Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja

Salah satu teman saya mengadakan semacam kegiatan akhir tahun untuk membaca satu buku satu hari. Dia memiliki klub buku yang sebelumnya pernah saya ikuti (Midnight Reading Club ), namun belakangan saya tidak bisa ikut karena selama dua bulan terakhir ini saya tidur tidak lebih dari jam 10 malam, sedangkan klub baca bareng ini dimulai pukul 10 malam. Teman saya ini aktif di twitter dan saat saya melihat kampanye membaca satu buku satu hari dari tanggal 25 Desember hingga 1 Januari ini, saya tertarik untuk ikut. Namun saya tidak memberitahunya ataupun ikut grupnya karena saya pun tidak yakin saya bisa menyelesaikan satu buku dalam sehari. Ada beberapa buku yang ingin saya baca, namun bukunya tebal-tebal dan sebagiannya bukan buku fiksi sehingga saya perlu waktu lebih lama untuk membacanya.

Buku pertama yang saya baca hari ini adalah buku karya Dancing Snail (sepertinya sih nama samaran ya) yang berjudul “Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja”. Buku terjemahan dari Korea Selatan kalau saya lihat dari detil buku di halaman depan. Sebenarnya ini buku Mba Wid yang dipinjamkan kepada saya saat berkunjung ke rumahnya dua bulan lalu. Saat itu kami wfh bersama di rumahnya karena akan ke Bandung menggunakan mobil Mba Wid pada sore harinya. Awalnya Mba Wid mengira buku ini menceritakan atau membahas energy saving mode karena Mba Wid ini memang orang yang suka dengan efisiensi energi hahaha. Ternyata buku ini adalah buku pengembangan diri yang didalamnya berisi ilustrasi-ilustrasi dan kiat menghadapi pikiran-pikiran negatif yang membuat kita kelelahan, khawatir berlebihan. depresi dan jadi malas melakukan apa-apa. Saya memang pernah di posisi seperti itu, mood berantakan, malas melakukan hal produktif, menyalahkan diri sendiri, tiadk percaya masa depan dll. Mungkin Mba Wid sudah lelah dengan curhatan saya sehingga saya diminta baca buku ini XD.

Sudah izin diberi label oleh pemilik. Banyak bagian yang saya suka jadi banyak yang ditandai.

Saya tidak langsung membaca buku setelah itu karena saya sedang tidak mood untuk membaca buku pengembangan pribadi. Saya sempat membaca beberapa halaman dan saya kurang tertarik karena bagian-bagian awalnya kurang relate dengan saya. Penulis membahas pikiran-pikiran negatif di awal sebelum membahas cara menghadapinya, karena di awalnya kurang relate dengan masalah saya, saya jadi takut menambah pikiran negatif baru. Intinya saya memang sedang malas membaca buku yang membahas pikiran negatif, depresi, dan semacamnya saat itu jadi saya simpan untuk nanti. Saat saya mulai. membacanya lagi hari ini, dengan pikiran dan hati yang sudah tenang, ternyata buku ini menarik. Penulisnya memberikan tips tanpa menggurui dengan menceritakan pengalaman dia pribadi. Buku ini mengajak kita untuk memaklumi diri kita sendiri saat kita sedang down dan malas untuk melakukan hal yang produktif. Terkadang saya terjebak dengan pikiran saya sendiri, bertanya-tanya mengenai kelemahan diri sendiri, membandingkan dengan orang lain dan kemudian cemas apakah saya bisa sukses. Kecemasan itu bukannya membuat saya lebih termotivasi malah semakin lemah Di buku itu tertulis begini:

Hidupku terasa lebih baik setelah aku tidak lagi berpikir bahwa hidupku harus selalu indah. Dengan adanya sikap menerima segala hal yang ada dengan tulus, setiap usaha yang dilakukan tidak lagi terasa sebagai keterpaksaan tapi menjadi sebuah proses untuk mencintai diriku sendiri. Tentu saja di awal aku banyak marah dan kesal atas ketidakadilan di muka bumi ini. Tapi, jika mencoba hal itu dan terus melakukannya, pada suatu saat kita akan bisa menerima diri kita apa adanya, serta akan datang hari tanpa penyesalan atas segala usaha yang kita lakukan. Dengan menanamkan pikiran sederhana layaknya ‘lakukan saja semampu dirimu’, maka kita sudah bisa untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Keunggulan yang kita miliki akan bisa terlihat jika kita berani mengejar hal-hal yang baik.

hal 51

Di dunia ini tidak hanya penuh dengan kecemasan. Debaran hati, rasa penasaran, atau keseruan tidak akan bisa dirasakan begitu saja hanya dengan membayangkannya. Hanyalah orang yang melemparkan kehidupannya ke dalam laut sambil menghayati rasa takut yang muncul yang bisa mengerti bagaimana cara bermain dengan ombak.

hal 125

Karena sekarang suasana hati saya sedang baik jadi baca yang bagian negatifnya itu tidak membuat pikiran atau hati saya berat haha. Ilustrasinya juga lucu di beberapa bagian, tidak semua berbentuk tulisan sehingga tidak membosankan . Selanjutnya saya mau membaca buku yang sudah lama saya belum selesaikan juga tapi bukan buku pengembangan diri. Semoga saya bisa memberikan review bukunya di tulisan berikutnya dengan lebih baik, aamiin.

Kabar-kabar

Minggu lalu saat saya di tengah-tengah bekerja, saya dihubungi oleh beberapa orang yang jarang menghubungi saya. Salah satunya dari HR. Menurut saya HR itu seperti guru BK di SMA, yang kalau dipanggil HR itu konotasinya seperti siswa yang bermasalah, wkwk. Padahal sebenarnya tidak juga, bisa saja karena ada administrasi yang kurang. Karena ini akhir tahun dan merupakan masa-masa penilaian, jadi saya kira ada sesuatu dengan performance saya tahun ini dan saya harus ikut performance improvement plan. Setelah menerima video call melalui Google Meet, ternyata prasangka saya salah. Saya diajak untuk mengikuti kepanitiaan suatu acara di kantor. Saya sebelumnya jadi panitia ulang tahun kantor beberapa bulan lalu. Apakah ini pertanda kantor senang saya membuat tebak-tebakan lagi wkwkkwkw.

Masih di hari yang sama, salah satu kolega saya, admin divisi Engineering, memberikan pesan di Google Chat. Saya deg-degan juga karena minggu sebelumnya saya ditegur karena lupa mengisi form kesehatan yang perlu diisi tiap minggu. Seingat saya sih saya sudah mengisi. Jarak waktu antara kalimat menyapa dan kalimat penjelasan cukup lama sehingga saya jadi menduga-duga cukup lama. Ternyata saya diberi tugas untuk jadi host Stand Up Engineering di hari kerja berikutnya. Alhamdulillah bukan kabar buruk XD, pelajaran untuk saya ke depannya agar tidak overthinking dulu, wkwk.

Sementara saya berpikir negatif tentang kejadian di hari itu, pesan di salah satu WA group saya sedang ramai dan saya cukup banyak di-mention di grup itu. Ada apa ini. Ternyata saya masuk 10 pelari wanita tercepat di kategori R10 ITB-UM. Saya sebenarnya bingung karena saya tidak mengupload aktivitas dengan heart rate, jadi tidak mengekspektasi akan dimasukkan ke dalam podium. Bagi yang membaca pos saya sebelumnya pasti tahu mengapa saya ragu, haha. Saya sebenarnya sudah tahu sih karena di sertifikatnya ada peringkatnya, namun saya tidak menyangka akan ada award khusus pelari dengan spesifik gender dan bahkan ada acara penganugerahannya juga wkwk. Saya sih akhirnya ikut acaranya dan ternyata ada permainan Kahoot sebelum acara yang isinya pertanyaan seputar ITB dan Bandung. Salah satu pertanyaannya mengenai Tahura yang membuat saya mengunjunginya di hari esoknya. Selama saya kuliah di Bandung, saya belum pernah mengunjungi Tahura walau cukup dekat. Oh iya, Tangkuban Perahu pun saya belum pernah ke sana wkwk. Jalan kaki ke Tahura dari kosan saya masih sanggup, tapi kayaknya kalau ke Tangkuban Perahu belum sanggup. Jalan kaki ke Tahura dari Pasteur dan kembali ke kampus cukup membuat telapak kaki saya panas. Saat acara awardnya serunya melihat video yang ditampilkan dan juga ada ucapan khusus bagi angkatan yang tahun ini merayakan anniversary (kelipatan 5 dimulai dari 10 tahun). Saya diingatkan lagi kalau sudah 10 tahun berlalu dari saya masuk kuliah. Sudah tuaaaa, haha.

Screenshot dari rekaman di Youtube XD

Itulah kabar-kabar baik-buruk yang terjadi seminggu ke belakang. Saya sudah tidak masuk 10 besar peringkat Mamah Gajah berlari di kategori manapun. Padahal total durasi olahraga saya sudah meningkat lagi satu jam dari minggu berikutnya. Memang sih lulusan kampus ini memang sangat kompetitif XD. Oh iya satu lagi, saya sudah tidak perlu kontrol after surgery ke dokter sebulan sekali lagi. Saya akhirnya menemukan dokter yang tepat yang tidak mengharuskan saya untuk kontrol setiap bulan. Dokter idola yang sebenarnya sudah saya cari dari bulan pertama di Bandung, tapi baru bisa bertemu minggu ini. Semoga ke depannya kita semua sehat selalu ya. Selamat liburan!

P.S: Oh iya di acara award kemarin saya jadi menemukan satu lagu lagi untuk dimasukkan ke playlist lari saya. Judulnya Terus Berlari dari Nicky Astria. Lagu lama yang liriknya cukup bikin semangat hidup saat lari XD. Bagi yang mau dengar bisa didengar di sini:

Merasa Muda

Hari ini internet di kosan lambat sekali. Saat saya sedang berbicara di online meeting hari ini, saya perlu mengulang berbicara berkali kali karena menurut teman saya suara saya putus-putus. Saya akhirnya harus menulis di kolom chat untuk menjelaskan apa yang saya maksud. Saat internet sedang lambat seperti ini, menghubungkan koneksi ke VPN kantor pun sulit sedangkan saya perlu pull rebase kode terbaru dari repo dan juga commit dan push kode yang akan saya kerjakan yang perlu menggunakan VPN. Saya pun memutuskan untuk WFH di luar kosan, ke tempat yang sebelumnya saya sudah pernah ke sana dan internetnya sudah teruji cepat. Kelebihan lainnya, tempat itu pun sepi dan ventilasinya bagus sehingga menurut saya cukup aman. Hampir seharian saya di sana, pengunjung bisa dihitung jari dan tidak ada yang duduk di dekat saya. Semoga saya, pegawai tempat tersebut, dan pengunjung lainnya sehat-sehat selalu.

Alhamdulillah internet lancar jaya, namun saya memiliki masalah saat build aplikasi menggunakan Xcode. Lama sekali hingga kursor pelangi berputar-putar sering sekali muncul setiap mau mengubah elemen antarmuka. Ternyata saya membuka banyak tab di Chrome. Saya coba untuk menyalakan ulang laptop dan tidak membuka aplikasi-aplikasi lain (saya bahkan tidak menyalakan musik kalau sedang mode mengubah UI seperti ini) dan Alhamdulillah sedikit membaik. Memang restart itu solusi termudah untuk dilakukan wkwkwk. Saya memang perlu membersihkan cache dan juga data-data yang membuat storage laptop saya penuh. Saya juga akan mencoba browser lain yang lebih ringan.

Hari ini saya merasa seperti kembali ke masa kuliah lagi. Alasannya sebenarnya karena saya dikira sedang mengerjakan tugas kuliah oleh salah satu pegawai di sana. Saat saya bilang sedang bekerja malah terlihat tidak percaya, wkwk. Padahal saya sedang menggunakan kemeja rapi haha. Mungkin karena lingkungan di sini lebih banyak orang kuliah mungkin ya, tidak seperti di sekitar kosan saya di Jakarta yang mayoritas orang pekerja. Saya lebih sering dipanggil Ibu bahkan pernah dibilang Bunda,ckckck. Selain karena dikira masih kuliah, setelah pulang dari sana saya mengunjungi suatu mal yang sering saya kunjungi bersama Ammy dan Atika kalau sudah selesai mengerjakan tugas kelompok atau selesai ujian. Kami dulu senang bermain DDR untuk melepaskan penat setelah ujian atau mengerjakan tubes bersama. Sayang sekali, saat saya lewat tadi, tempat bermainnya tutup. Wajar sih, sedang pandemi begini belum aman untuk tempat permainan seperti itu. Oh iya, saya ke mal cuma sebentar untuk membeli sepatu olahraga yang sedang diskon besar, wkwkk. Akhirnya saya beli juga setelah berhari-hari memikirkannya. Saya kemarin sempat berbangga saya tidak ikut harbolnas, namun setelah beberapa kali saya lari dan telapak kaki saya semakin sakit, mungkin sudah saatnya membeli sepatu baru *alasan* hihihi.

Ngomong-ngomong olahraga, leaderboard MGBChallenge untuk minggu kemarin sudah keluar. Saya masih belum bisa menembus 10 besar untuk durasi olahraga total. Padahal durasi olahraga saya minggu ini sudah naik menjadi 10 jam dari sebelumnya 9 jam, namun memang belum sebanding dengan peserta lain. Saya pun sudah tersingkir dari 10 besar kategori bersepeda, hiks, karena memang minggu kemarin cuma satu kali saya bersepeda. Kabar baiknya, saya masuk 10 besar untuk kategori berlari 🥳 Alhamdulillah.

Saya jadi pamer ya, wkwkwk. Niatnya supaya semangat olahraga lagi, aamiin. Supaya bisa tetap sehat dan bugar (bulat(?) dan segar). Kalau kata bapak dosen di CodeRunner, dari O jadi I, haha. Doakan supaya berat badan kembali ke masa kuliah lagi dan sehat selalu, aamiin.

Gunakan Penduduk Sekitar

Berkebalikan dengan pos sebelumnya, saya malah tidak bisa tidur di hari berikutnya padahal besoknya adalah hari H ITBUM. Sebenarnya seharian itu saya merasa deg-degan parah, seperti saya mau presentasi di depan banyak orang besoknya, padahal sebenarnya bisa saya anggap lari pagi seperti biasanya. Tim saya pun bukan tim yang mengejar podium jadi saya tidak ada tekanan sama sekali harusnya, namun setelah saya pos ke sosial media jadi mulai berasa tegangnya, takut besok GPS error lagi, tidak kerekam, atau malah saya tidak bisa lari, dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya. Rasanya saya mau hapus saja posnya, dan memang sudah sempat saya archive wkkw, namun akhirnya saya publish kembali karena saya baru ingat saya kalau saya sudah janji mau ngepos bersama Junita.

Malam hari sebelum lari itu saya sebenarnya sudah mengantuk di sore hari, sudah menguap-nguap di depan laptop saat akhir-akhir jam kerja. Saya tahan karena malamnya akan ada semacam technical meeting dengan seluruh tim di CodeRunner, saya ingin ikut karena takutnya ada peraturan yang saya tidak tahu (walau saya sudah baca dokumen peraturannya). Rasa kantuk akhirnya lumayan hilang saat saya membuat poster untuk tim saya. Saya fokus mengotak-atik editor gambar online untuk menempatkan foto-foto dengan benar, bahkan akhirnya ada dua poster yang diubah karena ternyata ada template dari CodeRunner selain dari panitia ITBUM. Saat technical meeting online di zoom dimulai, rasa kantuk sudah benar-benar hilang karena saya sering tertawa. Karena isinya sebagian besar adalah bapak-bapak dan sebagian adalah dosen yang saya kenal, jadi ingat lagi saat dosen itu melawak di kelas, wkwkwk. Sempat ada sesi perkenalan juga dan saya sebenarnya sedikit gerogi karena malu, takut bapak itu ingat saya pernah telat lulus, wkwk. Padahal mah yasudah lah ya 😂.

Setelah technical meeting berakhir, saya mencoba untuk tidur. Otak merasa sudah mengantuk namun badan masih merasa segar bugar. Hari itu memang saya tidak berolahraga banyak, hanya mengikuti workout dari MGB, jadi tenaga mungkin kurang terkuras di hari itu. Saya terus mencoba tidur dan akhirnya saya bisa tidur jam 11 malam lewat.

Dan saya terbangun jam setengah tiga malam. Jam yang sangat tanggung. Saya tidak terlalu mengantuk, namun saya yakin kalau tidak tidur lagi pasti nanti mengantuk sekali saat lari. Di sisi lain saya tahu badan saya, kalau tidur lagi biasanya tidak sesegar saat bangun pertama kali. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap bangun bahkan saya sudah memakai pakaian lari XD. Saya mencoba untuk setting mi band yang saya punya untuk dipair dengan aplikasi Zepp agar otomatis tersinkronisasi dengan Strava. Saya sebelumnya malas mengotak atik sehingga biasanya saya langsung rekam menggunakan hp karena aplikasi Mi Fit tidak bisa tersinkronisasi dengan Strava secara langsung. Sedikit sulit karena ternyata harus daftar dengan akun yang sama antara Mi Fit dan Zepp. Setelah selesai ternyata waktu sudah mendekati jam setengah 5. Saya baru ingat ada virtual meeting semacam pelepasan pelari di garis start gitu. Saya coba ikut ternyata sampai jam 5 kurang pun tidak ada apa-apa, wkwk. Akhirnya saya berangkat saja dan memulai lari tidak tepat-tepat banget jam 5 karena takutnya jam saya salah dan malah menyalahi aturan, wkkw.

Walaupun kurang tidur, ternyata saya lari lebih semangat dari biasanya. Biasanya saya jeda jalan setelah 2 km namun sekarang setelah 6 km saya masih tetap berlari, saat menyeberang jalan pun saya usahakan untuk berlari. Alhamdulillah jalanan jam segitu masih mudah untuk menyeberang. Waktu yang dipakai untuk berjalan pun lebih sedikit dari biasanya. Oh iya, saya menggunakan dua device untuk merekam aktivitas: HP dan band. Saya takut kalau cuma pakai band saja sering kali mati di tengah jalan, kalau HP saya sering sekali kurang tepat sehingga pacenya lebih cepat dari biasanya. Agar lebih mudah, saya mengecek band untuk melihat jarak. Setelah 10 km lebih sedikit saya hentikan rekaman. Di rekaman Strava HP ternyata sudah 10,9 km dengan pace 5.35, kalau di band saat saya lihat di aplikasi Zepp sih 10 km dengan pace 7.30. Saya rasa yang di band lebih tepat sehingga saya ingin menggunakan hasil dari band saja. Saat disinkronisasi dengan Strava ternyata menjadi 9,4 km saja dengan pace 2 menit 30 detik. Error pisan. Saya masih ingat saya coba mengotak-atik di depan halte Boseh samping GOR Saparua. Saya coba resynchronize dari Zepp ke Strava namun tidak bisa juga. Akhirnya saya pakai hasil strava di HP saja berhubung saya malas berlari 10 km lagi. Kalau hasil rekaman Strava dari HP tidak menggunakan Heart Rate sehingga menurut saya aman-aman saja, tidak akan dihitung di podium. Yang penting saya sudah berlari 10 km wkwk. Saya pun melanjutkan lari dan jalan menuju kampus untuk mencari photographer XD

Hasil rekaman Strava menggunakan HP, saya kaget melihat pacenya XD
Hasil rekaman lari di Zepp. Saya lupa meng-capture setelah synchronize di Strava. Heart Rate tinggi sekali ya.

Oh iya sebelumnya saya diajak teman-teman saya untuk berlari di Lapangan Brigif di Cimahi. Mereka berlari sekitar pukul 7 pagi. Saya akhirnya tidak ikut berlari di sana karena saya lebih senang berlari lebih pagi dan saya lebih senang berlari di jalan biasa agar saya tidak bosan, wkwkwk. Namun akhirnya saya ke sana juga setelah berfoto di kampus karena penasaran dengan lapangan Brigif dan sepertinya seru kalau bisa foto bersama-sama setelah lari. Saya ke sana menggunakan gojek dan ternyata cukup jauh juga ya haha, mungkin karena saya naik gojek yang kurang berhati-hati sehingga saya deg-degan sepanjang jalan, menanti kapan saya sampai, haha. Saya hampir jatuh dua kali dari motor karena hampir menabrak kendaraan lain di tengah perjalanan. Saya rasanya mau berhenti di tengah jalan, tapi saya lebih malas lagi memesan gojek kembali. Saya mencoba menikmati perjalanan. Oh iya saya senang karena bisa melewati rumah sakit kelahiran ibu saya setelah selama ini hanya diceritakan saja, wkwk.

Setelah sampai, ternyata teman-teman saya sudah selesai berlari. Lapangannya cukup luas dan cukup ramai orang yang berlari di sana. Saya yang tidak berlari memakai masker merasa tepat untuk tidak berlari di sana. Kami akhirnya berfoto bersama dan kemudian ke kampus lagi karena ingin berfoto juga di kampus dengan latar yang lebih appropriate. Saya lupa kalau saya belum makan dari pagi, haha. Saya memang biasanya lari pagi sebelum sarapan, sebenarnya katanya kurang bagus untuk kesehatan, namun saya malah biasanya malas olahraga kalau sudah makan, hehe.

Judulnya sebenarnya menunjukkan kekesalan saya dengan GPS saya yang sering error haha. Bahkan hari ini pun GPS saya error kembali. Saya sudah berjalan sekitar 2,5 km setelah bersepeda, namun ternyata tidak terekam, haha. Padahal lumayan waktunya agar bisa masuk ke klasemen Mamah Gajah Berlari haha, walau sebenarnya yang penting olahraganya bukan rekamannya hehe. Semangat berolahraga!!!

Lelah

Dua hari ini saya merasa terlalu lelah di malam hari. Dua hari ini selalu tertidur cepat. Sekitar jam 7-an sudah tidur walau akhirnya tetap terbangun jam 3 atau jam 4. Total tidurnya jadi 8 sampai 9 jam, jam tidur yang jarang sekali saya raih kalau tidak terlalu lelah. Sebenarnya bagus sih, cuma saya jadi tidak bisa ikut nimbrung berdiskusi di suatu grup yang biasanya aktif setelah jam kerja atau scrolling-scrolling di social media. Saya juga jadi tidak sempat curhat di blog yang saya niatkan mau menulis tiap hari ini, wkwk.

Sebenarnya saya tidak terlalu banyak berkegiatan berat kecuali olahraga. Saya masih bekerja dari rumah sehingga tidak melakukan banyak pergerakan. Namun saya memang menjadi lebih menambah waktu olahraga saya menjadi 2 jam. Ternyata kalau dilakukan setiap hari melelahkan juga. Jalan kaki ataupun lari walau dengan pace lambat ternyata membuat saya bisa tidur terlalu lelap pada malah harinya. Kabar baiknya saya jadi tidak punya waktu untuk overthinking wkwk. Baru mau berpikir di kasur saja sudah di alam lain.

Oh iya, tahun ini saya berkesempatan ikutan ITB-Ultra Marathon di cabang 10 km. Saya diajak oleh adik angkatan saya untuk ikut ITB-UM bersama CodeRunner (pelari IAIF). Sebelumnya saat saya tahu info race ini saya ingin mengajak teman-teman kampus seangkatan saya tapi tidak ada yang mau. Alhamdulillah adik angkatan saya memberikan info tersebut sehingga saya bisa bergabung dengan CodeRunner sehingga tidak perlu mencari tim sendiri hihi. Totalnya ada 56 orang pelari dengan 50 orang pelari 10km, 4 pelari 25 km dan 2 orang 50km. Tidak terbayang saya kalau ikut yang 25km atau 50 km XD.

Saya jadi teringat tahun lalu saya melihat pembukaan event ini di depan Wisma 46. Acaranya sangat meriah sampai terlihat dari saya yang baru saja turun dari busway di Dukuh Atas. Saat itu karena penasaran saya mencoba masuk dan takjub melihat banyak pelari yang akan berlari dari Jakarta ke Bandung. Saat itu saya tidak kepikiran untuk mengikuti event ini baik tahun itu atau tahun depannya (tahun ini) karena saya tidak suka berlari saat itu, haha. Alhamdulillah sekarang dapat kesempatan ikutan walau virtual. Doakan ya kuat berlari sampai 10km dengan pace yang bagus XD. Saya pasang foto di blog ini deh, untuk memeriahkan, masih malu kalau dipos di sosial media XD.

Maaf kalau terlalu close up, tidak ada foto selfie yang lebih baik. Apalagi foto saat lari, mana ada yang fotoin, wkwk.

“Train well, eat well, sleep well”

Itu adalah pesan untuk pelari rekreasi yang saya ingat saat mengikuti MGB (Mamah Gajah Berlari) Talks oleh Coach Andriyanto (ringkasannya bisa dilihat di website MGB ). Intinya adalah seimbang antara latihan, makan, dan istirahat. Berlari tidak harus tiap hari katanya untuk pelari pemula. Kita pun harus makan makanan yang bergizi, jangan makan makanan yang hanya memanjakan lidah saja. Umur sudah tidak muda lagi kata Coach, haha. Tidur pun harus cukup, sekitar 7 hingga 8 jam per hari. Nah, dari ketiga hal tersebut sepertinya hanya tidur saja yang sudah patuhi. Di Bandung saya jadi mudah tertidur, saat keluar ke warung kena angin saja saya sudah mengantuk. Untuk urusan makan, karena saya sedang mencoba mengurangi makan, saya jadi kurang asupan makanan bergizi. Oleh karena itu, mulai hari ini saya makan lebih baik dengan memakan nasi goreng dendeng lemak Mas Yono, haha (ketemu saat saya sedang mencari jus wortel) dan juga membeli buah.

Saya mengikuti MGB sebenarnya baru-baru ini, saat melihat klubnya di Strava dengan slogannya: “Pace receh tapi keceh”. Walaupun sebagian besar adalah ibu-ibu yang sudah punya anak, melihat leaderboard di halaman klubnya bikin minder loh. Minggu lalu saja waktu yang dihabiskan oleh anggota klub yang masuk 10 besar di grup melebihi 10 jam, dengan posisi pertama yang menghabiskan waktu 22 jam untuk berolahraga dalam seminggu. Saya tidak masuk 10 besar sama sekali, saya menghabiskan waktu 9 jam minggu ini. Menurut saya sih sudah banyak ya, namun kalau dibandingkan dengan anggota klub lain ternyata masih sedikit XD. Tapi saya masuk 10 besar di kategori bersepeda, wkwk. Sebuah penyemangat untuk olahraga minggu ini, aamiin.

Hari ini saya tidak olahraga. Bukan karena saya mendengarkan kata coach yang menyarankan untuk tidak olahraga setiap hari, melainkan badan saya yang rasanya lelah sekali di pagi hari. Sepertinya karena dua hari sebelumnya sudah olahraga tiap pagi dengan intensitas cukup tinggi ditambah dengan kehujanan. Tidak lupa saya yang terlupa menutup jendela sebelum tidur, jadilah sebenarnya saya masuk angin, haha. Kelupaan menutup jendela di Bandung itu damage-nya sama dengan kelupaan mematikan AC saat tidak pakai selimut. Saya merasa sudah terbiasa dengan dingin Bandung jadi saya sering lupa pakai selimut. Saya pun lebih suka mandi air dingin. Saya jadi lebih rajin mandi kalau di sini. Sungguh informasi yang sangat penting ya wkwk.

Saya bingung mau menulis apa lagi, haha. Saya tidak terlalu produktif hari ini, saya tidak olahraga dan saya pun izin selesai wfh lebih cepat karena pusing dan mual. Oh iya jadi ingat, pagi ini saya menyelesaikan race dengan mengupload aktivitas strava kemarin ke Instagram, 😂. Post IG feed pertama setelah beberapa purnama. Buku juga belum ada yang selesai hari ini. Semoga hari esok bisa lebih baik dibanding hari ini. Semangat!

Hujan

Hari ini hujan turun terus menerus dari pagi hingga malam. Sempat berhenti saat sore namun malam harinya hujan kembali turun. Intensitas hujan bervariasi dari ringan ke deras. Saya tahu persis bagaimana rasanya hujan hari ini karena saya kehujanan cukup lama hari ini. Main hujan itu seru, tapi seperti bergadang, sebaiknya dilakukan kalau ada perlunya saja. Pastikan tubuh sedang fit biar tidak sakit, apalagi kalau naik sepeda, banyak anginnya. Tapi sensasi dingin saat kehujanan plus kena angin itu entah mengapa bikin tersenyum, mungkin karena sedang punya uang. Berbeda saat dulu kehujanan dan lapar, ingin cepat sampai rumah agar bisa makan. Walau terasa sedih, tapi saat sampai rumah, berkali-kali lipat bahagianya. Memang kalau hujan begini, jadi ingat Bogor.

Hari ini saya bersepeda 25 km untuk mengikuti acara Cycling For Donation 2020 untuk memperingati HUT IDI ke 70. Saya dan Junita mendaftar karena kami belum pernah ikut race di cabang sepeda. Saat melihat poster ini di suatu ticketing platform, saya mencoba mengajak teman saya tersebut itu mendaftar dan dia mau. Tadinya, mau bersepeda bersama, sayang sekali saya sedang tidak bisa ke Jakarta, jadi kami bersepeda paralel di kota yang berbeda. Saya pun akhirnya menggunakan sepeda sewaan (Boseh) untuk mengikuti race tersebut.

Tidak seperti Jakarta, medan di Bandung lebih sulit karena jalanannya tidak lurus-lurus saja. Saya terbiasa dengan jalan di Jakarta, tepatnya di Jalan Sudirman, yang tidak terlalu banyak elevation gain. Bagian tersulit mungkin di jalan mendaki dari arah Bundaran HI menuju Stasiun Sudirman, atau dari Kuningan ke Latuharhari. Itu pun saya sudah lelah, walaupun hanya satu bagian. Sebenarnya rute tadi pagi tidak ada tanjakan yang terlalu curam, namun perjalanan terasa sulit, mungkin karena ada faktor sudah lama tidak naik sepeda. Hujan yang mengguyur membuat saya berhenti berkali-kali untuk melap kacamata. Minus mata saya cukup tinggi sehingga saya tidak berani untuk berkendara tanpa kacamata. Oh iya, saya mencoba tidak menggunakan map, jadi saya mencoba mengikuti jalan. Saya kaget tiba-tiba sudah sampai SD Kopo, saya kira saya sudah terlalu jauh. Ternyata hanya sudah sampai dekat Jalan Raya Kopo saja, masih di daerah Astana Anyar. Saya sebenarnya hanya berputar-putar di daerah Alun-alun dan Riau, jadi sebenarnya tidak sejauh yang ada di pikiran saya.

Saya juga bertemu dengan adik saya hari ini dengan niat pertama untuk minta bantuan untuk memfoto saya. Saya perlu mengirimkan bukti bersepeda soalnya, dan kalau selfie nanti tidak kelihatan sepedanya, walau sepedanya bukan sepeda saya sendiri juga sih. Kalau bertemu dengan adik saya yang satu itu sering sekali terjadi kejadian lucu. Salah satunya yaitu tadi, saya dan adik saya sedang berjalan memakai payung masing-masing di suatu gang sempit. Formasinya menjadi berbaris ke belakang karena tidak muat jika berdampingan. Saya bertanya ke adik saya saat itu, namun tidak menengok ke belakang. Adik saya menjawab, “Bukan Dinni itu Kak”. Ternyata di belakang saya itu orang lain. Saya bingung mengapa dia tidak menjawab pertanyaan saya saja kalau memang terdengar, haha. Tidak lucu ya? wkwk

Aktivitas dua hari ini memang melelahkan bagi saya. Saya jadi sering ketiduran, namun setelah itu badan segar kembali. Ada beberapa pekerjaan yang ingin diselesaikan sebenarnya, tapi ada episode terakhir drama Korea yang ingin saya tonton. Hari berakhir dengan tangisan haru jadinya, karena drama tersebut. Hari ini pun sudah berubah menjadi hari kemarin. Semoga Senin ini berjalan lancar. Awal minggu biasanya terasa berat, namun saya baru ingat kalau hari Rabu libur. Saya paling suka kalau hari libur itu hari Rabu karena ada di tengah-tengah. Rasanya seperti bekerja dalam seminggu cuma dua hari, hihi. Walau saya tidak setuju dengan adanya pilkada ini, mari kita nikmati saja liburnya. Semoga bisa diisini dengan kegiatan yang bermanfaat, aamiin.

Ternyata stiker bermanfaat sekali untuk orang yang tidak bisa gambar seperti saya.

“Kamu Terlalu Banyak Bercanda” !!!

Buku “Kamu Terlalu Banyak bercanda” (KTBB) dari Marchella FP

Saat melihat buku ini di toko buku diskon saya langsung teringat teman kampus yang meenyarakan saya untuk lebih serius, jangan terlalu banyak bercanda. Saya memang merasa dulu sering sekali bercanda, kalau rapat di kampus saya sering sekali tiba-tiba menggaring, memberi tebak-tebakan, dan hal tidak serius lainnya. Saya memang mersa bahagia saat teman saya ada yang mengerti jokes saya dan tidak marah walau diledek terlalu garing. Setelah masuk dunia kerja, kebiasaan itu masih terbawa namun berkurang sedikit demi sedikit. Setelah beberapa tahun bekerja dan apalagi wfh di pandemi ini, saya malah jadi terlalu serius. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya mencoba membuat orang tertawa. Mungkin kemampuan saya membuat jokes online belum mumpuni.

Kembali ke masalah buku. Untuk buku ini, saya menilai buku dari sampulnya. Saya membeli buku ini karena saya suka hard covernya. Saya tidak sempat mencari review untuk buku ini. Saya lihat sampulnya bagus dan judulnya yang related ditambah diskon, saya langsung mengambilnya dan membawanya pulang setelah membayar. Buku ini adalah lanjutan dari buku “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.”. Masih dengan tokoh utama yang sama, yaitu Awan. Saya tidak membaca buku NKCTHI, tetapi saya menonton filmnya di bioskop. Karena saya suka dengan filmnya, saya merasa ingin membaca kelanjutannya. Saya tidak tahu kalau buku NKCTHI itu bukan buku cerita, namun lebih ke kumpulan surat Awan (yang menggambarkan perasaan saat itu). Lebih mirip buku puisi sebenarnya dengan ilustrasi. Nah buku KTBB ini adalah kumpulan surat/catatan Awan selama 10 tahun. Di bukunya dituliskan bahwa buku KTBB ini tentang hitam untuk putihnya NKCTHI. Di buku ini, banyak perasaan gelap yang dicurahkan seperti kesedihan, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, dan perasaan kalut lainnya.

Buku ini sebenarnya bisa dibaca dalam waktu beberapa jam saja, bahkan bisa satu jam saja, namun saya tidak dapat benar-benar mengerti dalam satu kali membaca. Saya juga tidak terlalu paham dengan sastra, sehingga saya hanya menikmati dari yang saya pahami saja, yang saya pernah mengalaminya. Saya menandai halaman-halaman yang saya menyentuh saya dengan menggunakan label.

Oh iya, saya baru (sepertinya) mengerti maksud dari judul buku ini dari tulisan di bagian akhir. Catatan-catatan perasaan gelap Awan selama 10 tahun terakhir ini dikubur di tanah kosong di belakang rumahnya. Sebelumnya Awan “mengubur” perasaan gelap tersebut. Dia memendam perasaan negatifnya tersebut dan meyakini semua akan baik-baik saja, melaluinya dengan bercanda. Namun memendam perasaan dan berpura-pura semua baik-baik saja bukanlah solusinya. Dipendam tidak membuat perasaan itu hilang, tapi dengan menghadapi perasaan tersebut. Saya sangat setuju, dulu saya senang sekali memendam kekesalan, kekecewaan, dan kemarahan saya. Energi negatif yang saya pendam itu membuat saya meledak di kemudian hari. Sekarang bisa berkurang setelah saya ceritakan dengan menulis atau bercerita dengan teman. Kasihan teman saya ya sebenarnya, wkwkwk. Kadang ada perasaan yang cuma ada di pikiran kita saja, setelah membacanya lagi atau bercerita, kita bisa berpikir ulang dan akhirnya menyadari kalau sebenarnya tidak seburuk itu. Kalaupun memang benar buruk, ya setidaknya lebih lega, hehe. Apa sih yang saya tulis ini , wkwk.

Kisah Makhluk Kontrakan: Setahun Terasa Cepat

Sebelum resmi diusir, kami sudah pindah ke kontrakan duluan. Kami menyewa angkot untuk membawa barang-barang kami dari asrama ke gang Cisitu Lama. Barang-barang saya tidak terlalu banyak, jadi cukup mudah untuk saya merapikan barang. Saya masih ingat saat itu saya duduk di depan bersama pak supir dan saya banyak bercakap-cakap dan Bapak Supir tersebut salah menebak suku asal saya. Ayo tebak Bapaknya nebak saya suku apa *penting sekali wkwk*.

Cisitu saat itu sangat ramai dibanding dengan Kanayakan. Ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi. Lebih banyak mahasiswanya sih dibanding mahasiswi. Jalanannya juga lebih ramai. Kalau sore, sering sekali macet diakibatkan jalan yang sempit yang dipakai oleh orang parkir sembarangan. Rasanya saya ingin jalan saja kalau sudah macet begitu. Penjual makanannya juga lebih banyak dibandingkan sekitar asrama. Sate Padang, Ayam Cobek, Batagor Kuah, Tahu Sabar Menanti, Warteg, Sabana, Dendeng Om Gede, dan lain-lain yang saya sudah lupa. Beli yang enak kalau lagi banyak uang, tapi jadi berkesan sekali. Kalau malam sekali suasana sangat sepi. Saya pernah berjalan malam sekali setelah kumpul himpunan, dan tidak ada kendaraan sama sekali. Untung selalu ada teman yang menemani, jadi tidak takut.

Kembali ke masalah kontrakan. Harga kontrakan yang perlu dibayar tiap orang per tahun kalau tidak salah ingat tidak sampai 2 juta, sangat murah sebenarnya, per bulan tidak sampai 200ribu. Kontrakan kami sebenarnya tidak ada isinya, namun pemilik kosan memberikan beberapa kasur lantai untuk kami. Tinggal dipakaikan seprai dan kardus atau karpet di bawahnya. Kami perlu membeli lemari dan toren air. Saya masih ingat kami membeli lemari di supermarket di PVJ. Harganya sangat murah saat itu. Oh iya, selain untuk menyimpan baju, lemarinya juga dipakai sebagai sekat antara ruang tamu dan ruang ganti baju XD. Seru juga melihat lemari dijajarkan begitu. Ruang tamunya cukup luas walau sudah dibagi dua. Kontrakan memiliki satu kamar mandi (bayangkan untuk dipakai ber-8 XD), dapur dan juga loteng untuk tempat jemur dan toren. Uniknya, pintu kamar mandinya agak pendek, sehingga untuk yang berpostur tubuh tinggi sering kejedot.

Di kontrakan ini, saya sekamar dengan Haifa dan Sri. El dengan Mba Ya. Epi dengan Mba Arum. Mba Wid sendiri. Kami sering berinteraksi kalau libur saja sepertinya, karena kehidupan tingkat 2 yang sibuk. Sibuk kuliah dan juga organisasi. Kebetulan teman-teman kontrakan termasuk mahasiswa yang aktif. Ada yang aktif di himpunan, ada yang aktif di unit atau UPT seperti Comlabs. Saya masih ingat awal pindah ke kontrakan, sebagian anggota kami mengikuti persiapan pentas seni. Mba Ya, Sri, dan Mba Arum mengikuti persiapan pentas tari untuk Dies Natalis UKM. Mba Wid mengikuti unit PSTK, saya lupa nama pagelaranya. Mereka sering pulang hingga larut malam hampir setiap hari kala itu. Saya yang saat itu belum menjadi anggota himpunan sudah ketiduran saat mereka pulang. Oh iya, saya itu dulu tidak bisa bergadang, sudah tidur sebelum jam 10. Setelah masuk himpunan, dunia saya berubah *lebay*.

Masalah utama di kontrakan itu adalah air. Jadi ternyata kontrakan kami ini berbagi air dengan kontrakan sebelah yang diisi oleh satu keluarga kecil: ibu, ayah, dan satu bayi. Listrik pun satu masih satu rekening listrik, sehingga kami perlu membagi tagihan dengan rumah sebelah. Oh iya, saya pernah menceritakan juga di blog ini saya pernah mematikan listrik untuk kejutan ulang tahun, lupa kalau akan memengaruhi rumah sebelah. Kalau tidak salah sih tagihan listrik dibagi dua ya. Nah, untuk pembagian air ini yang sebenarny kalau secara logika sih adil, tapi dalam pelaksanannya rasanya tidak adil. jadi, pembagian tagihan air ini per kepala. Jadi karena kami ada 8 orang, dan rumah sebelah ada 2 orang (bayi tidak dihitung, padahal sebenarnya butuh air juga ya) tagihan dilakukan pro rata, jadi kami membayar 8 bagian, rumah sebelah 2 bagian. Tagihan air ini sangat mahal, ratusan ribu kalau tidak salah. Kami yang jarang di rumah dan kadang tidak mandi ini merasa sering kehabisan air. Kami sering mendengar rumah sebelah menggunakan mesin cuci, suaranya terdengar sampai rumah kami. Kami yang membayar 8 bagian ini malah kesulitan air. Saat itu, kami malas berdebat, jadi kami terima saja. Jadi setelah mendekati akhir tahun tentu saja tidak kami perpanjang, wkwk.

Selain konflik eksternal, di kontrakan kami juga pernah mengalami konflik internal. Tidak semua berjalan dengan rukun dan damai. Rasanya saya sering jadi pelaku utamanya haha. Saya ingat saya pernah menangis tiba-tiba karena terlalu baper. Padahal kalau dipikir-pikir lagi sekarang sih rasanya lucu juga bisa merasakan hal itu. Jadi belajar banyak bagaimana tinggal bersama dengan orang lain. Dulu kalau di rumah saya anggap semua tahu apa yang saya rasakan, dan memang biasanya tahu. Kalau tinggal dengan orang lain, saya belajar untuk mencoba saling mengerti dan menghormati privasi satu sama lain.

Setelah masa kontrakan berakhir, sebagian dari kami berpisah, sebagian lagi meneruskan ke kosan yang sama. Saya, Mba Ya, Sri, Mba Wid, dan El pindah ke tempat yang sama, dan masih di Cisitu juga, bertemu dengan teman satu fakultas lain: Hesti, Pewe, dan Aul. Sisanya masing-masing pindah ke tempat berbeda, dan sepertinya lebih bahagia dibanding di kontrakan dulu, hahaha.

Kemarin saya sempat mengunjungi kontrakan lama karena penasaran, begini penampakannya:

Kisah Kepalsuan dan Patah Hati di “Selamat Tinggal” karya Tere Liye

Judulnya serius sekali ya, haha. Sepertinya ini buku fiksi pertama yang saya baca di tahun ini. Saya lebih banyak membaca buku non fiksi seperti buku pengembangan diri atau buku biografi. Ada juga buku teknikal yang tidak kunjung selesai saya baca. Sebenernya saya lebih suka buku fiksi, namun entah setelah kuliah saya merasa malas membaca buku fiksi. Saya merasa membaca buku non-fiksi lebih bermanfaat padahal tidak juga, apalagi kalau tidak diterapkan wkwkwk. Saat mengunjungi toko buku diskon hari Minggu lalu kebetulan sekali ada diskon untuk buku-buku fiksi populer. Saya coba membeli dua buku dan beberapa komik yang juga lagi diskon. Tanggal dekat gajian plus diskon yang terbatas memang biasanya menjadi pemicu kuat untuk membeli sesuatu wkwk.

Salah satu buku yang saya beli itu buku “Selamat Tinggal” yang dikarang oleh Tere Liye. Saya bukan pembaca setia Tere Liye, bahkan hanya membaca satu bukunya yang berjudul “Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin”. Tidak seperti Andrea Hirata yang kedua seri bukunya saya baca , yaitu tetralogi Laskar Pelangi dan dwilogi Padang Bulan. Alasan saya membeli buku ini salah satunya karena judul buku yang sepertinya menyedihkan. Sudah lama saya tidak membaca yang sedih-sedih. Dan ternyata bukunya cukup membuat saya menangis di salah satu bagian bukunya.

Buku ini mengisahkan seorang mahasiswa Sastra di suatu universitas negeri ternama dekat stasiun KRL (tanpa perlu menuliskan nama universitasnya pun langsung ketebak). Dia berasal dari kota kecil di Pulau Sumatera dan merupakan siswa satu-satunya dari SMA-nya yang dapat masuk universitas ternama. Dia seorang penulis yang hebat, tulisannya sering masuk koran nasional. Aktif di organisasi. Dia dibiayai oleh Paklik dan Buliknya dengan syarat dia harus menjadi penjaga toko buku bajakan dekat kampusnya.

Masalah utama yang diceritakan di buku ini sebenarnya adalah bagaimana perjuangan tokoh utama ini untuk meraih kelulusan setelah 6 tahun berlalu. Dia sudah di ambang DO namun masih diberikan kesempatan satu semester lagi oleh Pak Dekan untuk menyelesaikan skripsinya dengan tema skripsi yang baru, yang menarik hati Pak Dekan. Skripsi yang membahas penulis hebat pada masanya yang tiba-tiba menghilang pada tahun 1965. Dia menemukan satu buku yang tidak pernah terbit yang selama ini dicari-cari. Dari buku itulah petualangannya dimulai, mencari dan menemukan berbagai petunjuk untuk menemukan jejak penulis legendaris yang hilang tersebut.

Masalah lainnya yaitu dilema tokoh utama dalam pekerjaan sampingannya sebagai penjaga toko buku bajakan. Sebagai penulis, dia merasakan kerugian yang dialami oleh penulis dan penerbit akibat buku bajakan.Di buku ini diceritakan betapa bencinya dia dengan pembajakan, bagaimana banyak penulis yang merasakan kerugian (bahkan ada yang hidup kesusahan) sedangkan penjual buku bajakan malah mendapatkan banyak keuntungan. Diceritakan juga bagaimana pembajakan buku menjadi marak dan juga pihak-pihak berwenang yang ikut andil dalam aksi penjualan buku bajakan tersebut. Tokoh utama ingin keluar dari pekerjaannya namun di sisi lain tidak enak dengan Paklik dan Bulik yang telah membiayainya selama ini.

Tidak hanya mengenai perjuangan kelulusan dan pembajakan buku, buku ini juga menceritakan cinta pertama sang tokoh utama yang akhirnya membuat sang tokoh patah hati. Ternyata patah-hati tersebut yang menjadi salah satu faktor dia vakum menulis dan tidak semangat dalam berkuliah sehingga lulus terlambat. Cinta pertama yang membuatnya jatuh dan juga bangkit lagi. Ya begitulah cinta deritanya tiada akhir 😂😂😂

Hal yang saya suka dari buku ini adalah beberapa bagian dari buku ini relate dengan bagian hidup saya. Ada bagian buku yang menceritakan negosiasi tokoh utama agar dapat mendapatkan perpanjangan masa studi dari Pak Dekan. Saya juga pernah mengalaminya, tetapi bukan karena patah hati. Saya pernah mengurus surat perpanjangan masa studi sampai ke Wakil Rektor agar saya bisa mendapatkan kesempatan lulus. Suatu pengalaman yang tidak ingin saya ulang lagi, wkwk. Oh iya ada salah satu ucapan dekan di buku yang sangat saya sukai saat menawarkan tokoh utama beasiswa S2:

” .. Kadang tidak ada korelasinya antara cepat atau lamanya seseorang menyelesaikan kuliah dengan kualitas orang tersebut”

Kata-kata tersebut membuat saya sedikit semangat kembali. Saya selama ini merasa rendah diri karena lulus lebih lama dari yang lain, bahkan saya belum berani bertemu dosen-dosen untuk meminta rekomendasi untuk melanjutkan kuliah. Saya merasa saya tidak pantas, padahal mencoba meminta rekomendasi saja belum, hoho.

Selain itu, karena beberapa latarnya di KRL dan stasiun, ada beberapa kejadian yang juga relate dengan saya. Tokoh utama diceritakan paling anti untuk menaruh tas di rak bagasi atas tempat duduk. Sangat big no no karena banyak modus pencurian dengan bertukar tas atau mengambil secara cepat saat kereta berhenti (seperti jambret). Di buku tersebut juga diberikan tips naik kereta yang sudah sering saya lakukan, yaitu jika ada dua kereta dengan tujuan yang sama dengan jadwal berdekatan, naiklah kereta yang kedua karena dipastikan akan lebih longgar. Itu benar, saya sudah sering mengalaminya. Lebih banyak orang yang tidak sabaran sehingga akan naik yang pertama, dibandingkan menunggu kereta berikutnya, padahal jarak kedua kereta tersebut berdekatan.

Lalu mengapa judulnya “Selamat Tinggal” ? Kalau saya jelaskan di sini nanti takutnya jadi spoiler, wkwk. Tapi akan saya tulis sebagian quote di halaman terakhir:

Kita tidak pernah sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat kepada orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji untuk tidak melakukannya lagi, memperbaikinya, dan menebus kesalahan tersebut. Berani mengucapkan “Selamat Tinggal”

Tere Liye