasar untuk membeli bahan masakan, terkadang hanya berputar-putar keliling Setiabudi. Saat itu saya belum berani bersepeda jauh-jauh, paling hanya 12 km. Yang penting sepedaannya yang rutin. Saking seringnya saya bersepeda saat itu, ibu-ibu sekitar kosan sampai bertanya mengapa saya tidak memakai sepeda saya saat saya keluar berjalan kaki. Begitu juga ibu jamu di depan gang. Saat saya membeli jamu pertama kali, saya terharu saat ibunya tahu saya yang sering bersepeda berkeliling. Tentu saja itu jadi penyemangat saya untuk rajin bersepeda hehehe. Selain itu, saya mengusahakan untuk lebih banyak berjalan kaki saat berangkat dan pulang kantor.

Mungkin karena saya sebelumnya overweight, jadi dengan mengurangi sedikit makan dan perbanyak bergerak saja sudah efektif. Pada awal tahun berikutnya, saya sudah berkurang hampir 10 kilogram. Alhamdulillah sudah termasuk BMI yang normal. Sudah di-approve oleh ibu-ibu tetangga dan mba kosan dan meminta saya untuk mempertahankannya wkwkkw. Untuk ukuran baju sih tidak terlalu berkurang dan masih menggunakan ukuran lama. Saya ingin menurunkan berat badan kembali namun ternyata lebih sulit menurunkan badan setelah menjadi normal. Apalagi setelah memasuki masa pandemi di mana awalnya saya tidak bisa ke mana mana sehingga tidak bisa berolahraga dan banyak bergerak.

Saat pandemi saya tidak membatasi apa yang saya makan. Saya merasa hiburan saya ya makan. Teman-teman kosan yang sekantor sudah pergi sehingga saya sendirian di kosan dan tak ada teman main. Saya tetap memasak sendiri dan juga membeli banyak makanan untuk cemilan. Terkadang mencoba membuat cemilan sendiri di akhir minggu.Saya sempat sakit tipes saat awal pandemi sehingga berat badan saya sempat turun lumayan banyak namun setelah sembuh saya banyak makan lagi dan berat badan kembali ke sebelum sakit.

Setelah beberapa bulan pandemi, emosi saya yang terpendam sepertinya meledak sehingga saya sempat malas melakukan apapun. Sampai suatu hari saya mencoba bangkit dengan memperbanyak aktivitas. Saya mulai bersepeda kembali. Untungnya Junita baru membeli sepeda sehingga saya memiliki teman bersepeda. Saya mulai bersepeda dengan jarak yang lebih jauh di akhir minggu, tidak hanya sekitar Setiabudi. Saya jadi berani bersepeda di jalan raya Jakarta. Saat itu saya tidak ada niat untuk menurunkan berat badan. Tujuan saya cuma satu: happy saat pandemi. Bahkan saya tidak menimbang berat badan kembali agar tidak sedih.

Saya akhirnya mulai merambah ke dunia lari. Berawal dari mengikuti virtual run yang diikuti Junita. Saya memang terinspirasi dari Junita yang rutin olahraga. Dia tidak hanya bersepeda, tapi juga rutin lari. Saya juga melihat orang-orang yang rajin berlari itu banyak yang ramping hahaha. Akhirnya saya mencoba berlari sedikit demi sedikit tapi rutin. Saat awal-awal di Bandung malah saya berlari hampir setiap hari karena excited dengan udara paginya. Agar tetap tidak lemas saat berolahraga, saya tidak mengurangi porsi makan saya. Saya mencoba berolahraga setiap hari terlebih dahulu dan melihat hasilnya setelah beberapa bulan.

Ternyata berat badan saya tidak berkurang drastis, hanya sekitar 2-3 kilogram dari berat yang turun 10 kg sebelumnya itu. Uniknya, ukuran baju saya malah berkurang dua size padahal saya tidak mengurangi makan saya (saya bahkan banyak jajan karena jajanan Bandung enak-enak). Alhamdulillah saya sudah bisa membeli baju di online shop lagi wkwk (malah jadi meningkatkan kesempetan untuk boros XD). Ternyata setelah mencoba mengukur komposisi berat tubuh di pusat kebugaran terdekat, massa otot saya sudah lebih besar dibanding massa lemak yang membuat ukuran tubuh mengecil. Walau ukuran tubuh mengecil, umur metabolisme saya ternyata masih tua haha. Saya perlu mengurangi jajanan tidak sehat dan lebih banyak makan buah dan sayur. Tidak lupa cukup meminum air. Mari kita lihat selama beberapa bulan ke depan, apakah dengan makan yang lebih sehat dan tetap berolahraga umur metabolisme saya akan menjadi lebih muda dengan umur saya sekarang? Semoga saja iya, aamiin.

Inap

Salah satu yang membuat berbeda antara masa sekolah dan masa kuliah dan setelahnya itu adalah kebebasan. Kebebasan untuk melakukan yang bisa dilakukan jika tidak tinggal di rumah orang tua. Bukan berarti mau melakukan hal yang negatif loh haha. Walau kebebasan itu jadi mengorbankan kebersamaan bersama keluarga, sesuatu yang sangat asing bagi saya yang terbiasa berkumpul. Kebebasan yang membuat saya melakukan hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu menginap di rumah teman.

Continue reading Inap

Rihat

Bulan ini terasa singkat. Memang sih bulan ini bulan Februari jadi memang lebih sedikit jumlah harinya. Saat saya merenungkan apa saja yang saya telah lakukan bulan ini, ternyata bulan ini tidak terlalu produktif dibanding bulan sebelumnya. Saya hanya mem-publish empat tulisan di blog saya pada bulan ini. Salah satunya bahkan hanya kiriman foto sebagai uji coba story di WordPress (yang ternyata seperti pos biasa tapi bisa diklik menjadi full screen seperti story). Saya biasanya meluangkan waktu pada malam hari sebelum tidur untuk menulis di blog ini, setidaknya cerita tentang masa lalu agar tetap belajar storytelling. Pada bulan ini, saya seperti kehabisan ide, dan juga tidak memaksakan diri untuk menulis. Saya sempat berpikir kalau tulisan saya ini kurang berguna untuk orang lain sehingga saya menunggu ide tulisan yang penting untuk datang. Saya lupa kalau saya menulis kan untuk diri saya sendiri agar saya terbiasa menceritakan sesuatu. Saya punya kelemahan untuk menceritakan kembali suatu kejadian. Mungkin dengan menulis blog ini saya bisa terlatih untuk menceritakan sesuatu dengan lebih detail, hehe. Anggap saja bulan ini saya rihat dari blog untuk mengingat tujuan saya di awal, wkwk.

Selain menulis, intensitas olahraga saya berkurang. Biasanya saya berolahraga, minimal dengan berjalan kaki, paling sedikit 5 kali seminggu. Setelah saya mengecek riwayat olahraga saya bulan ini, ternyata sekarang rata-rata hanya 3 kali seminggu. Selain karena hujan, saya juga merasa lebih malas, wkwk. Saya merasa kurang berenergi setelah bangun tidur sehingga saya berpikir untuk memperpanjang waktu istirahat saya. Padahal kalau mencoba keluar dari kamar sih langsung semangat lagi. Tapi energi aktivasi yang dibutuhkan sepertinya sangat besar pada bulan ini. Ya anggap saja saya istirahat sejenak dan kembali lebih kuat (come back stronger XD) di bulan depan, aamiin.

Seharusnya kalau tidak dipakai untuk olahraga atau menulis, saya bisa melakukan hal produktif lainnya ya, tapi kenyataannya tidak. Buku yang saya baca pada bulan ini lebih sedikit dibanding bulan lalu. Padahal saya sudah punya target minimal 4 buku per bulan di Goodreads. Bulan ini memang baca beberapa buku, tapi belum ada yang selesai XD. Saya membaca beberapa lembar awal suatu buku dan pindah ke lembar awal buku lainnya. Duolingo pun begitu. Awalnya saya semangat mengejar peringkat di liga dan menjaga day streak saya. Dua minggu terakhir ini malah bergantung pada streak freeze, wkwk. Lewat satu hari, beli persediaan streak freeze lagi. Saya lupa kalau yang penting bukan day streaknya, tapi mempelajari kata baru setiap harinya. Ya anggap saja saya sedang rihat (istirahat terooos), wkkw.

Saat lihat laporan durasi penggunaan handphone pada bulan ini ternyata turun drastis. Saya memang benar-benar istirahat bulan ini, haha. Dunia nyata dan dunia maya. Jadi bulan ini saya melakukan apa saja ya kalau banyak istirahatnya begitu? XD

Setengah Dekade

Bulan Februari ini menandai 5 tahun saya menjalani kehidupan pekerjaan profesional. Lebih terlambat dibanding teman-teman seangkatan yang lain, namun menurut saya sudah cukup cepat kalau dilihat dari tahun lulusnya, haha. Berawal dari mengunjungi booth job fair di kampus pada bulan Oktober tahun 2015. Saya mendaftar di salah satu perusahaan yang sedang melakukan pameran di sana. Alasan utama mendaftar di kantor itu sebenarnya dari rekomendasi teman-teman saya: Mba Ya dan Mba Wid yang sudah promosi dari semenjak mereka bekerja di sana. Saya sendiri sesungguhnya saat itu tidak punya banyak harapan dan keinginan mengenai benefit. Asalkan penghasilannya cukup untuk saya dan juga bisa bekerja dengan teman yang sudah dikenal. Jujur pada awal bekerja saya masih mencari tempat bekerja yang pegawainya ada yang saya kenal sehingga tidak terlalu banyak adaptasi. Di pekerjaan selanjutnya saya tidak mencari hal itu lagi, lebih banyak ke tempat kerja yang nyaman dan benefit yang sesuai.

Pemilihan jobdesk pekerjaan saat itu tidak saya pikirkan terlalu matang. Saya masih ingat ada beberapa lowongan yang tersedia sebagai mobile engineer, backend engineer, dan quality assurance. Saya tentu ingin sekali menjadi mobile engineer karena merupakan salah satu keinginan saya sejak saat lama. Impostor syndrom yang saya idap semenjak kuliah membuat saya tidak percaya diri dan tidak memiliki growth mindset. Saya pikir saya tidak akan kompeten jika saya daftar sebagai mobile engineer dan saya ingin sekali bekerja di sana. Saya pun memilih QA sebagai pilihan pertama. Kalau saya ingat-ingat lagi sekarang, saya sama-sama tidak kompeten di keduanya karena saya pun merasa tidak teliti dan tidak suka pekerjaan yang berulang. Menurut saya, menjadi QA perlu kesabaran yang tidak berbatas yang tentu saya tidak merasa memiliki itu. Akhirnya saya memilih QA sebagai pilihan pertama dan mobile engineer di pilihan kedua.

Oh iya, ini juga menandakan 5 tahun saya bekerja di Jakarta. Sebelumnya saya sebenarnya tidak terpikir untuk bekerja di Jakarta karena saya sebenarnya lebih suka di Bandung. Orang tua tentu saja menyarankan saya bekerja saya di Jakarta agar bisa bolak balik rumah. Saya pun tertarik bekerja di Jakarta karena teman-teman saya bekerja di Jakarta (lagi lagi saya dulu friend oriented). Saya pun resmi jadi komuter. Bolak balik ikut meramaikan kapasitas KRL. Dari yang awalnya berangkat sangat pagi sampai berangkat lebih siang. Mulai berani tapi tentu tidak sampai telat masuk kantor.

Awal menjadi QA, saya cukup banyak mengeluh dan sempat sampai menangis. Di kantor pertama saya, saya merasa QA diposisikan lebih rendah dibanding developer. Jika ada bug, yang disalahkan pun QA. Deployment juga merupakan salah satu tugas QA sehingga harus ikut deploy di tengah malam (karena ada down time sehingga memilih malam hari). Saya juga perlu mengetes manual dan melakukannya berulang setiap hari karena belum ada automation. Untuk memulai automation test, diperlukan resource yang cukup agar pekerjaan reguler tetap tertangani. Di sisi lain, saya juga belum mengenal automation test seperti sekarang. Pernah juga saya ditempatkan di bagian project dan kena omelan klien. Walaupun begitu, sebenarnya saya tidak terpikir untuk resign karena saya pikir ini adalah hal yang memang perlu saya hadapi, hingga suatu ketika teman-teman saya merencanakan untuk resign. Karena saya saat itu friend oriented, saya tidak mau ditinggal sendirian sehingga saya ikut mencari pekerjaan baru. Lucunya, saya yang duluan mendapat pekerjaan baru saat itu dan malah meninggalkan teman-teman.

Di kantor kedua, saya masih menjadi QA Engineer. Kalau kali ini, saya sudah berusaha untuk mendaftar sebagai software engineer namun saya tidak lolos di tahap interview. Saya kemudian ditawarkan untuk menjadi QA Engineer, dan akhirnya saya mencobanya dan Alhamdulillah diterima. Di perusahaan kedua ini saya tidak menguji manual lagi. Tugas saya saat itu merancang automation test untuk suatu divisi. Saya mulai menganggap QA sebagai pekerjaan yang menyenangkan dan memiliki banyak prospek ke depannya. Banyak hal yang perlu saya pelajari di automation. Namun di perusahaan ini saya hanya sebentar karena saya memiliki masalah lain yang pernah saya ceritakan di pos pos terdahulu.

Kantor ketiga adalah kantor saya sekarang. Uniknya, kantor ini ternyata pernah saya temui saat mengunjungi booth job fair di kampus dahulu. Dulu saya tidak mendaftar karena simply tidak ada teman yang saya tahu di sana, haha. Saat masuk kantor pertama, teman-teman saya bercerita kalau tes masuk sana termasuk sulit dan penyaringannya sangat ketat. Memang cukup unik sih tesnya, karena perlu pair programming dengan beberapa orang. Ternyata kantor ini yang membuat saya senang sekali untuk menjadi Test Engineer. Tidak ada perbedaan kasta antara developer dan tester. Banyak hal baru yang bisa digali, teman-teman yang suportif baik dari sisi pekerjaan maupun dari sisi sosial. Belum pernah saya merasa sesemangat ini bekerja. Di saat saya sudah menentukan career path ke depannya untuk menjadi Test Engineer (sudah survey ke automation tester terkenal di dunia *gaya*), perusahaan memberikan saya kesempatan untuk menjadi iOS Engineer. Impian saya dahulu. Tentu saja saat ditawarkan impostor syndrom ini muncul lagi. Saya sempat bilang saya tidak punya skill sama sekali sehingga takut tidak bisa kontribusi. Namun CTO saya bilang kalau saya bisa jadi super junior developer, banyak mencatat, dan belajar dari teman-teman lainnya. Saat CTO saya saja percaya, masa saya sendiri tidak percaya, haha.

Perjalanan setelah itu memang tidak mulus. Trauma-trauma coding di masa kuliah lalu kadang muncul dan membuat saya tidak percaya diri. Sempat berpikir untuk berhenti dan berbalik. Menginginkan kejayaan masa lalu. Tapi selalu ada yang menghentikan itu, entah saat 1 on 1 atau saat tidak sengaja membaca pengalaman-pengalaman orang. Saat menyelesaikan satu task, walau lama, membuat saya semangat lagi. Saat – saat pandemi juga merupakan saat-saat yang berat karena tidak bisa pair programming dan bertanya secara langsung. Masalah kesehatan dan masalah-masalah lain juga mempengaruhi pikiran saat itu. Sempat dua hari cuti (padahal tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa-apa) dan berpikir jauh. Mengumpulkan semangat yang sudah berserakan entah kemana. Saya mencoba berjalan tanpa terlalu banyak berpikir ini jalan yang tepat atau tidak atau memikirkan jalan yang lain yang terlihat lebih mudah untuk saya. Saya tidak sadar kalau posisi saya sekarang sudah jauh lebih maju dibanding di awal. Saat penilaian kemarin, walau masih belum maksimal, ternyata saya berprogress. Saya kurang memberikan apresiasi pada diri sendiri dan terlalu melirik pencapaian orang. Sekarang saya mencoba mengobati impostor syndrom saya karena saya masih terlihat merasa inferior menurut superior saya. Sepertinya rasa inferior ini sudah menjadi luka batin yang perlu saya sembuhkan perlahan. Baru saya sadari setelah membaca suatu buku. Kapan-kapan saya share hihi. Terimakasih sudah membaca!

Ke Kampus Saat Pandemi

Saya sudah lama ingin ke kampus saya di Jalan Ganesha selama saya di Bandung, termasuk teman-teman saya yang lain yang kebetulan sedang di Bandung. Sayangnya tidak semua orang bisa masuk, hanya yang memiliki izin yang bisa masuk ke area kampus. Saya pernah mencoba ke sana, berdalih ingin ke ATM, namun akhirnya hanya diizinkan untuk ke ATM BNI, yang berada di dekat pos satpam. Sebenarnya bagus sih, untuk mencegah penularan virus, apalagi sebenarnya semua kegiatan belajar mengajar sudah dilaksanakan secara daring. Namun bagi saya, ke Bandung tanpa mengunjungi kampus seperti ada yang kurang. Walaupun sedang sakit, saya biasanya tetap mengunjungi kampus walau hanya untuk memandangi labtek 5 (kalau dipikir-pikir saya kurang kerjaan sekali). Mengunjungi kampus itu membangkitkan semangat lagi, mengingatkan saya berbagai kesulitan yang dialami di sini dan Alhamdulillah bisa dilewati. Mengingatkan saya juga tentang waktu yang seharusnya bisa saya pergunakan dengan lebih baik lagi.

Setelah itu saya tidak pernah mencoba masuk lagi karena sudah dipastikan tidak bisa masuk jika tidak punya izin. Saya hanya melewatinya saat meminjam sepeda Boseh yang ada di seberang parkiran sipil. Hingga suatu ketika teman saya yang bekerja dan sedang kuliah di sana menanyakan apakah saya mau mengunjungi kampus. Sebenarnya itu pertanyaan retoris, haha. Dia ingin berdiskusi dengan saya mengenai pengujian perangkat lunak. Sebenarnya diskusi ini bisa di luar kampus, namun fasilitasnya lebih bagus di gedungnya yang memiliki ruang rapat untuk menulis dan presentasi. Dia sudah bertanya ke dosennya, dan niat teman saya tersebut disambut baik. Saya diperbolehkan untuk datang ke kampus dan izin masuk kampus saya bisa diurus.

Saya diminta untuk memberikan identitas seperti nama, no KTP, email, dan no telepon. Sebenarnya diskusi niatnya dilakukan hari Minggu karena teman saya memiliki jadwal pelatihan pada hari Sabtu, namun ada kabar kalau hari Minggu belum tentu diizinkan untuk masuk kampus sehingga akhirnya permohonan izin diajukan di dua hari: Sabtu dan Minggu. Jika permohonan izin diterima, saya akan mendapat email persetujuan pada sore hari sebelumnya. Email persetujuan itu bukan langkah terakhir, saya masih harus mengisi aplikasi mawas diri (Amari) agar mendapatkan QR code yang digunakan sebagai akses masuk. Di aplikasi tersebut saya perlu mengisi identitas, tujuan dan gedung yang akan dikunjungi dan juga kondisi kesehatan terkini.

Saya sangat excited untuk masuk kampus. Akhirnya setelah beberapa bulan di Bandung bisa mengunjungi kampus. Saya merasa sangat norak XD. Kebetulan saya baru saja menemukan baju lama di kamar lama saya di Bandung. Ternyata batik SMA saya masih tersimpan di sana. Alhamdulillah masih muat (sebenarnya sudah muat kembali kata tepatnya haha). Saya pun berniat memakai batik itu untuk ke kampus karena saya ingat dulu saya pernah tidak bisa ikut study tour saat SMA. Teman-teman SMA saya berfoto menggunakan baju batik di suatu spot kampus. Saya pun berpikir kenapa saya tidak foto saja sekarang, walau feelnya beda sih, haha. Muka pun sudah tidak bisa dibohongi, tidak seperti anak SMA, haha. Akhirnya saya memakai baju batik SMA yang ternyata masih bagus dan malah jadi terlihat rapi untuk dipakai ke kampus.

Anak SMA berumur 27 tahun wkwk

Akses masuk hanya ada di gerbang utama di Jalan Ganesha. Saat masuk saya langsung disambut oleh satpam yang menanyakan apakah saya sudah memiliki QRCode. Di salah satu pilar di gerbang sudah tertempel QR scanner yang juga dilengkapi dengan pengukur suhu. Alhamdulillah QRCode saya dikenali dan suhu tubuh saya normal sehingga saya diizinkan masuk. Saya langsung berteriak senang di dalam hati wkwkwk. Kampus sangat sepi, bahkan saya hanya melihat satpam dan petugas kebersihan saat berjalan menuju gedung tujuan yang berada di samping perpustakaan pusat. Mau joget-joget di tengah jalan pun tidak ada yang terlihat memerhatikan. Oh iya, kolam intel bersih loh. Saat berjalan saya bertemu dengan beberapa kucing yang mengikuti saya dan teman saya. Sepertinya kelaparan karena tidak banyak orang di akhir minggu itu. Tidak ada sisa makanan di sampah juga karena sudah bersih. Saya tidak membawa makanan baik makanan kucing maupun manusia saat itu sehingga saya tidak bisa memberikan apa-apa. Sedih sekali sebenarnya, karena ada kucing yang terlihat lemas.

Sesampainya di gedung tujuan, ternyata pintu masuk gedung dikunci sehingga perlu mencari satpam terlebih dahulu untuk diminta dibukakan. Setelah bertemu dengan satpam yang berada di posnya, akhirnya pintu dapat dibuka. Teman saya memiliki janji untuk berdiskusi dengan mahasiswa lainnya sehingga saya menunggu di ruangannya terlebih dahulu. Keren ya sudah punya ruangan sendiri, kalau di kantor saya yang mempunyai ruangan sendiri itu yang sudah C-level hehehe. Akhirnya hari itu dilewati dengan diskusi dan foto-foto di berbagai sudut kampus (bagian dari kenorakan saya), dan jalan-jalan ke laboratorium untuk melihat alat-alat. Tidak ketinggalan promosi jurusan dari teman saya XD. Tidak terasa juga waktu tiba-tiba sudah sore padahal belum sempat membahas automation test. Alhamdulillah saya mendapat email persetujuan untuk masuk kampus kembali besoknya sehingga pembahasan automation test dilakukan di hari Minggu. Saya pun pulang setelah maghrib dan ternyata di depan labtek kembar ada lampu yang indah sekali (menurut saya).

Lampu di antara Labtek V dan Labtek VIII

Hari Minggu saya kembali ke kampus. Sebelumnya saya ke istek Salman dulu dan Alhamdulillah jam bukanya tidak mengikuti jam buka minimarket lainnya. Saya tidak membeli kaos kaki seperti biasanya, tetapi membeli makanan dan ciput rajut yang sangat murah namun bagus. Hari Minggu itu suasananya lebih sepi lagi. Satpam yang menjaga pun hanya beberapa dan tidak ada petugas kebersihan. Benar-benar seperti kampus milik sendiri, haha. Hari itu saya tidak memakai baju rapi, malah pakai baju olahraga karena memang niatnya saat itu kami akan olahraga keliling kampus sekalian melihat sudut sudut kampus yang tidak terlihat kemarin dan juga mencari kucing yang mungkin kelaparan. Saya senang sekali bisa mengenalkan Robot Framework ke teman saya, semoga benar-benar dipakai. Ternyata saya tidak lupa-luma amat dengan proses testing yang saya lakukan saat saya menjadi TE. Setelah sesi belajar selesai, saya dan teman saya akhirnya bisa dengan tenang jalan-jalan keliling kampus.

Kami niatnya sih lari ya, namun berakhir dengan lebih banyak berjalan. Kami juga berpatroli mencari kucing. Kami menemukan sekitar 28 lebih kucing (sempat lupa dihitung jadi tidak yakin). Uniknya, kucing ini lebih banyak ada di bagian tengah dibandingkan di bagian timur dan barat kampus. Kucing-kucing makan sangat lahap, mungkin karena belum makan seharian itu, huhu karena tidak ada orang. Makanan yang kami bawa itu 1 kg dan akhirnya habis. Oh iya, saat melewati area jurusan Fisika, kami mendengar kucing yang terjebak di atap dan ingin turun.

Kami mencoba berbagai cara untuk menurunkannya. Kami sudah mencoba mencari benda yang membuat kami lebih tinggi untuk mengambilnya, namun tidak bisa kami temukan. Saya sudah mencoba naik tempat sampah namun masih kurang tinggi. Mau mencari pertolongan orang lain pun tidak ada yang terlihat. Satpam ada di gerbang depan yang cukup jauh. Akhirnya kucing tersebut pun kabur dan tidak terlihat lagi walau sudah dipanggil-panggil. Akhirnya kami kembali karena sudah mau Maghrib.

Akhirnya selesai juga semua kegiatan di dua hari itu. Kami pulang sama seperti hari sebelumnya, namun saat mau keluar ternyata gedung sudah digembok hahaha. Mungkin satpam mengira sudah tidak ada orang di dalam gedung. Akhirnya kami mencari pintu keluar lainnya karena percuma saja teriak karena pos satpam cukup jauh. Kami mencoba akses lain di pintu PPNN namun ternyata juga tidak bisa dibuka dari dalam. Teman saya akhirnya ingat ada pintu darurat yang bisa dipakai untuk keluar yang berada di samping gedung. Saat pintu itu dibuka, ternyata alarm berbunyi hahaha. Seperti maling. Karena kami tidak merasa bersalah sih kami keluar saja melewati pintu tersebut. Tidak ada orang yang datang karena tidak ada orang lain atau mungkin juga satpam datang saat kami sudah menghilang wkwkwk. Tidak lupa saya mengunjungi atm BNI di seberang lapangan sipil untuk mengambil uang dengan pecahan 20ribu. Saya lupa kalau di samping kantor pun ada ATM pecahan 20ribu XD.

Senang

Setelah beberapa pos terakhir lebih banyak membahas hal yang sedih dan kesal, saya ingin menceritakan hal yang menyenangkan di pos ini. Kata orang bahagia itu sederhana. Saya setuju, tapi sederhana bagi tiap orang beda-beda. Seperti rumah makan Padang Sederhana tapi bagi sebagian orang tidak sederhana hehe. Akhir-akhir ini saya menyadari saya merasa lebih dekat dengan teman-teman saya saat pandemi ini dibandingkan sebelum pandemi. Baik dengan teman lama maupun teman kantor sekarang. Dengan waktu yang lebih banyak di rumah, teman-teman saya mudah diajak video call. Sepertinya satu minggu sekali setidaknya saya conference call (selain dengan keluarga). Jika minggu itu sudah concall dengan teman kuliah, minggu depannya bersama teman kantor, minggu depannya lagi bersama teman kuliah yang lain lagi di circle berbeda. Saya juga mendapat kenalan-kenalan baru di kosan teman saya di Bandung haha. Senang juga saat ibu-ibu yang berniaga di dekat kosan mengenali saya. Memang dasar tukang jajan dengan dalih menghidupkan ekonomi sekitar, hehe.

Saya senang saat menjadi yang paling tahu kabar teman-teman. Sebenarnya bukan sesuatu yang dibanggakan ya, tapi hal ini cukup membuat hati saya senang. Saat tiba-tiba teman saya menelepon untuk curhat sesuatu atau hanya untuk menanyakan sesuatu. Saya juga begitu, saat saya tiba-tiba merasa sepi saya langsung menelepon keluarga atau teman saya, atau saat semua sibuk saya lempar isu saja di grup, untung saja selama ini selalu ada yang menjawab, haha. Mba Wid itu biasanya mengecek saya, tidak tahu sengaja atau tidak, kalau beberapa hari saya tidak ada kabar. Alhamdulillah ya di pandemi ini teknologi sudah maju, jadi mudah untuk berkomunikasi walau sedang isolasi seperti ini.

Hal yang membuat bahagia lainnya yaitu saya sudah merasa nyaman menjadi iOS Engineer. Tidak seperti tahun sebelumnya yang saya masih khawatir. Walau saya belum jago-jago banget sih. Teman kantor saya juga siap membantu setiap saya bertanya. Namun memang masih banyak yang perlu diperbaiki. Saya masih merasa inferior dan tidak percaya diri sehingga saya tidak terlalu aktif. Memang sih setahun ini saya hanya bertarget agar saya bisa menyelesaikan masalah sendiri, belum memasang target tinggi untuk aktif. Kata Pak Kabag saya belum percaya diri karena melihat teman-teman saya yang memang jago-jago banget. Ini menjadi PR saya untuk ke depannya, banyak membaca dan berlatih lagi, agar bisa aktif memberikan solusi untuk orang lain, tidak hanya untuk diri sendiri. Semoga semangat ini bertahan lama, aamiin.

Minggu ini saya juga mendapatkan kabar bahagia dari teman saya yang akan segera menikah minggu ini di Bandung. Saya senang karena saya kebetulan sekali saya di kota yang sama sehingga memungkinkan saya bisa datang walau mungkin tidak terlalu lama. Dia itu teman saya yang sering sekali cerita kehidupan asmaranya waktu kuliah dulu. Senang akhirnya dia menemukan yang dia cari. Galaunya sudah sedari kuliah, hahaha. Tapi waktu Allah tidak pernah salah, Insya Allah sekarang adalah waktu yang tepat baginya walau sudah mengarungi banyak sungai (memangnya mencari ikan?)

Salah satu yang perlu disyukuri juga yaitu nikmat sehat. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan dan masih dihindarkan dari COVID. Semoga kesehatan ini bisa saya manfaatkan dengan baik. Oh iya, saya juga senang karena minggu ini saya diberikan kesempatan untuk memasuki kampus. Detail kegiatannya akan saya ceritakan setelah hari H ya, wkwkw alias belum. Doakan saja dulu supaya kegiatannya lancar, aamiin. Memang bener sih, Where there is a will, there is a way. Di mana ada niat, di situ ada jalan, hehehe. Semoga kalian sehat dan hari-hari kalian menyenangkan juga ya!

Sesal dan Kesal

Karena saya mengantuk dan kesal, mari saya ceritakan saja di blog sebelum tidur. Semoga tidak menyebarkan efek negatif ke teman-teman yang membaca. Sesungguhnya saya sedikit kesal kalau melihat komentar-komentar negatif atau jahat di suatu sosial media. Memang sih di beberapa kasus memang yang dikomentari itu salah. Namun menurut saya akun yang tidak dikunci bukan menjadi alasan yang baik untuk kita bisa berkomentar seenaknya. Bukan berarti apa yang dilakukan di dunia virtual itu tidak akan dihitung amal dan dosanya di hari kemudian. Jujur kalau saya takut menyakiti hati orang lain lewat jempol saya ini. Pahala saya belum tentu banyak, tapi malah saya bagi-bagikan melalui kata-kata saya yang buruk. Kalau dipikir-pikir tidak semua orang juga sih percaya akan hari kemudian, jadi saya akan menceritakan kisah teman saya, siapa tahu bisa berempati.

Continue reading Sesal dan Kesal

Sedih

Minggu ini saya mengalami rasa kesal, resah, dan gelisah. Bukan sedang menunggu di sudut sekolah, melainkan karena kabar-kabar dan masalah yang saya hadapi minggu ini. Masalah pertama sebenarnya sederhana namun cukup mengesalkan, internet di kosan mengalami gangguan. Semakin mendekati akhir bulan, internet semakin tidak reliable. Kemungkinan karena FUP yang semakin mendekati batasnya. Posisi wfh saya sudah semakin dekat dengan router (benar-benar di depannya) tapi tentu saja tidak membuat kecepatan internet lebih baik karena akar masalahnya bukan jarak dengan routernya. Tidak jarang internet putus ditengah-tengah meeting, bahkan saat saya sedang berbicara. Masalah cukup teratasi dengan tethering dari ponsel, namun karena sinyal ponsel di kamar saya kurang bagus saya jadi keluar kamar juga dan bertemu dengan teman kosan yang bernasib sama. Ada hikmahnya juga sih, jadi ada teman kerja walaupun masing-masing sibuk sendiri. Kalau sedang longgar, kami bercerita mengenai pekerjaan masing-masing. Karena sama-sama bekerja di tempat yang bergerak di bidang IT, kami jadi banyak bertanya satu sama lain. Dan kami juga sama-sama suka jajan es krim di cuaca yang sedang tidak terlalu panas ini.

Saya juga mendapatkan kabar duka minggu ini. Bapak pemilik bengkel sepeda yang biasanya saya kunjungi meninggal dunia. Bapak yang sudah sering saya ceritakan di blog ini. Walaupun kami tidak terlalu dekat, namun di hari saya mendapat kabar tersebut saya merasa sangat sedih. Saya sudah merencanakan untuk membawa sepeda saya langsung sekembalinya saya ke Jakarta. Saya tidak tahu apakah bengkel Bapak (mister fixers) masih akan buka atau tidak, namun tentu saja akan sangat berbeda tanpa Bapak Kastono. Almarhum memberikan saya banyak tips bersepeda dan membantu saya saat kesulitan. Saya beberapa kali ke sana untuk meminjam pompa saat tidak ada pompa di kosan. Tidak dipungut biaya kalau saya memompa sendiri. Saat stang sepeda saya bengkok setelah jatuh di pagi hari sebelum bengkel buka, Almarhum mau membetulkannya sehingga saya bisa melanjutkan bersepeda. Oh iya, dari Almarhum juga saya tahu tinggi sadel yang enak buat gowes walau dengan cara yang masih tradisional yaitu dengan memberikan jarak antara sadel dengan pedal sepanjang lengan. Setelah saya mengubah posisi sadel sesuai dengan petunjuk Bapak, saya tidak mengalami lagi sakit lutut ataupun tulang ekor. Saya juga jadi mengerti alasan pesepeda banyak yang menepi di trotoar saat lampu merah, tidak seperti saya yang sebelumnya ikut-ikutan motor di tengah karena posisi sadel yang belum tinggi. Terimakasih Pak, ilmu dari Bapak Insya Allah tidak akan terlupa dan saya tidak akan ngebut-ngebut lagi seperti pesan Bapak.

Hal lain yang membuat saya resah adalah kasus positif di perumahan tempat tinggal orang tua saya yang semakin bertambah dan mendekat. 3 rumah berderet di jalan sebelah sudah terkena, mungkin karena berinteraksi saat belum diketahui salah satunya positif COVID. Saya khawatir dengan orang tua saya yang umurnya sudah tidak muda lagi. Terlebih lagi ayah saya, yang merupakan mantan perokok berat saat saya masih kecil. Saya takut jika sudah tertular akan mengakibatkan komplikasi di paru walaupun belum tentu juga. Secara statistik saya yang lebih parah kalau sudah batuk dibanding ayah saya. Ayah saya sebenarnya termasuk orang yang tidak tahan untuk berdiam di rumah saja. Dulu sebelum Covid pasti setiap hari ke Jakarta untuk belajar dan mengajar Bahasa Arab. Untungnya teknologi sudah canggih sehingga ayah saya masih bisa melakukan kegiatan sehari-harinya tersebut secara daring. Rumah sudah disulap agar ada pojokan untuk papan tulis jadi ayah saya bisa menulis di sana. Ayah saya pun sekarang sedang mengambil S1 di jurusan Bahasa Arab sambil mengajar sehingga di rumah pun sudah sibuk. Ayah saya dulu lulusan STM jurusan teknik bangunan yang sempat berkuliah beberapa semester namun tidak sampai lulus karena terkendala biaya. Mungkin dulu informasi beasiswa belum terlalu marak seperti sekarang. Ayah saya akhirnya menemukan passionnya untuk mempelajari Bahasa Arab dan selama ini belajar otodidak. Saya sebenarnya terkejut saat ayah saya mengabarkan kalau sedang ambil S1, mau jadi professor katanya. Saya jadi tersindir, saya merasa cita-cita saya menjadi professor saat masa kecil dulu sudah tidak mungkin dicapai, padahal umur saya tergolong masih muda, dibandingkan dengan ayah saya yang sudah 62 tahun.

Ada beberapa kabar yang sedih juga berseliweran di media sosial dan media komunikasi. Satu persatu teman saya mengabarkan kabar duka. Masjid di dekat rumah pun sudah dua kali memberitakan kabar duka melalui toa masjid. Ingin sekali pandemi ini segera berakhir. Semoga pembaca, teman-teman, dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan sehingga kita semua bisa bisa melewati pandemi ini dengan kuat. Semoga kita semua bisa bertemu dan berkumpul kembali tanpa rasa takut dan khawatir. Aamiin

Masa Kini, Masa Gitu

Setelah beberapa pos belakangan ini saya lebih banyak membahas masa lalu, mari kita kembali ke masa kini. Terhitung 308 hari sudah berlalu dari masa Work Form Home ini dimulai. Belum genap setahun tapi rasanya sudah lama sekali. Teman-teman dekat saya satu persatu meninggalkan Jakarta hingga sekarang setahu saya sudah tidak ada lagi yang tersisa di Jakarta kecuali teman kosan yang memang masih WFO. Teman kantor saya, Fani dan Mba Wid sudah pergi terlebih dahulu di bulan awal WFH. Teman yang selama ini bertahan di Jakarta juga yaitu Junita dan Olin sudah relokasi. Olin pulang ke Kediri dan Junita ke Bandung. Saya sendiri sudah pindah lokasi WFH ke Bandung selama 2 bulan lebih dengan membawa suatu misi.

Continue reading Masa Kini, Masa Gitu