Pair Programming itu Seru bag. 1

Sudah cukup lama dari tulisan terakhir yang saya kirim dan jika ditunda lagi pasti semakin lama akan semakin malas untuk menulis blog ini. Untuk memanfaatkan waktu saat kejebak macet di dalam busway, saya memutuskan untuk membuat draft tulisan ini walau sebenarnya saya kurang nyaman untuk mengetik panjang menggunakan ponsel karena rentan saltik (typo).

Pada pos kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman saya bekerja di kantor saya saat in yang melakukan pekerjaan dengan berpasangan alias pair programming. Saat pertama kali daftar ke kantor saya sekarang, KMKLabs, sesungguhnya saya tidak tahu sebelumnya kalau di sana menggunakan pair programming. Setelah selesai sidang Tugas Akhir, saya langsung mencari pekerjaan ke beberapa perusahaan IT di Indonesia (padahal revisian saja belum selesai, parah memang). Saya memilih untuk menjadi Quality Assurance Engineer atau Test Engineer karena pengalaman kerja pada perusahaan sebelumnya pada posisi tersebut.

Saya melamar ke beberapa perusahaan dan belum ada yang berhasil diterima walau sudah sampai interview akhir. Akhirnya, ada teman saya dari kantor lama yang merekomendasikan satu perusahaan yang menurut teman-teman saya yang lain perusahaan itu  engineering culture-nya bagus, dan perusahaaan itulah yang menjadi perusahaan saya sekarang. Saat diberitahu nama perusahaan tersebut, saya langsung mencari tahu bagaimana suasana kerja di sana. Saya tidak memiliki teman dekat yang kerja di sana saat itu *saya baru tahu saat interview kalau ada adik tingkat yang telah kerja di sana*. Saya melihat halaman profile dan menemukan prinsip-prinsip yang digunakan di sana yaitu Pair Programming, Test Driven Development, Continuous Integration dan Continuous Deployment. Dari keempat prinsip tersebut yang paling membuat saya penasaran yaitu pair programming. Bagaimana caranya bisa bekerja berdua bersamaan sambil buat kode? wkwkw. Apakah rebutan mouse dan keyboard? Apakah bisa menyatukan dua pikiran dan tidak terlibat perdebatan sengit? Saya pun tertarik dan saya mendaftar dan mengerjakan online test. Alhamdulillah setelah beberapa hari mendapatkan undangan interview langsung ke kantornya, di SCTV Tower.

Sejujurnya saya kurang tahu sebelumnya bagaimana interview di KMKLabs karena di internet tidak tersedia cukup informasi bagaimana proses interview di perusahaan ini khususnya di posisi Test Engineer. Saya hanya berbekal informasi dari pengalaman interview saya sebelumnya di kantor lain, dan ternyata proses interviewnya sangatlah berbeda. Jika yang lain lebih banyak menguji kemampuan dan pengetahuan kita di bidang testing, seperti ujian akhir sekolah atau ujian tertulis dengan soal yang cukup banyak, di kantor ini tidak terlalu banyak menguji hapalan, namun bagaimana saya berkomunikasi dengan partner kerja, cara berpikir, dan apakah quick to learn. Bagaimana cara menilainya? Tentu saja dengan pair programming.

Saya masih ingat saat hari interview itu saya kira hanya 2-3 jam seperti perusahaan lain. Ternyata seharian. Pertama-tama saya mengerjakan soal tertulis terlebih dahulu (sekitar 5 soal) dan kemudian wawancara tatap muka dengan salah satu test engineer yang sekarang menjadi rekan kerja saya di sini. Kemudian, saya diminta untuk duduk di samping  test engineer lainnya dan mengerjakan automation test dengan Robot Framework (framework untuk automation test). Saat inilah saya pertama kali merasakan pair programming. Ternyata masing-masing orang memiliki keyboardmouse dan monitor yang terhubung dalam satu komputer sehingga tidak rebutan, wkwkwk. Lucunya, walau sudah punya mouse dan keyboard masing-masing, saya sering kali salah pegang keyboard dan mouse, malah pakai yang punya pengujinya, haha, sampai diberitahu berkali-kali kalau saya bisa pakai yang sudah diberikan. Saya belum pernah mencoba membuat automation test dengan robot framework sebelumnya, namun saat interview tersebut saya diajari sehingga tidak terasa interview sama sekali, Saya pikir saat itu, walau misalnya nanti tidak lulus saya tidak kecewa karena saya telah mendapatkan ilmu baru. Setelah selesai dengan satu orang penguji, saya kira sudah selesai, namun ternyata masih ada 2 interview pair programming berikutnya yang harus dilalui.

Jujur, setelah saya melewati interview tersebut, saya terkesima *maaf berlebihan* dan sangat ingin untuk diterima kerja di KMKLabs. Satu hari interview tersebut terasa cepat karna tidak berasa diuji hoho karena soal dikerjakan bersama. Saya berpikir bahwa, di sini pasti kerja akan tidak terasa seperti bekerja dan tentunya akan lebih cepat dan banyak belajar karena dibimbing langsung oleh senior. Ternyata dugaan saya benar, setelah saya masuk KMKLabs, bekerja menjadi lebih seru dan belajar hal baru pun menjadi lebih cepat. Alasan detailnya akan saya tulis di bagian ke-2.

Terimakasih sudah membaca!

metro.blushed.train & ensemble.reflect.rides

Judul dari blog ini mungkin membingungkan. Sebenarnya itu kode geografi what3words dari dua tempat di Jakarta. What3words memetakan lokasi/tempat di permukaan bumi ke dalam grid 3x3m2 yang kemudian diberi kode dengan 3 kata unik. Jadi , setiap 3x3m2 tempat di permukaan bumi punya alamat uniknya sendiri yang berisi 3 kata, contohnya adalah dua kode lokasi seperti di judul. Kita bisa mencari kode untuk alamat yang kita inginkan di halaman ini.

Untuk kode alamat pertama, metro.blushed.train, adalah Perpustakaan Nasional RI di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Screen Shot 2019-05-18 at 20.11.44.png

Dari gambarnya sih tidak terlalu presisi di tengah ya, tapi ini alamat pertama yang muncul saat saya mencari dengan query Perpustakaan Nasional. Saya mengunjunginya untuk pertama kali pada hari Minggu lalu.  Saya tahu ada perpustakaan ini dari Instagram Story teman. Letaknya tidak jauh dari Monumen Nasional (Monas). Kalau mau datang di hari Minggu bisa sekalian Car Free Day di Jalan Sudirman kemudian jalan kaki ke sana. Berikut jam buka Perpustakaan Nasional:

Bulan Ramadan:
Senin-Kamis : 07.30-14.30
Jumat: 07.30-15.00
Sabtu-Minggu: 08.30 -14.00

Bulan Biasa:
Senin-Kamis : 08.30-18.00
Jumat: 09.00-18.00
Sabtu-Minggu: 09.00 -16.00

Saat pertama kali melangkah masuk ke gerbang pintu masuk, akan terlihat satu rumah lama dan gedung tinggi di belakangnya. Ternyata rumah itu adalah lobby perpustakaan yang lama. Rumah tersebut sekarang semacam museum berisi pameran dan instalasi seni. Saat pertama kali masuk ke rumah itu, saya cukup terpukau dengan isinya. Saat pertama kali masuk, ada kipas yang terlihatnya seperti lampu led yang menyusun bentuk logo perpusnas, saya tidak ingat istilahnya padahal sudah diceritakan XD .Di dalamnya terbagi ke dalam beberapa ruang. Di setiap ruangnya, saya agak lupa detailnya, karena saya tidak sempat foto atau catat karena terlalu menikmati isinya. Salah satu ruang yang saya ingat ada ruang berisi sejarah kertas dari yang sebelumnya memakai batu, daun hingga menjadi buku. Ada juga layar sentuh yang layarnya gelap seperti gua namun bila disentuh akan muncul aksara aksara dan penjelasannya. Ada juga bahtera aksara di tengah rumah, yaitu kapal layar yang tersusun dari aksara-aksara. Saya bahkan baru tahu aksara berasal dari bahasa sansekerta A – Kshara yang artinya tidak termusnahkan. Jadi aksara itu artinya sesuatu yang abadi, tidak termusnahkan. Ada juga foto foto aktivitas presiden di tengah, tapi tidak terlalu terhubung dengan tema aksara.

IMG_20190512_100528Macam aksara yang ada di Indonesia (foto dapat minta XD)

IMG_4054Bahtera Aksara

Setelah keluar dari rumah tersebut, langsung terlihat gedung perpustakaan yang tinggi.

IMG_6447

Gedung perpustakaan ini terdiri dari 24 lantai. Kalau saya lihat dari artikel ini dan ini, Perpustakaan Nasional ini adalah gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Saat masuk ke dalam gedung, ada rak buku setinggi 4 lantai. Saya diwajibkan untuk menitipkan bawaan dan memasukkannya ke dalam loker sebelum bisa naik ke lantai atas. Lantai 1-4 bisa diakses melalui eskalator sedangkan untuk lantai sisanya dapat dilalui melalui elevator.

IMG_8681Lobby perpustakaan

IMG_9687Bola dunia.

IMG_2516Foto tokoh dan pahlawan Indonesia

IMG_20190512_102731Daftar lantai dan keterangan layanan yang disediakan

Dari ke-24 lantai tersebut, saya tidak mengunjungi keseluruhan lantai karena keterbatasan waktu. Pertama – tama saya mengunjungi lantai 1-4 yang bisa dikunjungi dengan eskalator, Oh iya, di dalam full AC jadi tidak perlu takut berkeringat sepanjang hari, haha. Di lantai 1 ada cafe juga, namun karena sedang bulan puasa, kafe tersebut tak terlihat buka. Di lantai 2 ada layanan keanggotaan, kita bisa daftar jadi anggota perpustakaan secara gratis. Terdapat 300 kuota registrasi anggota setiap harinya. Sebelum ambil nomor antrian, kita perlu registrasi online terlebih dahulu. Tenang saja, kalau belum registrasi di sana disediakan banyak komputer untuk melakukan registrasi online. Oh iya, kalau registrasinya menggunakan komputer umum jangan lupa di-refresh halaman pendaftarannya agar datanya baru lagi dan datamu tidak terlihat di komputer itu.

Ada sesuatu yang mengganjal, anehnya yaitu saya sudah bisa ambil antrian walau saya tidak merasa sudah registrasi online. Saya baru sadar kalau saya pernah registrasi waktu saya masih mahasiswa dulu dan datanya masih kesimpan. Saya sadarnya saat ditanya Mba di meja ambil foto dan verifikasi data. Saya ditanya mahasiswa S1 apa S2 padahal harusnya pekerjaannya adalah pegawai Swasta. Saat saya jawab S1, Mba-nya pun seperti tidak percaya. Memang harusnya tidak percaya sih haha. Setelah mengambil foto dan verifikasi data, kartunya pun langsung jadi dan berlaku selama 10 tahun dengan masih ada tulisan Mahasiswa di kartunya, haha.

IMG_5283Tempat interview dan foto registrasi.

IMG_1317Kartu perpustakaan masih mahasiswa hoho.

Jika sudah waktunya shalat, kita bisa shalat di mushalla perpusnas di lantai 6. Mushalla di perpusnas memiliki tempat salat dan tempat wudu yang terpisah untuk ikhwan dan akhwat. Mushalla di sana juga menyediakan mukena yang bersih. Saat bulan ramadan rasanya ingin tidur saja di mushalla, wkwk, tapi belum banyak lantai yang dikunjungi dan jam tutup saat hari Minggu cepat sekali, yaitu jam 2 siang.

Saya hanya mengunjungi lantai 24 dan 22 untuk membaca buku. Di lantai 24 tersedia koleksi budaya nusantara dan executive lounge. Saya membaca buku mengenai kenduri rakyat di Jakarta untuk merayakan 50 tahun kemerdekaan Indonesia dan koleksi cerita rakyat. Saya memilih buku yang ringan-ringan saja sekalian menyegarkan ingatan saya mengenai cerita rakyat yang sering saya baca waktu SMP. Jadi kangen perpus SMP, hoho. Di sana ada balkonnya juga jika ingin membaca di luar. Dari balkon terlihat pemandangan sekitar, bukan yang menghadap Monas, tetapi menarik juga jika suka baca sambil kena angin sepoi sepoi, hihi.

IMG_8530Perlu diingat ini

IMG_4304Tulisan di dalam elevator

Di lantai 22, terdapat koleksi monograf terbuka. Awalnya bingung apa itu monograf terbuka. Setelah menanyakan google, ternyata monograf itu adalah sebutan lain untuk buku, khususnya yang tidak berseri dan biasanya ditulis oleh satu orang. Terbuka berarti buku tersebut bebas dibaca atau dipinjam. Tempat dengan jumlah orang membaca terbanyak di gedung ini sepertinya di lantai 21 dan 22 ini, mungkin karena koleksinya yang lebih menarik dan disediakan banyak tempat duduk. Saya memilih tiga buku untuk dibaca, buku pertama Thousand Faces of Jakarta (1984), buku kedua mengenai trivia geografi dunia, dan ketiga buku tentang perawatan kulit. Buku pertama bukan tentang membuat lingkaran di Jakarta di tahun 1984 loh haha. Buku tersebut sebenarnya mengenai isu isu di Jakarta pada tahun 1984. Artikelnya dalam Bahasa Inggris namun iklannya menggunakan Bahasa Indonesia. Yang menjadi fokus membaca saya saat itu adalah iklannya haha, karena iklan pada tahun 1984 masih sederhana, lebih banyak tulisannya dibanding ilustrasi gambarnya. Banyak iklan properti yang sekarang sudah menjadi perumahan yang padat dan cukup terkenal. Bahkan di dalamnya masih ada foto Marissa Haque yang masih sangat muda, iyalah ya 1984, ibu saya saja masih 16 tahun. Buku kedua juga cukup menarik karena banyak foto di dalamnya. Kita bisa mengetahui semacam fun fact dari benua, negara atau suku di dunia ini. Buku ketiga sebenarnya cukup berat, saya lupa judul tepatnya karena lagi lagi tidak saya foto TT. Saya membaca seksi khusus membahas mengenai sabun pencuci wajah. Saya menjadi tahu jenis jenisnya apa saja, hoho.

IMG_3561Iklan Indomie 1984, masih ada rasa udang.

IMG_3202Iklan Ratu Plaza, mall yang sering saya lewati di Bunderan Senayan.

IMG_1911Suasana di lantai 22 (1)

IMG_9579Suasana di lantai 22 (2)

Saat pukul 13.30 diberitahukan melalui pengeras suara bahwa perpustakaan akan tutup. Semua pun bersiap-siap untuk pulang dan lift pun penuh XD. Saatnya ke destinasi berikutnya

Tempat berikutnya, yaitu ensemble.reflect.rides adalah Galeri Nasional Indonesia, masih sekitar Monas, yaitu Jalan Merdeka Timur. Dari perpustakaan ke galeri nasional bisa berjalan kaki loh, melewati monas dan gambir cuma 1.1 km.

Screen Shot 2019-05-19 at 07.33.08Dekat kan ya.

Di galeri nasional kebetulan sekali sedang ada pameran seni rupa nusantara dan hari terakhir pula, beruntungnya. Isinya cukup menarik, walau saya kurang mengerti seni. Di sana cuma sebentar karena tutupnya jam 15.00, tetapi cukup membuat saya terhibur XD. Karena saya kurang bisa menjelaskannya, saya lampirkan foto fotonya saja.

galeriPoster pameran

img_7665img_8910img_0159img_2652img_0645

Maafkan kalau fotonya kurang banyak, hoho. Tidak sempat memfoto karena banyak berpikir akan makna dari karya seninya hoho.

Hari Minggu itu sebenarnya tidak hanya pergi ke Perpustakaan Nasional dan Galeri Nasional, tapi juga ikut Car Free Day dari Bundaran Senayan lalu naik MRT hingga Bundaran HI, muter muter naik busway dan kemudian di akhir naik MRT dari ujung ke ujung. Ada yang unik, saya sempat lupa membawa dompet karena terburu-buru karena saya sudah telat janjiannya XD. Alhamdulillah dipinjamkan uang untuk membeli tiket MRT dan kemudian saya balik ke kosan di Setiabudi. Akhirnya pun tetap nunggu juga dia di stasiun MRT, wkwk. Ternyata kalau pakai kartu single trip, harus turun di tepat stasiun yang kita pilih saat membayar, kalau tidak, kita tidak bisa tap keluar. Petugas pun bilang saya harus membayar tunai. Alangkah bingungnya saya karena tidak ada uang tunai. Saya pun menjelaskan kondisi saya dan Alhamdulillah petugasnya baik dan menyita kartu saya terlebih dahulu dan kemudian saya tukarkan setelah kembali dari kosan.

Setelah turun di stasiun HI, kami pun berjalan dari stasiun MRT HI ke perpustakaan nasional, melewati car free day (CFD). CFD saat itu tidak terlalu ramai, mungkin karena bulan puasa dan tidak banyak orang yang berjualan juga.

Screen Shot 2019-05-19 at 09.19.19Jarak yang ditempuh untuk sampai ke Perpustakaan Nasional dari MRT Bundaran HI

Berjalan melewati banyak gedung di jalan Sudirman ternyata seru juga. Jalan yang biasanya ramai sekarang sepi dan tidak banyak polusi. Tidak terasa tiba di perpustakaan nasional, lalu ke galeri nasional dengan berjalan kaki seperti yang diceritakan sebelumnya.

Dari galeri nasional, karena tidak ada busway terdekat yang langsung ke HI, kami pun memutuskan untuk naik busway yang ada saja di halte Gambir. Ternyata busway yang duluan datang itu menuju Senen, sehingga kami perlu naik dua busway lagi untuk menuju HI, yaitu busway jurusan Harmoni dan kemudian dilanjutkan dengan jurusan Blok M – Kota. Benar-benar keliling – keliling XD.

Setelah sampai di halte Bundaran HI, dilanjutkan ke stasiun MRT Bundaran HI untuk naik MRT dari ujung ke ujung (HI – Lebak Bulus). Ternyata ada tembusannya, jadi dari halte bundaran HI ada tangga turun langsung ke stasiun MRT. Antrian untuk membeli tiket (lagi – lagi lupa foto bagaimana penampakan mesin tiket otomatisnya) lumayan panjang sepertinya banyak yang niatnya naik MRT untuk berjalan jalan saja seperti kami. Hari itu hari terakhir diskon tiket MRT 50%, Alhamdulillah beruntungnya kami. Kami membeli tiket dengan tujuan akhir masing-masing, karena kami kira sistemnya seperti KRL Commuter line yang harganya menyesuaikan dengan stasiun turun karena sesuai dengan tap terakhir. Kalau MRT ini berbeda, setelah 30 menit naik MRT *yay akhirnya kesampaian juga naik kereta dari ujung ke ujung XD* dan sampai di lebak bulus, kami tidak bisa langsung naik kereta ke arah sebaliknya. Kami perlu tap keluar terlebih dahulu sehingga tentu saja kurang bayar haha. Kami pun membayar sisa kekurangannya dan kemudian tap masuk kembali untuk naik kereta ke arah bundaran HI kembali. Oh iya, harga tiket satu trip penuh dari HI ke Lebak Bulus adalah Rp14.000 (saat promo kemarin hanya 7rbu rupiah :D)

Itulah pengalaman ngabuburit di hari Minggu. Walaupun puasa dan banyak berjalan dan berdirinya, tapi tidak terlalu terasa lelah setelahnya haha, kenapa ya? XD. Alhamdulillah bisa mengunjungi tempat baru, mendapat ilmu baru, juga semangat baru haha. Next time kemana lagi ya?

Masih Banyak Orang Baik di Jakarta

Hari ini, Selasa 14 Mei 2019,  diawali dengan bangun untuk siap-siap sahur sekaligus menghangatkan makanan. Makanan yang dibeli tadi malam. Alhamdulillah masih enak. Mba Widya, selaku teman kantor dan juga teman satu kosan bertandang ke kamar. Karena sambil mengobrol dan menonton, jadi tidak berasa tiba-tiba sudah mau Subuh. Setelah melakukan kewajiban, dilema pun melanda, mau tidur lagi atau melakukan hal lain karena perlu berangkat pagi untuk kontrol kawat gigi di Depok. Alasan menggunakan kawat gigi dan harus di Depok akan saya tulis di sesi khusus kalau rajin dan sempat.

Janji kontrol dengan dokter pukul 08.00. Berangkat dari kosan sekitar pukul 06.30. Karena takut telat, jadi naik transportasi motor online dari kosan menuju Sudirman. Sesampainya di Sudirman, tak sampai 10 menit kereta pun datang. Alhamdulillah akhirnya sampai klinik di Depok pukul 07.45. Kemudian bertemu dengan dokter sampai 08.30an dan berangkat ke kantor setelah itu.

Sesampainya kereta dari Depok ke Stasiun Karet, saya langsung memesan transportasi motor online agar bisa ke kantor lebih cepat dibanding naik transportasi lain. Saat keluar dari stasiun Karet, nama saya tiba-tiba dipanggil oleh salah satu pengemudi ojek online. “Kak Aisyah! Kak Aisyah!”. Spontan saya langsung menemui sang pemanggil. Saat menemui, saya merasakan ada yang aneh. Abang ojek itu mengenakan jaket perusahaan dari penyedia layanan ojek online yang berbeda dari yang saya pesan. Saya pun menanyakan apakah tujuan alamatnya sama dengan tujuan saya. Ternyata benar salah. Alhamdulillah belum sampai naik dan berangkat. Setelah beberapa lama, saya pun menyadari kesalahan saya. Saya kan tidak menuliskan nama asli di aplikasi ojek online itu. Saya menggunakan nama panggilan komersil, Adzul, sehingga lebih sering dipanggil Bapak saat di-chat oleh ojek online. Harusnya saat dipanggil Aisyah ya pasti bukan saya, hoho.

5 menit kemudian, datang juga ojek online yang saya pesan. Dia memanggil, “Kak Adzul!”. Siapa lagi kalau bukan saya, *sombong*. Motornya tinggi, jadi kepala saya berasa di awang-awang wkwk. Saya menikmati perjalanan walau macet. Nah, kalau menikmati perjalanan seperti ini kadang ada-ada saja hal yang terjadi. Pernah dulu saat naik angkot saat saya terlampau senang menikmati jalan, tiba-tiba bertemu seorang ibu-ibu yang sepertinya sedang kurang sadar, sehingga memukul saya di wajah. Nah sekarang beda lagi. Saya tiba-tiba dipanggil ibu-ibu di jalan. “Kak, HPnya jatuh!”. Motor saya pun berhenti. Saya kaget karena saya tidak sadar HP saya terjatuh. Saya pun kemudian ingat kalau saya menaruhnya di kantung jaket jeans. Ternyata HP saya jatuh cukup jauh dari tempat saya berhenti. Sebelum ibu itu memberikan informasi lainnya, saya sudah pasrah karena kemungkinan HP saya mungkin sudah terlindas atau sudah diambil orang. Kemudian ibu itu berkata kalau HP saya diambil oleh Mas-mas berjaket merah dan membawa paket. Kata beliau, dia sedang menuju ke sini.

Bersama abang ojek online, saya menunggu mas-mas tersebut sambil melihat-lihat beberapa kendaraan lalu-lalang. Akhirnya mas-mas itu pun datang, dengan ciri-ciri yang persis: jaket merah, membawa paket. Dia pun menyerahkan HP tersebut dan pergi. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Saya pun tidak sempat memberikan balasan ataupun meng-capture agar suatu saat nanti bisa membalas jasanya. Semoga rezeki Mas-masnya lancar terus. Saya pun melanjutkan perjalanan. “Wah orang-orangnya baik banget ya, HP-nya masih dikembalikan”, ujar ojek online tersebut. Dilanjutkan lagi, “Makanya Neng jangan ditaruh di situ lagi”. Iya benar, saya memang ceroboh sekali hari itu. Padahal biasanya saya paling takut kalau menaruh HP di kantung. Mungkin karena hari itu saya mengantuk. Alhamdulillah HP tersebut masih rezeki saya. Dan tentunya, Faith in Humanity restored. Alhamdulillah masih ada orang-orang baik di Jakarta.

Tidak hanya orang-orang yang membuat HP saya kembali yang merupakan orang baik di Jakarta. Teman-teman pairing kerja saya juga termasuk orang-orang baik di Jakarta. Buat yang belum tahu, kantor saya menggunakan Pair Programming sehingga pekerjaan dikerjakan berpasangan. Hari ini seharusnya teman pairing saya tersebut bisa kesal. Saya izin datang telat karena dari dokter gigi. Pulangnya pun izin cepat karena mau buka bersama dengan mantan tim saya terdahulu (masih satu kantor). Saat kerja pun saya super tidak konsentrasi karena mengantuk berat. Karena saya baru di pekerjaan ini, iOS Programming, saya pun banyak bertanya dan tidak langsung mengerti. Saat mengerjakan pun jadi agak lama memroses karena super mengantuk. Saya pun kesal dan malu mengingat kelakuan saya tersebut, haha. Namun teman pair saya itu memang sangat baik dan memaklumi hal tersebut. Masih sabar memberi tahu dan memberi petunjuk untuk bisa mengerjakan story, bahkan masih bisa sambil senyum.

Begitu cerita hari ini. Pelajaran yang bisa diambil yaitu cukup tidur itu penting dan lebih berhati-hati dalam menaruh barang. Satu lagi, masih banyak orang baik di Jakarta :D.

Cita-cita dan Realita

Kembali lagi bersama saya, Aisyah Dzulqaidah. Rencana menulis tiap hari ternyata sulit, walaupun pada hari Kamis kosong, tapi banyak prioritas lain yang tetap juga belum selesai dikerjakan. Jadi hari Kamis, tepatnya 2 hari lalu, saya tidak masuk ke kantor. Padahal sehari sebelumnya sudah bertekad untuk masuk ke kantor dengan semangat karena ada story yang menarik, yaitu spike untuk mencari tahu bagaimana membuat tampilan yang adaptif di iPhone dan di iPad. Oh iya, story itu adalah satuan pekerjaan yang berisi spesifikasi dan tujuan dari pekerjaan yang harus dikerjakan, dan ada di aplikasi manajemen proyek, kalau di kantorku, pakai Pivotal Tracker, ada juga contoh lain yaitu Asana. Kalau di tugas kuliah dulu, mungkin bisa diibaratkan seperti pembagian tugas terkecil yang bisa kamu kerjakan. Jadi pekerjaan dibagi-bagi sama Project Manager dan ada level prioritas dan tingkat kompleksitasnya masing-masing.
Kalau spike, itu semacam tugas untuk mencari tahu teknik atau kompleksitas teknis dari fitur yang mau kita buat. Jadi seru sih saat spike itu kita bisa banyak membaca dan mencoba coba sebelum mengerjakan fitur.

Namun mungkin karena terlalu bersemangat sehingga kurang tidur dan akhirnya suhu badan naik. Akhirnya memutuskan untuk bolos izin sakit. Namun, aku lupa satu rule yang berlaku semenjak kecil hingga sekarang, kalau sakit terus di rumah malah makin sakit. Mungkin karena jadi dirasa-rasain wkwkwk. Jadilah di rumah tidak banyak hal yang dikerjakan.

Memang kadang realita tak sesuai ekspektasi. Cita-cita dan realita pun lebih sering berbeda. Dahulu, aku masih ingat kalau ditanya sama teman-teman atau guru mau jadi apa, pasti bilangnya mau jadi profesor. Tidak tahu sih kenapanya, mungkin karena profesor itu pintar dan aku waktu itu terobsesi menjadi orang pintar haha. Soalnya ibuku pernah bilang, kalau harta tidak ada, cantik pun tidak, apalagi yang bisa dibanggakan? Memang ibuku kalau bicara selalu jujur wkkwkw.

Sekarang sih sudah tidak terlalu berminat untuk menjadi profesor walau peluang masih selalu ada, karena selain sulit, aku sudah ada minat kepada hal lain, yaitu menyelami rekaayasa perangkat lunak namun bukan di bidang akademik, lebih ke praktisi. Apa yang sekarang dikerjakan sebenarnya sudah menjadi apa yang diinginkan. Dulu waktu SMP atau SMA suka mainin ponsel orang dan lihat aplikasi dan permainan di ponsel itu menarik dan tertarik untuk mengembangkannya suatu saat nanti (Mobile Developer), namun keinginan itu pun sebenarnya terlupa saat lulus SMA, karena saat itu lagi sukanya Matematika *mungkin karena nilai yang paling bagus itu XD*. Alhamdulillah diberikan jalan oleh Allah SWT untuk menempuh pendidikan di Teknik Informatika pada akhirnya.

Tapi tidak langsung setelah lulus bisa menjadi mobile developer. Saat kuliah, minatku untuk menjadi developer ada di persimpangan, karena merasa tidak ahli dan tidak mampu. Padahal siapa juga yang ahli pada awalnya. Aku pun memilih karir sebagai Quality Assurance Engineer / Test Engineer selama 3 tahun dan aku pun sangat menikmati itu. Aku sudah memikirkan bagaimana dan apa yang mau aku pelajari selama beberapa tahun ke depan. Namun takdir berkata lain, karena ada perubahan proyek dan iOS developer sedang dibutuhkan, atasanku pun meminta aku untuk pindah ke iOS Developer walau aku belum pernah belajar Swift *bahasa yang digunakan* sama sekali. Dia bilang kalau selalu ada super junior di setiap tim, catatlah dan belajar. Kata-kata itu membuatku semangat. Aku jadi ingat cita-citaku yang dahulu itu. Alhamdulillah diberikan jalan oleh Allah SWT.

Aku jadi ingat, kata guru mengajiku saat kecil kalau tidak semua doa langsung dikabulkan, ada yang ditunda hingga saat yang tepat, ada juga yang tidak dikabulkan tapi diganti dengan yang lebih baik. Mungkin aku masih bisa menjadi profesor. Siapa yang lebih tahu selain Allah SWT? Yang aku tahu sekarang yaitu menerima realita dan mensyukurinya. Jadi tidak apa-apa kalau yang kita dapatkan sekarang tidak sesuai apa yang diinginkan. Insya Allah itu yang terbaik. Belum tentu itu hasil akhirnya, tetap berjuang dan jangan putus asa. Salam Olahraga

Rabu, 8 Mei 2019

Hari ini bertepatan dengan tanggal 3 Ramadhan 1440 H. Hari ketiga berpuasa tahun ini. Tahun ini berbeda karena tahun ini aku sudah menetap di kos kosan (kos beneran). Tantangannya tentu saja saat mencari makan sahur, tetapi untungnya ada guci ajaib a.k.a magic jar yang bisa membantu untuk memasak, setidaknya mie XD , dan Alhamdulillah ada teman teman sekosan yang selalu menemani sahur.

Hari ini sayangnya telat 15 menit masuk kantor karena tidak teliti dalam memesan transportasi mobil daring. Karena kantor saya melewato daerah Ganjen alias ganjil genap, maka dalam memilih transportasi pun harus sesuai dengan tanggal agar bisa melewati jalur ganjil genap yang lebih cepat. Karena tadi lupa mengecek kembali plat nomor pengemudi, kami harus melewati jalan yang lebih jauh dan lebih padat.

Hari ini aku pindah tim kerja. Di tempat kerja kami bekerja secara berpasangan (pair programming). Satu komputer dua orang, dengan dua mouse, dua keyboard,  dan juga ada yang dua monitor. Oh iya, awal awal aku mendaftar ke tempat kerjaku yang sekarang ini bingung. Bingung bagaimana caranya bisa bekerja sama berdua dengan satu komputer. Aku bahkan pernah sampai salah ambil keyboard dan mouse, jadi yang dipakai bukan punyaku sendiri tapi punya teman pairingku, dan itu aku lakukan berkali-kali. Teman pairing ini tidak selalu sama. Setiap interval waktu tertentu, kami perlu ganti (rolling) pasangan agar pekerjaan diketahui oleh banyak orang dan setiap orang mendapatkan experience dari orang-orang yang berbeda. Oh iya ini rolling pertamaku di iOS Engineer setelah sebelumnya menjadi Test Engineer (mengapa pindah? kapan kapan aku ceritakan). Hari ini memelajari beberapa hal, seperti  RxSwift dan Storyboard. Aku belum memahami benar mengenai kedua hal ini, tapi tadi dijelaskan oleh teman pairingku sehingga cukup tercerahkan.

Selanjutnya, waktu cukup melaju cepat sehingga tidak terasa sudah buka puasa. Alhamdulillah di kantor ada breakout semacam ruangan untuk makan bersama. Di kantor disediakan tajil, tetapi karena tergoda dengan makanan lain jadi aku membeli makanan di kantin basement yang jaraknya kurang lebih 1km kalau bolak balik hoho.

Hikmah yang bisa diambil hari ini  yang pertama adalah untuk lebih teliti dalam melihat plat kendaraan mobil daring jika berangkat pas-pasan dan tidak ingin terjebak dalam ganjil genap. Yang kedua adalah untuk tidak makan yang berlebihan saat berpuasa untuk mencegah kantuk dan mual saat ibadah lainnya XD

P.S.

Akhirnya nulis lagi wkkw

Come Back Stronger

Sepertinya sudah berkali-kali aku ingin menambahkan tulisan di blog ini tapi hanya menjadi sebuah wacana. Setelah beberapa tahun meninggalkan blog ini, akhirnya ingat akan eksistensi blog ini setelah seseorang menyinggung tentang blog XD

Terakhir menulis blog ini aku masih ingat saat itu ingin sekali belajar menulis agar bisa mudah dalam menulis tugas akhir. Waktu itu aku menargetkan untuk menulis apa yang kupelajari selama kuliah atau catatan-catatan penting yang seharusnya diingat. Tapi apa daya, niat baik itu hanya menjadi niat. Tetapi tidak apa apa, niat baik kan sudah dihitung sebagai satu pahala, Aamiin.

Sekarang aku kembali lagi dengan niat itu. Niat untuk menulis blog secara rutin. Masih dengan modus yang sama, yaitu menulis catatan-catatan penting. Menulis apa yang kupelajari, khususnya dunia pekerjaanku yang menggunakan extreme programming , pair programming dan peran baruku sebagai iOS Engineer. Banyak hal menarik yang bisa diceritakan sebenarnya. Semoga saja tidak malas. Aamiin

Lagi nyoba salah satu tool buat TA, terus nemu Quote ini di dokumentasinya:

‘The law of evolution is that the strongest survives!’

‘Yes; and the strongest, in the existence of any social species, are those who are most social. In human terms, most ethical. …There is no strength to be gained from hurting one another. Only weakness.’

– The Dispossessed [p.183], Ursula K. le Guin, 1974.

Menyesal itu menyakitkan, menyedihkan.

Terikat dalam perasaan bersalah.

Saat kembali terjun ke lubang yang sama.

Saat orang-orang  masih tetap mempercayaimu, tapi kamu tetap melakukan kesalahan.

Saat satu persatu masalah muncul, dan kau mulai menyalahkan dirimu

Satu yang bisa membantumu:

Percaya

100 Lemparan Koin: Simulasi

Kenapa ya

Cerita Tentang Data

Jika kamu melempar koin seimbang 100 kali, berapa rata-rata selisih kemunculan sisi muka dan belakang? (Selisih yang dimaksud adalah nilai mutlak.)

Ketika diberikan pertanyaan kuis pertama kali oleh Bang Wibi, jawaban saya mungkin sama dengan kebanyakan dari para pembaca: ~0. Simpel saja alasannya toh? Kalau probabilitas munculnya muka dan belakang sama-sama 0,5, berarti kita bisa berharap bahwa selisihnya akan kecil sekali sehingga mendekati 0. Namun, kelihatannya jawaban tersebut tidak tepat, karena kalau terlalu mudah seperti itu, mengapa harus dibuat sebagai kuis?

Akhirnya, saya terpikir untuk membuat sebuah program simulasi. Perlu dibuat program yang dapat melakukan x kali simulasi untuk 100 lemparan koin sehingga bisa dihasilkan rata-ratanya. Bagusnya lagi, dengan begini kita juga bisa mendekati untuk n lemparan koin.

Sudah terbayang kira-kira programnya akan seperti apa?

Tenang saja. Bagi para pembaca yang lebih matematis, setelah artikel ini, akan disampaikan juga cara matematis untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan begitu, kita juga bisa…

View original post 297 more words