Jauh Dekat

Beberapa orang ada yang pernah bilang ini kepada saya : “Ini mah jauh Jul!”. Persepsi saya terhadap jauh dan dekat memang agak berbeda dengan orang lain. Tempat yang masih bisa dicapai dengan berjalan kaki tanpa lelah menurut saya itu dekat. Kalau luar kota, tempat yang masih bisa dilewati KRL juga bisa dianggap dekat. Sebenarnya bukan saya saja yang berpikiran seperti itu, ayah, ibu, dan adik-adik saya mungkin juga seperti itu. Sepertinya pengaruh besarnya adalah ayah saya. Ayah saya itu gemar sekali berjalan jauh. Saat masih muda dulu, sebelum kepala 6 seperti sekarang, ayah saya gemar berjalan kaki pagi-pagi setelah subuh tanpa alas kaki. Biar sehat katanya. Kadang pakai sandal refleksi 😂. Kalau saya sakit, ayah saya selalu berpesan untuk jalan pagi menghirup udara segar dalam-dalam dan mengeluarkannya. Menikmati udara pagi.

Continue reading Jauh Dekat

Asal Usul

Empat mahasiswi tahun pertama di kampus G yang sama-sama memiliki 2 kata pada namanya, AD, YA, WR, dan RN sedang duduk di kantin yang tidak lurus. Mereka sedang menunggu jam pelajaran berikutnya yang akan diadakan di gedung terdekat dengan kantin tersebut. Salah satu dari mereka mencurahkan isi hatinya di tengah waktu tunggu tersebut, kurang lebih seperti ini percakapan mereka:

Continue reading Asal Usul

COVID-19 Test

Saya ingin menceritakan pengalaman saya ikut tes deteksi COVID selama ini. Mungkin sebenarnya sudah banyak yang sudah mengikuti tes Covid ini, baik rapid test antibodi, antigen, maupun PCR. Saya kebetulan sudah mengikuti ketiganya masing-masing satu, masing-masing untuk kebutuhan yang berbeda dengan harga yang tentunya berbeda juga. Sebenarnya pengalaman mengikuti rapid test antibodi sudah pernah saya ceritakan di sini, namun akan saya ceritakan lagi sedikit agar perbandingan kebutuhan saya di masing-masing tes bisa terlihat.

Continue reading COVID-19 Test

Pemimpi Kelas Paus

Di cerita-cerita sebelumnya saya pernah bercerita tentang masa-masa sekolah saya. Selama sekolah, terutama masa SMP dan SMA, saya merasa tidak punya banyak teman karena tidak aktif berorganisasi. Kebetulan juga saya ditempatkan di kelas yang mayoritas siswanya tidak berubah sehingga dari kelas pertama hingga lulus circle saya itu-itu saja. Namun saya beruntung karena saya naik kereta untuk ke sekolah, jadi saya memiliki circle tambahan selain dari teman-teman sekelas. Karena dulu jadwal kereta ke Bogor itu cuma satu yang paling sesuai dengan jam masuk sekolah, jadi pelajar yang bersekolah di Bogor (dan kebanyakan berasal dari Bojonggede) berangkat dengan kereta yang sama. Setiap orang punya tempat menunggu kereta yang sama setiap harinya termasuk saya, jadi saya hafal tempat untuk menemukan teman-teman saya. Saya dan teman-teman saya biasanya menunggu di tengah karena biasanya lebih longgar. Tempat pintu keluar di stasiun Bogor ada di depan dan di belakang, sehingga lebih banyak orang yang naik di kereta paling depan atau belakang. Saya dan teman-teman saya sih santai saja, yang penting keretanya tidak terlambat jadi masih tepat waktu untuk sampai ke sekolah.

Saat SMA saya memiliki semacam geng sendiri. Sebenarnya kalau dinamakan geng seperti terkotak-kotak ya, tapi kenyataannya begitu, haha. Saya memiliki teman yang cukup dekat karena kondisi geografis, alias tempat duduk kami selalu berdekatan. Tidak seperti waktu SMP, saat SMA tempat duduk sangat dibebaskan. Bentuk tempat duduknya wajar juga, tidak seperti SMP yang dibentuk berkelompok dengan letter U. Waktu SMP itu sepertinya awal-awal kurikulum KTSP yang banyak sekali diskusi kelompoknya. Saat SMA, saya hampir duduk di tempat yang sama dengan orang yang sama dan tetangga yang sama hahahaha. Karena sering bersama dan berkelompok bareng, saya, teman sebangku saya, dan teman meja depan dan belakang (Nita, Nisoph, Andin, Arif, Bani) jadi semacam membentuk geng sendiri. Namanya PQR. Kepanjangannya rahasiaaa. Nita teman sebangku saya, Nisoph dan Andin teman di bangku depan, Bani dan Arif teman di bangku belakang.

Continue reading Pemimpi Kelas Paus

Kebaikan

Mungkin teman-teman pernah mendengar hadist ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah.”

(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 2989 dan Muslim, no. 1009]

Saya sering mendengarnya saat mengikuti pengajian, namun yang paling saya ingat adalah bagian kalimat terakhirnya yaitu kita bisa bersedekah dengan menyingkirkan rintangan di jalan. Menyingkirkan rintangan itu bisa dengan memungut dahan atau sampah yang bisa mengganggu jalan. Guru saya sih bilang (seingat saya) salah satu hikmah dari hadist itu adalah melakukan hal baik sekecil apapun tetaplah kebaikan. Kita harus sering berbuat baik karena kita tidak tahu kebaikan mana yang membawa kita ke syurga. Mungkin teman-teman juga pernah mendengar kisah seorang wanita pelacur yang diampuni oleh Allah SWT karena memberi minum seekor anjing. Bahkan saya juga pernah mendengar kisah ahli ibadah yang masuk neraka karena mendahului Allah SWT dengan memberikan vonis kepada seorang pendosa bahwa dia tidak akan masuk syurga.

Sepertinya masyarakat sekitar kosan saya yang sekarang ini memahami hadist ini. Sebenarnya belum tentu juga sih, tapi mungkin karena saya terbiasa di Jakarta yang lebih individualis. Saya jadi merasa orang-orang di sini terlalu baik bahkan mudah mengingat nama orang dari hanya sekali bertemu padahal saya memakai masker dan di pertemuan berikutnya saya memakai baju yang berbeda (atau memang saya terlalu khas ya jadi mudah dikenali). Saya sepertinya sering sekali tidak punya uang receh atau bahkan pernah uangnya kurang karena salah menghitung. Sudah kesekian kalinya akhirnya kekurangan saya diikhlaskan. Kalau tidak ada kembalian juga begitu, yang membuat saya sekarang selalu mempersiapkan uang lebih receh kalau mau membeli sesuatu (tidak semua warung menerima uang digital). Oh iya, kemarin saya sedang mencari tempat memotong kartu SIM dan memang sekarang sedikit sulit menemukan konter pulsa sehingga saya berjalan cukup jauh dari rumah. Saya akhirnya menemukan suatu konter di dekat pasar. Bapak penjaga konternya dengan senang hati memotong kartu saya dengan alatnya bahkan membantu saya yang kesulitan untuk memasangnya, wkwk. Dia tidak meminta uang sepeser pun. Entah memang semua orang baik atau kebetulan saja yang saya temui adalah orang baik.

Saat mengikut MGBTalks 1-2 minggu yang lalu, hadist di atas juga dibahas namun dengan melihat dari arah sebaliknya. Jika memungut sampah di jalan mendapatkan pahala maka jika kita yang menyebabkan sampah itu bisa berarti kita berbuat dosa. Inti dari talks itu adalah untuk mengajak kita untuk lebih sedikit menyampah (less waste). Saya sedikit tertohok karena selama saya di Bandung saya terlalu banyak menggunakan plastik. Saya lupa dengan kebiasaan di Jakarta untuk selalu membawa tote bag sendiri. Peraturan di Jakarta sangat ketat, benar-benar tidak disediakan plastik. Bahkan di pasar tradisional pun begitu. Kalau kita tidak membawa tas sendiri bisa-bisa tidak jadi belanja atau malah berakhir membeli tas lagi yang dijual di sana. Saat awal-awal kebijakan, saya sering lupa membawa tas belanja sehingga saya malah membeli tas belanja lagi di tempat dan menumpuknya. Kalau seperti itu sih tidak jauh beda dengan plastik. Yang penting itu menggunakannya berkali-kali, bukan menggunakan media lain yang karakteristiknya berbeda. Di Bandung itu kebijakan menggunakan plastik itu masih sebatas membayar. Saya pun kembali ke kebiasaan lama saya karena sering terlupa dan plastik masih disediakan. Sekarang Insya Allah tas belanja akan selalu dibawa bersamaan dengan payung dan dompet di dalam tas.

Oh iya pos ini masih dalam rangka 30 hari bercerita. Hampir saja saya melewatkan hari ini haha. Semoga tulisan besok bisa lebih baik, aamiin

2021

Awal tahun pada tahun lalu dan tahun ini memiliki kesamaan yaitu saya tidak pulang ke rumah. Bedanya, awal tahun lalu saya tidak pulang ke rumah karena jalan jalan bersama teman teman, kalau awal tahun ini karena pandemi dan alasan alasan lain. Walaupun tahun ini tidak ada acara khusus dan tidak jalan-jalan seperti tahun lalu, namun saya merasa tahun ini lebih baik. Tahun lalu saya memang menikmati berjalan-jalan bersama teman-teman, namun sayangnya berakhir dengan sakit. Saya demam tinggi dan perlu istirahat hingga liburan berakhir. Saya jadi tidak bisa kemana-mana, dan malah menyusahkan teman saya di Bandung. Dia merawat saya di kosannya hingga saya sembuh.

Tahun ini pun tidak saya lewati sendiri. Ada teman saya yang juga tidak pulang. Kami makan di luar bersama (tempatnya cukup sepi tapi semoga aman) dan juga menceritakan banyak hal. Oh iya, akhirnya saya akhirnya ada teman untuk bermain Air Console. Saat malam tahun baru saya video call dengan teman-teman kampus saya lainnya hingga tengah malam. Walau kami cukup sering video call tapi kami tidak pernah habis bahan pembicaraan haha. Kami bertekad untuk membaca lebih banyak tahun ini dengan mencoba suatu layanan buku digital, wkwk. Semoga istiqomah.

Saya tidak punya resolusi khusus untuk tahun ini. Saya hanya ingin tetap melakukan kebiasaan-kebiasaan baik tahun lalu. Olahraga, memasak, membaca, belajar bahasa, menabung dan menulis. Saya juga ingin menjadi lebih shalihah (?). Tapi malah saya tidak berolahraga di tanggal 1, wkwk.

Ya begitulah tahun ini. Baru 3 hari berlalu dan pandemi masih belum berakhir (yakali virusnya mengerti tanggal). Sebenarnya saya menulis dalam rangka 30 hari bercerita yang sebelumnya saya tulis di IG, tapi saya pindahkan ke blog mulai hari ini karena saya kemarin malah jadi sering buka instagram. Hari kerja sudah tiba dan saya ingin istirahat dulu dari persosialmediaan. Entah bertahan sampai kapan, wkwk. Mungkin besok sudah saya buka lagi 🤣🤣🤣. Semangat lebih baik lagi tahun ini!!!

Desember Lalu

Sama seperti Desember tahun lalu, akhir tahun kantor sepi karena banyak teman-teman kantor yang mengambil cuti. Walau sekarang tidak terasa karena bekerja dari rumah, tapi masih terlihat dari jumlah orang yang ikut stand up call pagi harinya. Yang biasanya sampai ratusan, tadi pagi hanya sekitar 60 orang. Anggota tim saya sendiri bisa dihitung dengan jari. Memang sih hanya diperlukan 6 hari cuti untuk mendapatkan libur selama 2 minggu. Apalagi selama wfh kebanyakan orang tidak menggunakan cutinya karena tidak bisa dipakai kemana-mana. Jadi memang saat yang tepat untuk memakai cuti sebelum hangus tahun depan.

Saya sebagai outlier tentunya tidak merasakan hal yang sama, haha. Cuti saya sudah habis untuk mengurus urusan rumah sakit dan saya yang cenderung butuh libur saat wfh. Saya pun butuh kontrol gigi yang jadwalnya sulit sekali ditemukan di weekend. Jaraknya cukup jauh sehingga saya butuh setengah hari cuti setiap kontrol. Untungnya selama pandemi ini saya tidak kontrol setiap bulan. Walau sering mengambil cuti, untungnya cuti saya tidak minus, haha. Kantor saya cukup fleksibel sehingga bisa menghutang cuti jika dibutuhkan. Walaupun bisa, saya tidak mengambil cuti karena saya malah butuh bekerja untuk mengisi waktu.

Saya tidak mudik juga pada liburan kali ini. Sebenarnya kalau pulang masih bisa wfh sih, jadi bahkan tidak perlu cuti sebenarnya. Namun saya masih ragu untuk pulang. Rumah saya tidak terlalu besar sehingga saya tidak bisa isolasi mandiri dulu selama dua minggu. Saya tidak membawa kendaraan sendiri, bahkan perlu naik kereta, KRL atau grab yang harus bertemu orang sehingga bisa mudah terekspos. Saya terkadang merasa apakah saya yang terlalu hati-hati atau malas ya. Covid test pun ditanggung kantor sebenarnya jadi bukan masalah uang. Saya benar-benar takut jika saya yang menularkan virus ke orang tua saya, apalagi saya masih butuh keluar rumah. Bisa menyalahkan diri sendiri seumur hidup. Jadi saya putuskan untuk tidak pulang, semoga tidak dicap anak durhaka. (semoga) Saya tidak menjudge orang-orang yang memilih untuk mudik, mereka pasti punya alasan sendiri dan mungkin lebih tahu untuk menjaga diri dan keluarga mereka sendiri. Mungkin juga jika sendirian di liburan ini akan lebih menyakitkan dibanding covid itu sendiri. Itu pilihan masing-masing orang.

Oh iya juga, pada Desember tahun lalu, seakan seperti teaser tahun 2020, beberapa hal membuat saya patah hati dan semangat hidup menurun. Saya diberitahu oleh Pak Kabag bahwa saya perlu melakukan PIP (performance improvement plan) karena performance tahun lalu yang buruk. PIP dilakukan pada bulan Januari yang membuat liburan saya kurang tenang haha. Saya perlu membaca buku buku teknikal pada saat liburan untuk mengejar ketertinggalan saya. Mungkin karena pikiran yang sedang kacau, badan saya pun ikut lemah kala itu. Saya juga mendapatkan hasil tes biopsi dari leher saya pada masa-masa itu. Saya masih ingat saya membuka surat hasil lab di tengah-ruang tunggu rumah sakit. Isi surat itu menyatakan jaringan yang diuji adalah jaringan yang memiliki sel yang ganas. Di umur 26 yang menurut saya masih muda, saya menderita kanker tiroid papiler. Saat itu saya memendam hasil itu sendiri. Saya belum menceritakannya ke orang tua ataupun teman saya. Saya cuma ingin menikmati liburan bersama teman-teman saya di akhir tahun.

Akhir tahun lalu saya ke Bandung bersama teman kampus saya untuk liburan bersama. Kami menyewa satu kamar apartemen di Braga City Walk untuk 4 orang. Saya, Rindy, Ami, dan Mba Wid. Dua hari sebelumnya sebenarnya saya sakit, namun saya tetap ikut, mungkin kalau sekarang mah tidak boleh ya haha. Kami menghabiskan hari terakhir di tahun itu untuk melihat-lihat Braga dan sekitarnya. Malamnya ternyata ada semacam festival di dekat alun-alun, ada beberapa wahana dan tentu saja tempat makan untuk kulineran.Oh iya, sorenya saya kehujanan dan malamnya saya tidak memakai jaket. Jadilah besoknya saya demam tinggi dan batuk hingga saya ke IGD karena tidak ada dokter rawat jalan. Awal tahun sudah ke dokter XD. Kalau sekarang mungkin sudah curiga covid.

Tahun ini saya akan menghabiskan akhir tahun di Bandung lagi, tapi bukan dalam rangka berlibur. Akhir tahun ini saya perlu banyak bersyukur karena tidak seperti tahun lalu, saya tidak mendapatkan surat PIP lagi XD. Alhamdulillah saya juga sudah sembuh dan saya tidak sering sakit. Saya jadi semangat berolahraga agar tetap sehat dan tidak overweight wkwk. Saya rasa kelebihan berat badan membuat saya mudah terserang penyakit dan juga malas. Tidak harus sekurus artis-artis Korea, normal saja saya sudah cukup. Olahraga ternyata menyenangkan kalau kita bersemangat. Benar kata kolega saya, melakukan sesuatu mau dilakukan dengan semangat atau tidak membutuhkan energi yang sama, namun menghasilkan output yang berbeda. Insya Allah yang dilakukan dengan bersemangat hasilnya akan lebih baik. Semangat!!!

Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja

Salah satu teman saya mengadakan semacam kegiatan akhir tahun untuk membaca satu buku satu hari. Dia memiliki klub buku yang sebelumnya pernah saya ikuti (Midnight Reading Club ), namun belakangan saya tidak bisa ikut karena selama dua bulan terakhir ini saya tidur tidak lebih dari jam 10 malam, sedangkan klub baca bareng ini dimulai pukul 10 malam. Teman saya ini aktif di twitter dan saat saya melihat kampanye membaca satu buku satu hari dari tanggal 25 Desember hingga 1 Januari ini, saya tertarik untuk ikut. Namun saya tidak memberitahunya ataupun ikut grupnya karena saya pun tidak yakin saya bisa menyelesaikan satu buku dalam sehari. Ada beberapa buku yang ingin saya baca, namun bukunya tebal-tebal dan sebagiannya bukan buku fiksi sehingga saya perlu waktu lebih lama untuk membacanya.

Buku pertama yang saya baca hari ini adalah buku karya Dancing Snail (sepertinya sih nama samaran ya) yang berjudul “Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja”. Buku terjemahan dari Korea Selatan kalau saya lihat dari detil buku di halaman depan. Sebenarnya ini buku Mba Wid yang dipinjamkan kepada saya saat berkunjung ke rumahnya dua bulan lalu. Saat itu kami wfh bersama di rumahnya karena akan ke Bandung menggunakan mobil Mba Wid pada sore harinya. Awalnya Mba Wid mengira buku ini menceritakan atau membahas energy saving mode karena Mba Wid ini memang orang yang suka dengan efisiensi energi hahaha. Ternyata buku ini adalah buku pengembangan diri yang didalamnya berisi ilustrasi-ilustrasi dan kiat menghadapi pikiran-pikiran negatif yang membuat kita kelelahan, khawatir berlebihan. depresi dan jadi malas melakukan apa-apa. Saya memang pernah di posisi seperti itu, mood berantakan, malas melakukan hal produktif, menyalahkan diri sendiri, tiadk percaya masa depan dll. Mungkin Mba Wid sudah lelah dengan curhatan saya sehingga saya diminta baca buku ini XD.

Sudah izin diberi label oleh pemilik. Banyak bagian yang saya suka jadi banyak yang ditandai.

Saya tidak langsung membaca buku setelah itu karena saya sedang tidak mood untuk membaca buku pengembangan pribadi. Saya sempat membaca beberapa halaman dan saya kurang tertarik karena bagian-bagian awalnya kurang relate dengan saya. Penulis membahas pikiran-pikiran negatif di awal sebelum membahas cara menghadapinya, karena di awalnya kurang relate dengan masalah saya, saya jadi takut menambah pikiran negatif baru. Intinya saya memang sedang malas membaca buku yang membahas pikiran negatif, depresi, dan semacamnya saat itu jadi saya simpan untuk nanti. Saat saya mulai. membacanya lagi hari ini, dengan pikiran dan hati yang sudah tenang, ternyata buku ini menarik. Penulisnya memberikan tips tanpa menggurui dengan menceritakan pengalaman dia pribadi. Buku ini mengajak kita untuk memaklumi diri kita sendiri saat kita sedang down dan malas untuk melakukan hal yang produktif. Terkadang saya terjebak dengan pikiran saya sendiri, bertanya-tanya mengenai kelemahan diri sendiri, membandingkan dengan orang lain dan kemudian cemas apakah saya bisa sukses. Kecemasan itu bukannya membuat saya lebih termotivasi malah semakin lemah Di buku itu tertulis begini:

Hidupku terasa lebih baik setelah aku tidak lagi berpikir bahwa hidupku harus selalu indah. Dengan adanya sikap menerima segala hal yang ada dengan tulus, setiap usaha yang dilakukan tidak lagi terasa sebagai keterpaksaan tapi menjadi sebuah proses untuk mencintai diriku sendiri. Tentu saja di awal aku banyak marah dan kesal atas ketidakadilan di muka bumi ini. Tapi, jika mencoba hal itu dan terus melakukannya, pada suatu saat kita akan bisa menerima diri kita apa adanya, serta akan datang hari tanpa penyesalan atas segala usaha yang kita lakukan. Dengan menanamkan pikiran sederhana layaknya ‘lakukan saja semampu dirimu’, maka kita sudah bisa untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Keunggulan yang kita miliki akan bisa terlihat jika kita berani mengejar hal-hal yang baik.

hal 51

Di dunia ini tidak hanya penuh dengan kecemasan. Debaran hati, rasa penasaran, atau keseruan tidak akan bisa dirasakan begitu saja hanya dengan membayangkannya. Hanyalah orang yang melemparkan kehidupannya ke dalam laut sambil menghayati rasa takut yang muncul yang bisa mengerti bagaimana cara bermain dengan ombak.

hal 125

Karena sekarang suasana hati saya sedang baik jadi baca yang bagian negatifnya itu tidak membuat pikiran atau hati saya berat haha. Ilustrasinya juga lucu di beberapa bagian, tidak semua berbentuk tulisan sehingga tidak membosankan . Selanjutnya saya mau membaca buku yang sudah lama saya belum selesaikan juga tapi bukan buku pengembangan diri. Semoga saya bisa memberikan review bukunya di tulisan berikutnya dengan lebih baik, aamiin.

Kabar-kabar

Minggu lalu saat saya di tengah-tengah bekerja, saya dihubungi oleh beberapa orang yang jarang menghubungi saya. Salah satunya dari HR. Menurut saya HR itu seperti guru BK di SMA, yang kalau dipanggil HR itu konotasinya seperti siswa yang bermasalah, wkwk. Padahal sebenarnya tidak juga, bisa saja karena ada administrasi yang kurang. Karena ini akhir tahun dan merupakan masa-masa penilaian, jadi saya kira ada sesuatu dengan performance saya tahun ini dan saya harus ikut performance improvement plan. Setelah menerima video call melalui Google Meet, ternyata prasangka saya salah. Saya diajak untuk mengikuti kepanitiaan suatu acara di kantor. Saya sebelumnya jadi panitia ulang tahun kantor beberapa bulan lalu. Apakah ini pertanda kantor senang saya membuat tebak-tebakan lagi wkwkkwkw.

Masih di hari yang sama, salah satu kolega saya, admin divisi Engineering, memberikan pesan di Google Chat. Saya deg-degan juga karena minggu sebelumnya saya ditegur karena lupa mengisi form kesehatan yang perlu diisi tiap minggu. Seingat saya sih saya sudah mengisi. Jarak waktu antara kalimat menyapa dan kalimat penjelasan cukup lama sehingga saya jadi menduga-duga cukup lama. Ternyata saya diberi tugas untuk jadi host Stand Up Engineering di hari kerja berikutnya. Alhamdulillah bukan kabar buruk XD, pelajaran untuk saya ke depannya agar tidak overthinking dulu, wkwk.

Sementara saya berpikir negatif tentang kejadian di hari itu, pesan di salah satu WA group saya sedang ramai dan saya cukup banyak di-mention di grup itu. Ada apa ini. Ternyata saya masuk 10 pelari wanita tercepat di kategori R10 ITB-UM. Saya sebenarnya bingung karena saya tidak mengupload aktivitas dengan heart rate, jadi tidak mengekspektasi akan dimasukkan ke dalam podium. Bagi yang membaca pos saya sebelumnya pasti tahu mengapa saya ragu, haha. Saya sebenarnya sudah tahu sih karena di sertifikatnya ada peringkatnya, namun saya tidak menyangka akan ada award khusus pelari dengan spesifik gender dan bahkan ada acara penganugerahannya juga wkwk. Saya sih akhirnya ikut acaranya dan ternyata ada permainan Kahoot sebelum acara yang isinya pertanyaan seputar ITB dan Bandung. Salah satu pertanyaannya mengenai Tahura yang membuat saya mengunjunginya di hari esoknya. Selama saya kuliah di Bandung, saya belum pernah mengunjungi Tahura walau cukup dekat. Oh iya, Tangkuban Perahu pun saya belum pernah ke sana wkwk. Jalan kaki ke Tahura dari kosan saya masih sanggup, tapi kayaknya kalau ke Tangkuban Perahu belum sanggup. Jalan kaki ke Tahura dari Pasteur dan kembali ke kampus cukup membuat telapak kaki saya panas. Saat acara awardnya serunya melihat video yang ditampilkan dan juga ada ucapan khusus bagi angkatan yang tahun ini merayakan anniversary (kelipatan 5 dimulai dari 10 tahun). Saya diingatkan lagi kalau sudah 10 tahun berlalu dari saya masuk kuliah. Sudah tuaaaa, haha.

Screenshot dari rekaman di Youtube XD

Itulah kabar-kabar baik-buruk yang terjadi seminggu ke belakang. Saya sudah tidak masuk 10 besar peringkat Mamah Gajah berlari di kategori manapun. Padahal total durasi olahraga saya sudah meningkat lagi satu jam dari minggu berikutnya. Memang sih lulusan kampus ini memang sangat kompetitif XD. Oh iya satu lagi, saya sudah tidak perlu kontrol after surgery ke dokter sebulan sekali lagi. Saya akhirnya menemukan dokter yang tepat yang tidak mengharuskan saya untuk kontrol setiap bulan. Dokter idola yang sebenarnya sudah saya cari dari bulan pertama di Bandung, tapi baru bisa bertemu minggu ini. Semoga ke depannya kita semua sehat selalu ya. Selamat liburan!

P.S: Oh iya di acara award kemarin saya jadi menemukan satu lagu lagi untuk dimasukkan ke playlist lari saya. Judulnya Terus Berlari dari Nicky Astria. Lagu lama yang liriknya cukup bikin semangat hidup saat lari XD. Bagi yang mau dengar bisa didengar di sini:

Merasa Muda

Hari ini internet di kosan lambat sekali. Saat saya sedang berbicara di online meeting hari ini, saya perlu mengulang berbicara berkali kali karena menurut teman saya suara saya putus-putus. Saya akhirnya harus menulis di kolom chat untuk menjelaskan apa yang saya maksud. Saat internet sedang lambat seperti ini, menghubungkan koneksi ke VPN kantor pun sulit sedangkan saya perlu pull rebase kode terbaru dari repo dan juga commit dan push kode yang akan saya kerjakan yang perlu menggunakan VPN. Saya pun memutuskan untuk WFH di luar kosan, ke tempat yang sebelumnya saya sudah pernah ke sana dan internetnya sudah teruji cepat. Kelebihan lainnya, tempat itu pun sepi dan ventilasinya bagus sehingga menurut saya cukup aman. Hampir seharian saya di sana, pengunjung bisa dihitung jari dan tidak ada yang duduk di dekat saya. Semoga saya, pegawai tempat tersebut, dan pengunjung lainnya sehat-sehat selalu.

Alhamdulillah internet lancar jaya, namun saya memiliki masalah saat build aplikasi menggunakan Xcode. Lama sekali hingga kursor pelangi berputar-putar sering sekali muncul setiap mau mengubah elemen antarmuka. Ternyata saya membuka banyak tab di Chrome. Saya coba untuk menyalakan ulang laptop dan tidak membuka aplikasi-aplikasi lain (saya bahkan tidak menyalakan musik kalau sedang mode mengubah UI seperti ini) dan Alhamdulillah sedikit membaik. Memang restart itu solusi termudah untuk dilakukan wkwkwk. Saya memang perlu membersihkan cache dan juga data-data yang membuat storage laptop saya penuh. Saya juga akan mencoba browser lain yang lebih ringan.

Hari ini saya merasa seperti kembali ke masa kuliah lagi. Alasannya sebenarnya karena saya dikira sedang mengerjakan tugas kuliah oleh salah satu pegawai di sana. Saat saya bilang sedang bekerja malah terlihat tidak percaya, wkwk. Padahal saya sedang menggunakan kemeja rapi haha. Mungkin karena lingkungan di sini lebih banyak orang kuliah mungkin ya, tidak seperti di sekitar kosan saya di Jakarta yang mayoritas orang pekerja. Saya lebih sering dipanggil Ibu bahkan pernah dibilang Bunda,ckckck. Selain karena dikira masih kuliah, setelah pulang dari sana saya mengunjungi suatu mal yang sering saya kunjungi bersama Ammy dan Atika kalau sudah selesai mengerjakan tugas kelompok atau selesai ujian. Kami dulu senang bermain DDR untuk melepaskan penat setelah ujian atau mengerjakan tubes bersama. Sayang sekali, saat saya lewat tadi, tempat bermainnya tutup. Wajar sih, sedang pandemi begini belum aman untuk tempat permainan seperti itu. Oh iya, saya ke mal cuma sebentar untuk membeli sepatu olahraga yang sedang diskon besar, wkwkk. Akhirnya saya beli juga setelah berhari-hari memikirkannya. Saya kemarin sempat berbangga saya tidak ikut harbolnas, namun setelah beberapa kali saya lari dan telapak kaki saya semakin sakit, mungkin sudah saatnya membeli sepatu baru *alasan* hihihi.

Ngomong-ngomong olahraga, leaderboard MGBChallenge untuk minggu kemarin sudah keluar. Saya masih belum bisa menembus 10 besar untuk durasi olahraga total. Padahal durasi olahraga saya minggu ini sudah naik menjadi 10 jam dari sebelumnya 9 jam, namun memang belum sebanding dengan peserta lain. Saya pun sudah tersingkir dari 10 besar kategori bersepeda, hiks, karena memang minggu kemarin cuma satu kali saya bersepeda. Kabar baiknya, saya masuk 10 besar untuk kategori berlari 🥳 Alhamdulillah.

Saya jadi pamer ya, wkwkwk. Niatnya supaya semangat olahraga lagi, aamiin. Supaya bisa tetap sehat dan bugar (bulat(?) dan segar). Kalau kata bapak dosen di CodeRunner, dari O jadi I, haha. Doakan supaya berat badan kembali ke masa kuliah lagi dan sehat selalu, aamiin.